Pemerintah Donald Trump Hentikan Operasi Kantor Berita VOA

Karyawan dan Jurnalis Voice of America (VOA) Tetap Berjuang Untuk Bisa Beraktivitas Kembali

Reporter : -
Karyawan dan Jurnalis Voice of America (VOA) Tetap Berjuang Untuk Bisa Beraktivitas Kembali
Sejumlah foto-foto yang berisi bagaimana para karyawan VOA tengah berjuang untuk bisa kembali eksis memberikan kembali informasi ke publik dunia.

Jakarta, JatimUPdate.id : Kabar mengejutkan datang dari dunia penyiaran internasional. Voice of America (VOA), lembaga penyiaran milik pemerintah Amerika Serikat (AS) yang berdiri sejak 1942, dikabarkan menghentikan siarannya dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap ribuan pegawainya.

Sejak Sabtu (15/3/2025), suasana duka menyelimuti kantor pusat VOA. Sebanyak 1.300 pegawai, termasuk sekitar 1.000 jurnalis, menerima surat PHK.

Baca Juga: Board of Peace dan Logika Gus Baha’

Untuk pertama kalinya dalam 83 tahun sejarahnya, VOA tak lagi mengudara menyampaikan berita ke publik dunia.

Momen perpisahan itu mencuat ke publik lewat unggahan jurnalis senior VOA, Eva Mazrieva. Ia membagikan video ketika para pegawai diberi waktu hanya satu jam untuk mengosongkan meja kerja.

“Setelah 157 hari dirumahkan, hari ini kami diberi waktu satu jam untuk mengambil barang. End of Us? #savevoa,” tulis Eva dalam unggahan yang langsung viral dan memantik simpati ribuan warganet di berbagai negara.

Trump Bekukan Lembaga Penyiaran Global

Langkah ini berakar pada keputusan Presiden AS Donald Trump yang meneken perintah eksekutif untuk membekukan US Agency for Global Media (USAGM), badan induk VOA.

Menurut Gedung Putih, lembaga penyiaran internasional AS seperti VOA, Radio Free Europe/Radio Liberty, dan Radio Free Asia sudah “tidak diperlukan lagi.”

Trump menilai pembayar pajak Amerika tidak seharusnya menanggung beban apa yang disebutnya “propaganda radikal.”

Kebijakan itu segera dijalankan oleh Kari Lake, loyalis Trump yang ditunjuk memimpin USAGM. Imbasnya, seluruh dana hibah federal untuk penyiaran global dihentikan.

Kritik Mengalir dari Dalam dan Luar Negeri

Keputusan kontroversial ini menuai kritik tajam. Direktur VOA, Michael Abramowitz, yang turut terkena PHK, menegaskan kebijakan itu memutus misi vital VOA untuk 360 juta pendengar mingguan dalam 48 bahasa.

Baca Juga: Kasasi Manajemen Ditolak, MA Hukum CNN Indonesia Bayar Setengah Miliar Rupiah ke Pekerja

Pimpinan Radio Free Europe bahkan menyebut langkah Trump sebagai “hadiah besar bagi Rusia, China, dan para otokrat dunia.”

Organisasi kebebasan pers Reporters Without Borders (RSF) menilai pembubaran VOA sebagai ancaman serius terhadap kebebasan pers global.

Di dalam negeri, sejumlah anggota Kongres dari Partai Demokrat, seperti Gregory Meeks dan Lois Frankel, mengecam keras.

Mereka menyebut kebijakan Trump berpotensi merusak upaya diplomasi informasi yang telah dijalankan AS sejak era Perang Dunia II.

Masa Depan VOA Masih Abu-abu

Meski siaran telah berhenti dan gedung VOA dikosongkan, sejumlah pakar menilai keputusan tersebut belum final secara hukum.

Baca Juga: Doktrin (Neo) Monroe: Maduro: BRICS, Rusia, China dan Iran

Sebab, urusan anggaran penyiaran sejatinya berada di bawah kewenangan Kongres, bukan hanya presiden.

Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Kantor VOA kosong. Para jurnalis pulang dengan mata berkaca-kaca. Dunia pun kehilangan salah satu corong berita global tertua dan paling berpengaruh.

Kini publik bertanya-tanya: apakah ini benar-benar akhir dari Voice of America? Ataukah sekadar jeda dalam konflik politik yang kian panas di Washington?
Hingga kini, jawabannya masih menggantung.

Catatan Redaksi JatimUPdate.id

Berita ini merupakan rangkuman dari berbagai sumber yang dimuat oleh redaksi JatimUPdate.id setelah memantau beberapa grup medsos dan upaya sejumlah jurnalis VOA guna mencoba untuk kembali beraktivitas dengan menggunakan upaya hukum dan legal formal lainnya yang kini tengah di tempuh di Amerika Serikat.

Publik dunia tentunya akan sangat bergembira bila Kantor Berita VOA tersebut bisa kembali beraktivitas memberikan informasi.  Semoga segera ada jalan win-win solution sesuai harapan publik. (ries/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat