Cerita Pendek
Bayang Intrik di Kota Agung
Surabaya,JatimUPdate.id - Langit Kota Agung kelabu, awan tebal menyelimuti bulan yang merangkak menuju purnama. Di halaman kecil di belakang rumah sederhana Raden Suryo, seorang kesatria senior Majelis Ksatria Kerajaan Nusantara, pedang pusaka peninggalan ayahnya bersandar di dinding bambu.
Angin malam membawa aroma kemenyan dari kuil tetangga, namun hati Suryo dipenuhi kegelisahan. Ia telah bersumpah di depan altar leluhur, jika tak diizinkan menghadap Ratu Mahadewi untuk mengungkap pengkhianatan di istana, nyawanya akan ia korbankan pada Hari Purnama Besar, tiga hari lagi.
Baca Juga: Analisis Lirik “Tangguh” Kobe: Semangat Perlawanan dari Jiwa yang Tak Mau Tumbang
“Demi darah leluhur, kebenaran harus sampai kepada Baginda Ratu,” gumamnya, suaranya berat, seolah menahan beban sebuah kerajaan.
Konflik ini berakar tiga musim silam, saat Patih Wiranegara, penasihat istana yang baru pulang dari ziarah ke Kuil Suci, mengundang Suryo ke paviliunnya yang megah. Di bawah lampu tembaga yang memantulkan bayang-bayang, Wiranegara berbicara dengan senyum licik.
“Raden Suryo, kau kesatria terhormat. Dukung aku sebagai Kepala Majelis Kesatria, dan putraku akan kujadikan penasihat utama. Kita akan mengatur kerajaan ini bersama.”
Suryo menolak dengan tegas, matanya menyala. “Kesatria hidup untuk keadilan, bukan untuk kursi kekuasaan. Aku setia pada Ratu Mahadewi dan kode leluhur.”
Wiranegara tertawa dingin. “Kau akan menyesal, Suryo. Aku akan memastikan namamu tercoreng di seluruh Kota Agung.”
Sejak itu, fitnah menyebar seperti racun di sungai. Laporan palsu menuduh Suryo mencuri pajak desa, menjual rahasia kerajaan, bahkan berkhianat dengan adipati di perbatasan. Kesatria-kesatria desa, yang selama ini setia pada Suryo, diintimidasi oleh utusan Wiranegara.
Mereka dipaksa menandatangani surat dukungan untuk Wiranegara atau menghadapi ancaman pengusiran dari tanah mereka.
Suryo mendengar keluh kesah mereka di pasar, di bawah bayang-bayang pohon beringin, tempat para petani berbisik tentang ketakutan mereka.
Di rumah kecilnya, Suryo duduk bersama Sari, adiknya yang berusia sembilan belas tahun, dan ibunya yang terbaring sakit. Sari, dengan rambut dikuncir sederhana dan mata penuh kekhawatiran, memohon.
“Kakang, kau tidak harus melawan mereka sendirian. Wiranegara punya kekuatan ia didukung patih-patih besar seperti Danusastra dan lainnya. Jika kau mati, apa artinya kebenaran itu bagi kami?”
Suryo memandang pedang pusakanya, yang diukir dengan lambang garuda, simbol keberanian leluhurnya.
“Sari, jika aku diam, kerajaan ini akan jatuh ke tangan pengkhianat. Aku punya bukti, surat-surat rahasia Wiranegara dengan adipati pemberontak. Jika aku gagal, Raden Jatmiko akan membawanya ke istana.”
Sari menangis, memegang lengan kakaknya. “Kakang, Ibu hanya punya kita. Aku tak bisa kehilanganmu.”
Suryo memeluk adiknya, hatinya terasa remuk. Ia teringat janji ayahnya sebelum wafat: “Jaga kebenaran, Suryo, meski dunia menentangmu.” Namun, melihat Sari yang gemetar, ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah kebenaran sepadan dengan air mata keluarganya?
Dua hari sebelum Hari Purnama Besar, Suryo menyamar sebagai pedagang kain di pasar malam Kota Agung. Di tengah aroma rempah dan suara gamelan, ia bertemu Ki Ageng Wulung, tabib tua yang pernah menyelamatkannya di medan perang.
Ki Ageng menyerahkan gulungan kain berisi pesan dari seorang penjaga istana yang masih setia. “Ratu akan mengadakan sidang terbuka di Hari Purnama Besar,” kata tabib itu.
“Tapi Wiranegara telah menyuap penjaga gerbang. Mereka diperintahkan membunuhmu begitu kau mendekati istana.”
Suryo mengangguk, tangannya mencengkeram erat kain yang berisi dokumen rahasia. “Jika darahku harus tumpah, biarlah itu menjadi pengingat bagi mereka yang lupa akan kehormatan.”
Malam itu, ia bertemu Raden Jatmiko di kuil kecil di pinggir hutan. Jatmiko, dengan jubah sederhana dan pedang pendek di pinggang, bersumpah akan mendampingi Suryo. “Aku tahu risikonya, Raden. Tapi aku percaya padamu. Kita akan hadapi ini bersama.”
Namun, rintangan baru muncul. Salah satu kesatria desa, yang Suryo percaya setia, ternyata telah dibujuk Wiranegara. Ia mengkhianati Suryo, memberitahu utusan Wiranegara tentang rencana Suryo menghadap Ratu.
Baca Juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian III
Malam itu, sekelompok pedang bayaran menyerang Suryo dan Jatmiko di hutan. Dalam pertarungan sengit di bawah cahaya obor, Suryo mengalahkan mereka, namun luka di bahunya mengucurkan darah.
Jatmiko, yang juga terluka, memohon agar Suryo mundur, tetapi Suryo menolak. “Kita teruskan, Jatmiko. Waktu hampir habis.”
***
Pagi Hari Purnama Besar, Kota Agung dipenuhi aroma bunga kamboja dan suara genderang upacara. Rakyat berkumpul di halaman Istana Bunga Teratai, menanti sidang terbuka Ratu Mahadewi.
Suryo, mengenakan jubah kesatria merah darah dengan lambang garuda, melangkah menuju gerbang utama, didampingi Jatmiko yang membawa dokumen rahasia. Luka di bahunya masih perih, tetapi tekatnya tak goyah.
Di gerbang, empat pedang bayaran Wiranegara menghadang. “Kembalilah, Raden Suryo, atau nyawamu berakhir di sini!” bentak pemimpin mereka, seorang pria bertubuh besar dengan parut di wajahnya.
Suryo menarik pedang pusakanya, kilau baja memantulkan sinar bulan yang kini terlihat di langit senja. “Aku datang untuk kebenaran, bukan untuk darah. Mundur, atau kalian yang akan menyesal.”
Pertarungan singkat namun brutal terjadi. Suryo, dengan keahlian bertahun-tahun, mengalahkan mereka, meski darah kini mengalir dari luka baru di lengannya.
Jatmiko membantu, menahan satu penjaga agar Suryo bisa masuk. Rakyat yang menyaksikan dari kejauhan berbisik, beberapa bersorak pelan, terpukau oleh keberanian Suryo.
Di aula besar istana, Ratu Mahadewi duduk di singgasana yang dihiasi ukiran naga emas. Patih Wiranegara, Patih Danusastra, Patih Kasmoyo, dan dua bangsawan senior, Patih Rano dan Patih Arma, berdiri di sisinya, wajah mereka penuh percaya diri.
Wiranegara sedang mempresentasikan tuduhan terhadap Suryo, menyebutnya pengkhianat yang mencuri harta kerajaan.
Baca Juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian II
Namun, ketika Suryo masuk, aula menjadi hening. Darah menetes dari lengannya, tetapi ia berdiri tegak.
“Baginda Ratu,” suaranya bergema, “saya bukan pengkhianat. Patih Wiranegara dan sekutunya merencanakan pemberontakan. Ini buktinya.” Ia memberi isyarat kepada Jatmiko, yang maju dengan gulungan dokumen.
Wiranegara tertawa, namun suaranya gemetar. “Fitnah dari kesatria yang putus asa! Baginda, jangan dengarkan dia!”
Ratu Mahadewi mengangkat tangan, meminta dokumen itu diperiksa. Seorang juru tulis membaca surat-surat rahasia itu, yang mengungkap korespondensi Wiranegara dengan adipati pemberontak, lengkap dengan cap mohor dan rencana untuk menggulingkan Ratu.
Wajah Wiranegara memucat, dan para patih sekutunya saling pandang dengan cemas.
Tiba-tiba, Patih Arma, yang selama ini diam, menarik keris dan menerjang Suryo, berniat membungkamnya. “Kau tidak akan hidup untuk melihat kami jatuh!” teriaknya.
Suryo, meski lemah karena luka, menangkis serangan itu dengan pedangnya. Dalam pergumulan singkat, Jatmiko melompat membantu, menahan Arma hingga penjaga istana menangkapnya.
Ratu Mahadewi berdiri, suaranya mengguncang aula. “Raden Suryo, kesetiaanmu telah menyelamatkan Kerajaan Nusantara. Patih Wiranegara dan sekutunya akan diadili. Kembalilah ke Majelis Kesatria dengan kehormatan penuh.”
Suryo berlutut, napasnya tersengal, namun wajahnya dipenuhi kelegaan. Di luar istana, rakyat bersorak, dan Jatmiko memeluknya erat. Malam itu, di bawah purnama yang bersinar terang, Suryo pulang ke rumah kecilnya. Sari berlari memeluknya, air mata kebahagiaan mengalir di wajahnya.
“Demi leluhur, Kakang, kau pulang,” bisik Sari. Suryo tersenyum, memandang bulan purnama. “Dan kebenaran telah menang.”
Namun, di hatinya, ia tahu perjuangan belum usai. Selama ambisi masih mengintai di balik dinding istana, pedangnya harus tetap terhunus.
Editor : Ibrahim