Efek Perang Rusia- Ukraina, Peternak Tidak Dapat Menikmati Kenaikan Harga Telur

oleh : -
Efek Perang Rusia- Ukraina, Peternak Tidak Dapat Menikmati Kenaikan Harga Telur
Peternak Ayam Petelur

Jakarta (Jatimupdate.id) -Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN) Yudianto Yosgiarso menjelaskan kenaikan harga telur juga terjadi karena harga pakan yang naik imbas perang Rusia-Ukraina. Dikutip dari cnnindonesia.com

Menurutnya, sebelum perang Rusia-Ukraina, harga pakan hanya Rp6.250 per kg. Namun saat ini harga pakan melonjak Rp7.600perkg. Tak hanya karena lonjakan harga pakan, faktor cuaca juga turut mempengaruhi harga telur. Pasalnya, selama musim pancaroba beberapa waktu lalu banyak ayam sakit dan produksi telur menurun. "Pancaroba kemarin ini menyebabkan banyak ayam yang sakit," kata dia.

Rifki Peternak ayam petelur dari Motong kabupaten Tuban saat di wawancarai reporter jatimupdate.id, Menyikapi Kenaikan harga telur menyatakan bahwa Harga Pakan tinggi, sehingga sama saja pengeluaran biaya pakan semakin besar. “Ujungnya tidak menambah penghasilan kami, sama saja” Jelasnya.

“Ketergantungan bahan baku pakan ayam yang harus import dimana harganya semakin meroket karena efek perang rusia-ukraina, menyebabkan harga pakan sulit dikendalikan” Jelas Ketua Umum Yayasan Insan Cita Agro Madani (ICAM) Indonesia Dr. Edi Purwanto, pada hari rabu (24/8) kepada Jatimupdate.id.

Edi Purwanto yang juga menjabat wakil ketua KADIN Jawa Timur mengemukakan Fenomena kenaikan harga telur yg sudah berlangsung sepekan ini harus segera direspon dengan cepat oleh pemerintah via kemendag utk mengambil langkah langkah taktis dan strategis.

Mengingat kenaikan harga telur dan juga komoditas lain tentu berimbas pada penurunan daya beli sehingga imbasnya luas baik bagi pedagang di pasar maupun masyarakat sebagai konsumen, daya beli menjadi lemah.

Langkah taktis operasi pasar harus segera di eksekusi di daerah daerah dan langkah strategisnya segera mengevaluasi tatakelolanya dan ketegasan dalam pengambilan keputusan.

Ketahanan pangan jadi isu utama dunia akhir-akhir ini. Produksi yang terganggu akibat kekeringan ditambah konflik antara Rusia dan Ukraina, diperparah dengan proteksionisme oleh para negara produksi pangan. Dampaknya pasokan bahan-bahan makanan di dunia pun susut. Ini meningkatkan risiko krisis pangan atau kelaparan di seluruh dunia.(yah)