Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 13/05/2026
Trump Style, Teriakan Terakhir Hegemoni AS?
Oleh Abdul Rohman Sukardi
Pengamat Sosial Dan Politik
Jakarta, JatimUPdate.id - Kemunculan Donald Trump dengan segala kontroversinya bukan sekadar anomali politik Amerika.
Ia adalah gejala zaman. Lahir dari kegelisahan sebuah negara adidaya yang mulai menyadari bahwa dominasi absolutnya atas dunia tidak lagi tak terbantahkan.
Selama puluhan tahun pasca- Cold War, Amerika Serikat berdiri sebagai hegemon tunggal dunia. Washington mengendalikan arsitektur global.
Dolar menjadi pusat keuangan internasional dengan porsi sekitar 58–60�dangan devisa global. NATO mengamankan pengaruh militer Barat. Silicon Valley memimpin teknologi. Budaya Amerika mendominasi imajinasi global.
Pada periode ini, AS menyumbang sekitar 25% GDP dunia nominal. Dunia bergerak dalam bayang-bayang “Pax Americana”.
Namun sejarah menunjukkan, tidak ada hegemoni yang abadi.
Abad ke-21 membawa perubahan besar. China bangkit menjadi raksasa ekonomi dengan kontribusi sekitar 18–19% GDP global (PPP) dan mendominasi lebih dari 30% manufaktur dunia. India tumbuh sebagai kekuatan demografi dan digital dengan GDP lebih dari 3 triliun dolar.
Asia perlahan menjadi pusat manufaktur, perdagangan, dan pertumbuhan dunia. Pada saat yang sama, globalisasi yang dulu dipromosikan Amerika justru memukul kelas pekerja domestiknya.
Sejak 2000, AS kehilangan sekitar 5–7 juta pekerjaan manufaktur. Defisit perdagangan tahunan berkisar 800 miliar hingga 1 triliun dolar.
Di tengah situasi itu, Trump hadir membawa slogan sederhana tetapi sangat emosional. “Make America Great Again.”
Slogan itu sesungguhnya bukan tentang masa depan. Ia adalah nostalgia. Kerinduan terhadap era ketika Amerika menjadi pusat dunia tanpa pesaing berarti.
Karena itu, gaya politik Trump penuh nada restorasi. Proteksionisme, perang dagang dengan China bernilai ratusan miliar dolar melalui tarif.
Anti-imigrasi, skeptisisme terhadap lembaga internasional seperti North Atlantic Treaty Organization. Hingga tekanan terhadap sekutu sendiri.
Dalam perspektif teori hegemoni (Gramscian maupun “hegemonic stability theory”), fase ketika dominasi mulai terancam sering ditandai menguatnya nasionalisme dan politik defensif. Negara hegemon berusaha mempertahankan struktur lama ketika distribusi kekuatan global mulai bergeser.
Dalam sejarah, pola seperti ini bukan hal baru. Ketika hegemon mulai menghadapi tantangan, nasionalisme biasanya mengeras. British Empire mengalami penyesuaian serupa saat dominasi industrinya digeser. Roman Empire menunjukkan gejala overstretch saat tekanan eksternal dan internal meningkat.
Namun menyebut Trump sebagai “teriakan terakhir” hegemoni Amerika mungkin terlalu dini. Amerika masih menyumbang sekitar 24% GDP global. Menguasai lebih 40% kapitalisasi pasar teknologi global.
AS memiliki anggaran militer sekitar 900 miliar dolar per tahun. Terbesar di dunia.
Trump, dengan segala kontroversinya, lebih tepat dibaca sebagai simbol transisi. Pada saat Amerika menyadari bahwa abad ini bukan lagi miliknya sepenuhnya. Melainkan dunia yang bergerak menuju tatanan multipolar.
Jakarta, ARS ([email protected]). Eskponen aktivis 98. Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.
Editor : Redaksi