Sinergi dan Ketangkasan, Santri Nurul Jadid Unjuk Kebolehan dalam Lomba Pioneering

avatar Ponirin Mika
  • URL berhasil dicopy
Guna mengasah keterampilan, ketangkasan, dan kerja sama tim, ratusan santri Ponpes Nurul Jadid berpartisipasi aktif dalam ajang perlombaan pioneering (tali-temali). (Foto Humas Ponpes Nurul Jadid)
Guna mengasah keterampilan, ketangkasan, dan kerja sama tim, ratusan santri Ponpes Nurul Jadid berpartisipasi aktif dalam ajang perlombaan pioneering (tali-temali). (Foto Humas Ponpes Nurul Jadid)

 

Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id – Guna mengasah keterampilan, ketangkasan, dan kerja sama tim, ratusan santri Pondok Pesantren Nurul Jadid berpartisipasi aktif dalam ajang perlombaan pioneering (tali-temali).

Kegiatan luar ruangan yang penuh semangat ini dipusatkan di lapangan utama pesantren, Paiton, Probolinggo.

Perlombaan ini digelar sebagai bagian dari rangkaian kegiatan ekstrakurikuler kepramukaan dan kepanduan santri.

Agenda tersebut bertujuan untuk mencetak generasi santri yang tidak hanya unggul dalam bidang keagamaan (tafaqquh fiddin), tetapi juga memiliki keterampilan taktis, kemandirian, mental yang tangguh, serta kesiapan fisik di lapangan.

Kepala Biro Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid menegaskan bahwa kegiatan ini diadakan sebagai respons terhadap pentingnya pendidikan karakter berbasis kepanduan di lingkungan pesantren.

"Melalui kegiatan praktis seperti ini, santri diajak untuk membumikan nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, dan jiwa kepemimpinan sejak dini," kata Kepala Biro Pendidikan Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Alasan mendasar di balik pelaksanaan lomba ini adalah untuk melatih ketajaman berpikir cepat dan tepat dalam memanfaatkan sarana yang terbatas.

Dalam dunia kepanduan, kemampuan mendirikan bangunan darurat menggunakan tongkat dan tali merupakan keterampilan krusial yang melatih motorik sekaligus logika berpikir ruang para santri.

Berdasarkan pantauan di lokasi, jalannya perlombaan berlangsung sangat kompetitif namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai ukhuwah islamiyah.

Setiap regu yang terdiri dari beberapa santri tampak bahu-membahu, berbagi tugas secara taktis untuk mendirikan struktur bangunan mini, seperti menara pandang dan tiang bendera kreatif.

Dengan mengenakan seragam putih-biru lengkap dengan peci hitam sebagai identitas khas santri Nurul Jadid, mereka terlihat cekatan mengikatkan tali pada tongkat bambu.

Kerja sama yang solid ditunjukkan saat beberapa santri memegangi kerangka utama, sementara santri lainnya fokus mengunci simpul-simpul tali agar bangunan berdiri kokoh.

Penilaian dalam lomba pioneering ini tidak hanya bertumpu pada kecepatan waktu penyelesaian semata.

Tim juri yang terdiri dari para instruktur senior kepramukaan pesantren juga memberikan poin besar pada aspek ketepatan simpul, kekuatan ikatan, estetika bangunan, serta kekompakan komunikasi antaranggota dalam satu tim.

Ketua panitia pelaksana menyampaikan bahwa perlombaan ini merupakan agenda berkala yang selalu dinantikan oleh para santri di setiap periodenya.

"Pihak pesantren berharap, melalui simulasi tali-temali ini, para santri dapat mengimplementasikan filosofi ikatan simpul sebagai simbol kuatnya persaudaraan dan persatuan antar-sesama," kata Ketua Panitia Pelaksana Lomba.

Respons positif juga datang dari para santri peserta lomba yang mengaku sangat antusias mengikuti jalannya acara dari awal hingga akhir.

Mereka menyatakan bahwa tantangan terbesar dalam lomba ini adalah menjaga ketenangan dan fokus agar tali tidak longgar, sekaligus menyatukan persepsi dengan anggota kelompok di tengah keterbatasan waktu.

Acara perlombaan ditutup dengan pengumuman pemenang dan evaluasi teknik dari para pembina pramuka. Dengan suksesnya penyelenggaraan kegiatan ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan potensi santri secara holistik, baik aspek intelektual, maupun keterampilan praktis. (pm/roy)