Catatan Redaksi

Tak Mau Ketinggalan Gerindra Mulai Menata Napas di Tengah Manuver Beringin dan Konflik Banteng

Reporter : -
Tak Mau Ketinggalan Gerindra Mulai Menata Napas di Tengah Manuver Beringin dan Konflik Banteng
Ilustrasi

Surabaya, JatimUPdate.id - Dinamika politik Surabaya mulai terasa hangat jelang Pemilu 2029. Masing-masing partai tampak menyiapkan langkah strategisnya. Golkar sudah lebih dulu “memanaskan mesin” melalui pembukaan Rumah Aspirasi. PDIP masih disibukkan konflik internal. Sementara Gerindra memilih jalur berbeda, menguatkan soliditas dengan menggelar retret kader di Trawas, Mojokerto.

Langkah ini bisa dibaca sebagai strategi diam tapi menyiapkan napas panjang. Gerindra tampaknya sadar, konsolidasi internal merupakan faktor utama menghadapi perubahan peta politik Surabaya yang mulai bergeser. 

Baca Juga: Aroma 2029 di Surabaya: Armuji, Kandang Banteng, dan Manuver Dini Kekuasaan

Retret dua hari itu bukan hanya agenda penyegaran kader, melainkan proses membangun keutuhan partai dari akar hingga ranting.

Ketua DPC Gerindra Surabaya, Cahyo Harjo Prakoso, menyebut retret sebagai bentuk kesiapan menghadapi Pemilu 2029, termasuk mengantisipasi kemungkinan pemekaran dapil. 

Pernyataan ini mengandung pesan yang mudah ditebak, partai berlambang Garuda itu tidak ingin cuma ikut arus, tapi menata strategi sejak dini.

Wakil Ketua DPC, Yona Bagus Widyatmoko, bahkan menegaskan pentingnya kesiapan data kependudukan sebagai dasar penguatan struktur. 

Pembentukan desk khusus bersama Dispendukcapil menjadi langkah menarik, sebab menunjukkan Gerindra mulai mengubah pola kerja politiknya dari seremonial menuju berbasis data dan demografi.

Sementara itu, Sekretaris DPC, Bahtiyar Rifai, menegaskan retret ini bukan hanya penguatan struktur, melainkan pembentukan rasa memiliki di antara kader. 

Baca Juga: HUT ke-18 Gerindra, DPC Kabupaten Blitar Gelar Pengajian dan Potong Tumpeng

Pandangan ini penting, karena politik tanpa kebersamaan hanya akan melahirkan mesin dingin tanpa semangat juang.

Gerindra tampaknya tengah belajar dari dua arus besar di Surabaya. Di satu sisi, Golkar agresif menancapkan akar melalui kerja sosial dan rumah aspirasi. 

Di sisi lain, PDIP masih bergulat dengan faksi-faksi internal yang belum menemukan titik harmoni. Gerindra justru mencoba jalan tengah, memperkuat organisasi tanpa gaduh, membangun loyalitas tanpa polarisasi.

Langkah ini menunjukkan partai besutan Prabowo itu mulai menata ritme politik lokalnya dengan cermat. Mereka sadar, kekuatan sejati bukan terletak pada simbol, tapi pada kemampuan menata organisasi di semua lini. Dalam konteks inilah, retret Trawas menjadi momen penting sebelum pertarungan panjang dimulai.

Baca Juga: Sebut Banyak Politisi Ingin Merapat ke PSI Surabaya, Yuga Enggan Sebut Nama

Dalam politik, langkah sunyi kerap lebih efektif daripada sorak sorai. Gerindra memilih bekerja dalam diam, menyiapkan strategi, dan memperkuat otot struktural, sementara partai lain masih sibuk mencari panggung. 

Jika konsistensi ini dijaga, bukan mustahil Garuda bisa terbang lebih stabil menghadapi beringin yang mulai mencengkeram dan banteng yang masih saling seruduk.

Pertanyaannya kini, akankah strategi senyap dari Trawas ini menjadi titik balik Gerindra Surabaya dalam menata kekuatan menuju 2029? Ataukah justru akan tenggelam dalam hiruk-pikuk politik kota yang semakin keras di tahun-tahun mendatang? 

Editor : Yuris. T. Hidayat