Pemuda Gelaman Sebagai Kasalitator Perubahan
Oleh : Ponirin Mika
Pemuda Asal Gelaman yang tinggal di Paiton, Probolinggo, Jurnalis JatimUPdate.id.
Baca Juga: Kiai Zuhri Zaini Sebut Memahami Konsekuensi Akhirat Adalah Kunci Ketenangan Hidup
Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id - Sangat menarik bila berbicara pemuda Gelaman, Arjasa, Kepulauan Kangean, Sumenep, Madura.
Pemuda yang berada di desa yang terletak di sebelah selatan desa Arjasa. Pemuda yang haus perubahan.
Dalam setiap nafas perjuangannya, tak lepas dari semangat untuk memajukan desanya.
Entah karena sudah mulai terpanggil atau memang itu dirasakan sebagai kewajibannya sebagai kasalitator (katalisator) perubahan.
Di era 80-an, di desa ini tidak banyak para pemuda yang senang mengenyam pendidikan, baik di pesantren maupun di sekolah umum.
Mereka lebih memilih bekerja, merantau, dan bahkan nikah muda. Kenyataan pahit ini adalah refleksi dari keterbatasan akses dan tuntutan ekonomi yang mendesak di pulau terpencil.
Tapi seiring dengan perjalanannya, desa ini seakan disulap oleh zaman. Fenomena ini sungguh menakjubkan dan layak dikaji lebih dalam.
Perubahan drastis yang terjadi belakangan ini adalah buah dari kesadaran kolektif yang mulai tumbuh perlahan.
Masyarakat Gelaman menyadari bahwa satu-satunya gerbang menuju kehidupan yang lebih baik, yang mampu melepaskan diri dari jerat keterbatasan ekonomi pulau, adalah melalui pendidikan formal.
Pendidikan formal yang masif itu kemudian melahirkan diaspora Gelaman yang kini tersebar luas di berbagai kota besar—mulai dari Surabaya, Malang, Yogyakarta, Jakarta, hingga kota-kota lain.
Mereka membawa pulang bukan hanya ijazah sebagai bukti kelulusan, tetapi juga jaringan, pengalaman, dan paradigma baru tentang bagaimana sebuah desa dapat dikelola dan dimajukan. Mereka inilah kelompok 'Kasalitator' sejati yang dinantikan.
Desa Gelaman kini diberkahi dengan potensi kekuatan yang langka. Ada para sarjana di berbagai disiplin ilmu, pengusaha yang piawai membaca peluang pasar, aktivis yang gigih mengawal isu-isu publik, hingga putra-putri desa yang menduduki posisi strategis sebagai pejabat negara, Polisi, dan Tentara. Modal intelektual dan sosial ini tak ternilai harganya.
Visi untuk menjadikan Gelaman sebagai desa percontohan yang maju dan produktif pada tahun 2030, di mana semua elemen hebat ini bersatu padu, adalah mimpi yang bukan hanya realistis tetapi juga wajib diperjuangkan. Ini adalah proyek besar untuk menyalurkan semua potensi yang telah dicetak oleh "sulap zaman" tersebut kembali ke rahim desa.
Peran pertama dan paling fundamental dari Kasalitator adalah transfer pengetahuan dan teknologi. Para sarjana dan akademisi harus menyusun cetak biru (blueprint) pembangunan desa yang berbasis data dan inovasi.
Misalnya, bagaimana mengoptimalkan potensi rumput laut Kangean dengan teknologi pengolahan pascapanen yang modern dan efisien.
Di sektor ekonomi, para pengusaha memiliki mandat suci untuk membuka keran investasi dan lapangan kerja.
Produktivitas Gelaman pada 2030 harus fokus pada hilirisasi, yakni mengolah produk mentah menjadi produk jadi bernilai jual tinggi. Mereka harus menginkubasi dan memperkuat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) agar menjadi entitas ekonomi yang kuat dan mandiri.
Sementara itu, para aktivis, baik yang bergerak di bidang sosial, lingkungan, maupun keagamaan, berperan sebagai mata dan telinga desa.
Mereka harus memastikan tata kelola desa berjalan transparan, serta gigih memperjuangkan hak-hak masyarakat Gelaman terkait akses infrastruktur dan keadilan yang seringkali luput dari perhatian pusat.
Baca Juga: Kiai Zuhri Zaini Bedah Karakter Ulama Akhirat di Pengajian Ramadan Nurul Jadid
Di ranah politik dan keamanan, peran krusial diemban oleh para pejabat negara, Polisi, dan Tentara asal Gelaman. Mereka adalah jembatan birokrasi Gelaman menuju pusat kekuasaan.
Jaringan mereka dapat digunakan untuk menarik program pembangunan strategis dan memastikan keamanan serta kepastian hukum, sehingga iklim investasi dan aktivitas masyarakat kondusif.
Semua peran 'Kasalitator' ini harus dijalankan secara simultan dan terpadu. Keberhasilan Polisi dalam menjaga keamanan harus didukung oleh sarjana dalam merumuskan kebijakan, dan pengusaha dalam menciptakan kemakmuran. Inilah yang disebut sinergi total, di mana 1+1 hasilnya bukan dua, melainkan sepuluh.
Namun, potensi besar ini menghadapi tantangan serius, yaitu konflik kepentingan pribadi dan ego sektoral. Ketika individu-individu cerdas berkumpul tanpa visi kolektif yang kuat, potensi sinergi dapat berubah menjadi friksi.
Ego intelektual, kepentingan politik jangka pendek, dan persaingan bisnis seringkali menjadi duri dalam daging persatuan desa.
Kunci kemajuan Gelaman pada tahun 2030 adalah kemampuan kolektif untuk mengurangi konfik dan menanggalkan kepentingan pribadi.
Konfik adalah energi negatif yang menghabiskan modal sosial dan menghambat setiap upaya kolektif. Desa tidak butuh rivalitas memperebutkan kekuasaan, ia butuh kolaborasi nyata.
Para Kasalitator harus kembali pada semangat awal mereka sebagai putra-putri daerah yang terpanggil.
Pengabdian kepada desa harus didasarkan pada prinsip ikhlas—memberi tanpa berharap imbalan, pujian, atau pengakuan politik sesaat. Prioritas harus selalu pada kepentingan desa di atas kepentingan kelompok atau diri sendiri.
Untuk mengatasi friksi yang tak terhindarkan dalam sebuah komunitas yang dinamis, perlu ada mekanisme mediasi dan musyawarah yang formal dan berkesinambungan.
Pembentukan semacam Dewan Penasihat Desa (DPD) non-struktural yang diisi oleh tokoh-tokoh senior dan berintegritas dapat menjadi wasit yang dihormati dalam setiap perbedaan pandangan.
Baca Juga: Pengurus LDNU Wilayah Pakubeton Resmi Dikukuhkan di PP Nurul Jadid
Dalam konteks ini, figur teladan sangat dibutuhkan sebagai jangkar persatuan. Kita perlu merujuk pada nama-nama yang telah membuktikan pengabdian tanpa pamrih.
Sebut saja H. Hasyim, seorang tokoh senior yang konsisten menggerakkan pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia, menjadi jangkar bagi generasi muda untuk belajar berorganisasi dan mengabdi.
Visi beliau yang selalu mendorong pentingnya pendidikan dan persatuan adalah warisan berharga. Demikian pula dengan Bapak Achmad Basuni, yang dikenal sebagai tokoh pemuda yang sukses di perantauan namun tidak pernah lupa mengulurkan tangan untuk program sosial dan keagamaan di Gelaman. Mereka adalah cermin dari Kasalitator yang berhasil dan kembali mengabdi.
Fokus produktivitas Gelaman pada tahun 2030 harus diarahkan pada produk unggulan yang memiliki diferensiasi tinggi. Ini bisa berupa produk olahan ikan atau rumput laut yang modern, atau pengembangan ekowisata berbasis kearifan lokal yang dikelola secara profesional. Produktivitas adalah hasil akhir dari sinergi Kasalitator, bukan sekadar peningkatan kuantitas.
Jika visi kolektif ini ditegakkan, konfik dan kepentingan pribadi akan mengecil secara otomatis, karena setiap individu akan sibuk berkontribusi pada tujuan yang lebih besar, yaitu kemajuan Desa Gelaman yang menjadi kebanggaan bersama.
Mereka akan melihat bahwa keuntungan terbesar mereka adalah dari menikmati reputasi desa yang makmur dan dihormati.
Desa Gelaman pada tahun 2030 akan menjadi bukti nyata bahwa keberhasilan di perantauan tidak berarti melupakan kampung halaman.
Sebaliknya, kesuksesan para sarjana, pejabat, dan pengusaha harus menjadi energi balik yang merevitalisasi desa. Ini adalah panggilan untuk pulang dan membangun.
Tantangan kini bukan lagi mencari sumber daya manusia yang hebat, melainkan merajutnya menjadi satu kekuatan utuh.
Pemuda Gelaman, sang Kasalitator perubahan, harus menjadi pionir dalam gerakan persatuan ini. Hanya dengan semangat kolektif, Gelaman 2030 dapat terwujud: maju, produktif, dan bebas dari kepentingan pribadi. (pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat