Bersiap Luncurkan Program Sekolah Desa, Graha Yakusa Bakal Gelar FGD Bulan Ini
Pagelaran, Malang, JatimUPdate.id - Sebagai Pusat Pendidikan dan Pelatihan (PUSDIKLAT) yang telah aktif selama lima tahun ini, Graha Yakusa yang berlokasi di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Malang itu telah berperan penting sebagai tempat kaderisasi dan pertemuan para aktivis lintas organisasi dan lintas daerah.
Lebih jauh tempat ini menjadi kawah candra dimuka untuk mencetak calon-calon pemimpin masa depan.
Berangkat dari tanggung jawab tersebut, dalam upaya memperkuat pembangunan desa dan mengoptimalkan potensi sumber daya lokal desa, Graha Yakusa akan meluncurkan program sekolah desa yang khusus disiapkan untuk calon-calon pemimpin masa depan desa.
Founder Graha Yakusa, Muhlis Ali yang juga Ketua Himpunan Generasi Muda Madura itu berketetapan hati memperluas kapasitas pusat diklat aktivis kampus di wilayah Kabupaten Malang tersebut dimana proses pembangunan perluasan fasilitas ruangan guna menampung kapasitas lebih besar telah dikerjakan selama tiga bulan ini.
Ditengah upaya perluasan fasilitas pusdiklat Graha Yakusa tersebut, Muhlis Ali terlibat diskusi hebat dengan sejumlah Pendamping Desa serta pegiat dan pemberdaya desa sehingga ide dan gagasan membuat Sekolah Desa tersebut semakin bergemuruh untuk segera diwujudkan.
"Namun, sebelum program tersebut diluncurkan, Graha Yakusa akan menggelar Focus Group Discussion (FGD) terlebih dahulu dengan tajuk Menuju Sekolah Desa,” yang mengangkat tema-tema krusial bagi pengembangan desa-desa di Indonesia," kata Muhlis Ali kepada Redaksi JatimUPdate.id Kamis Malam (02/10/2025).
Lebih dalam Muhlis Ali menjelaskan FGD ini akan menyoroti sejumlah isu utama yang menjadi kunci keberhasilan pembangunan desa.
"Di antaranya adalah optimalisasi desa melalui program Astacita Keenam dari Presiden Prabowo Subianto dalam kontek Membangun Desa, Membangun Indonesia. Langkah ini juga sebagai upaya penguatan ketahanan pangan, pengembangan koperasi Merah Putih, pemberdayaan UMKM desa, serta peran sentral pemuda dalam mendorong kemajuan komunitas desa," ungkap Muhlis Ali yang telah menunjuk dua orang untuk dipasrahi mengelola keberadaan Sekolah Desa itu kedepannya.
Kedua orang yang di pasrahi mengelola itu adalah Deki Umamun Rois dan Syafiq Maulana.
"Mas Deki [Deki Umamun Rois] ini alumnus Fisip Universitas Jember S1 nya, S2 nya dituntaskan di Malaysia dan kini sebagai Pendamping Desa di Kabupaten Malang yang telah berkeliling sejumlah kecamatan selama memasuki 10 tahun ini, saya tunjuk sebagai Kepala Sekolah Desa. Syafiq Maulana sendiri alumnus Fakultas Ilmu Perikanan Universitas Brawijaya, kini tengah menempuh S3 itu mendampingi sebagai Wakil Kepala Sekolah Desa," tegas Muhlis Ali.
Diskusi ini bertujuan mengidentifikasi langkah konkret untuk mendukung desa agar dapat mandiri dan berdaya saing, sekaligus menjawab tantangan sosial dan ekonomi yang ada.
Sejumlah problem yang kini membelit desa termasuk konteknya Dana Desa, perencanaan kawasan desa terintegratif, publikasi desa, pengawasan serta penguatan kapasitas fiskal desa akan dibedah dan dicarikan jalan keluarnya secara bertahap dan sistemik.
Lebih detail kegiatan FGD rencananya akan menghadirkan sejumlah tokoh akademisi dan praktisi desa yang kompeten, seperti Prof. Zainuddin Maliki (Penasehat Kementrian Desa PDT), DR. Imron Rozuli selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB), Redy Eko Prasetyo, Staf Dosen Universitas Brawijaya yang berhasil menggagas dan mewujudkan Kampung Cempluk, Hadi Prasetyo, mantan Kepala Bappeprov Jawa Timur era Gubernur Imam Utomo dan Soekarwo, Lutfil Hakim, Ketua PWI Jawa Timur, Prof. Dr. Suparto Wijoyo, Pakar Hukum Lingkungan Universitas Airlangga, Prof. Dr. Nafik Hadi Riandono, ekonom Universitas Airlangga, Dr Budhi Santoso, Wakil Dekan Fisip Universitas Jember, Mohammad Dyah Agus Muslim, Dirut PT Puspa Agro (BUMD Pangan Dan Logistik Pemprov Jatim), Rendyta Witrayani Setyawan selaku Kepala Desa Senggreng Kabupaten Malang dan Yuristiarso Hidayat, tenaga ahli -portable- yang kini bertugas sebagai TAPM Kabupaten Gresik.
Baca Juga: Eks Menkes Siti Fadilah Supari Usul Pajang Daftar Penerima PBI di Desa
"FGD ini akan mengundang perwakilan pemerintah desa, pegiat dan pemberdaya desa serta pendamping desa juga hadir. Kades Senggreng Kec. Sumberpucung, Rendyta, yang berprestasi level nasional itu juga diharapkan bisa berbagi pengalaman langsung dalam membangun desa. FGD ini juga menghadirkan Mas Lutfil Hakim, Jurnalis senior yang juga Ketua PWI Jatim agar konsep Pentahelix Desa bisa terejawantahkan," ungkap Muhlis Ali.
Selanjutnya FGD juga menghadirkan para akademisi, praktisi, jurnalis, pemimpin desa hingga para pemangku kepentingan desa lainnya ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi strategis yang aplikatif dan sesuai kebutuhan riil di lapangan.
"Tujuan FGD ini lebih dalam untuk menyusun silabus, kerangka acuan dan materi-materi yang akan dijadikan dasar-dasar ilmu yang bakal diajarkan di Sekolah Desa tersebut. Sekolah Desa ini diharapkan bisa mencetak para kader pegiat dan pemberdaya Desa sehingga Desa bisa jadi fokus pemberdayaan. Ingat Desa adalah Koentji Peradaban Modern Indonesia Emas 2045 mendatang," tegas Muhlis Ali tersebut.
Disisi lain, Muhlis Ali juga bakal melibatkan para peneliti muda yang terhimpun di lembaga riset.
"Saya juga bakal banyak melibatkan rekan-rekan peneliti Sygma Research and Consulting yang beberapa kali bersilaturahmi ke Graha Yakusa, termasuk Agustus 2024 lalu mengundang Mas AU [Anas Urbaningrum] berdiskusi ke Universitas Brawijaya dan mampir ke Graha Yakusa. Mas Bimo [Ken Bimo Sultoni/CEO Sygma Research] sering jadi mitra diskusi dan sangat konsen bicara dan meneliti desa termasuk soal dunia koperasi," tegas Muhlis Ali.
Graha Yakusa
Sementara itu untuk diketahui, sejak berdiri, Graha Yakusa telah menjadi magnet bagi berbagai tokoh penting dari ranah akademisi, politik, dan birokrasi.
Baca Juga: Kajari Padang Lawas Diduga Pungli Kepala Desa, Jamintel Reda Manthovani Beri Peringatan Tegas
Beberapa nama besar yang pernah mengunjungi dan memberikan kontribusi dalam forum di Graha Yakusa termasuk Bursah Zarnubi, Bupati Lahat sekaligus Ketua Umum APKASI; Prof. Dr. Iswandi Syahputra, Staf Khusus Kementerian Agama RI; serta Prof. Dr. Syofyan Sjaf dari Institut Pertanian Bogor (IPB).
Tokoh-tokoh lain seperti DR. Pramono Ubaid Tanthowi dari Komnas HAM, mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, serta sejumlah rektor dan anggota DPR RI juga pernah hadir, memperkaya diskusi dan penguatan jaringan di Graha Yakusa.
Selain itu, figur militer seperti Mayjen TNI Susilo, Panglima Divisi 2 Kostrad, juga pernah terlibat dalam kegiatan di Graha Yakusa, menandakan keberagaman dan luasnya jangkauan pengaruh pusat ini.
Graha Yakusa terus membuktikan perannya sebagai pusat pengkaderan dan diskusi strategis yang memperkuat pembangunan desa.
Dengan menggabungkan perspektif akademisi, praktisi desa, serta para pemimpin nasional, FGD ini membuka ruang bagi solusi konkret dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan, pengembangan UMKM, dan pemberdayaan pemuda desa.
Melalui sinergi yang terbangun, diharapkan desa-desa di Indonesia semakin mandiri, berdaya saing, dan mampu mengelola potensi lokal secara berkelanjutan. (dek/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat