Tiga Dekade Mengabdi Tanpa Mengenal Lelah

Ahmad Nur Fuad Resmi Dikukuhkan sebagai Guru Besar UINSA, Tuntaskan Pesan Terakhir Sang Mentor

Reporter : -
Ahmad Nur Fuad Resmi Dikukuhkan sebagai Guru Besar UINSA, Tuntaskan Pesan Terakhir Sang Mentor
Prof. Dr. Ahmad Nur Fuad, M.A. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Rumpun Ilmu Agama Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Selasa (23/12/2025).

 

Surabaya, JatimUPdate.id – Setelah lebih dari tiga dekade mengabdi di dunia akademik, Prof. Dr. Ahmad Nur Fuad, M.A. resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar Rumpun Ilmu Agama Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Selasa (23/12/2025).

Baca Juga: In Memoriam Profesor Bustami Rahman (3): Kegelisahan Akan Peradaban

Pengukuhan ini menjadi tonggak penting perjalanan keilmuannya, khususnya di bidang Sejarah Peradaban Islam.

Prof. Ahmad Nur Fuad merupakan salah satu dari tujuh Guru Besar yang dikukuhkan UIN Sunan Ampel Surabaya pada akhir tahun 2025. Pengukuhan ini sekaligus menambah jumlah profesor UINSA menjadi 122 orang, memperkuat posisi kampus sebagai salah satu pusat pengembangan keilmuan Islam di Indonesia.

Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Akhmad Muzakki, M.Ag., Grad.Dip.SEA., M.Phil., Ph.D., menyampaikan bahwa capaian Guru Besar bukan sekadar prestasi personal, tetapi amanah akademik yang harus memberi manfaat luas bagi institusi dan masyarakat.

“Diraihnya jabatan Guru Besar bukan hanya patut disyukuri, tetapi harus ditunaikan untuk kemuliaan banyak pihak,” ujar Prof. Muzakki.

Sebelumnya, Prof. Dr. Ahmad Nur Fuad, M.A. telah menerima Surat Keputusan (SK) Pengangkatan Guru Besar Rumpun Ilmu Agama Periode II Tahun 2025 yang diserahkan langsung oleh Menteri Agama RI, Prof. KH. Nasaruddin Umar, M.A. Penyerahan SK tersebut berlangsung pada Senin (15/12/2025) di Grand Serpong Hotel, Jakarta, dalam agenda penyerahan Keputusan Menteri Agama (KMA) Guru Besar secara serentak bagi seluruh Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia.

Pengukuhan ini menjadi bentuk pengakuan negara atas dedikasi, integritas, dan konsistensi Prof. Ahmad Nur Fuad dalam pengembangan keilmuan Islam, khususnya dalam kajian sejarah dan peradaban Islam.

Profil Prof. Ahmad Nur Fuad MA

Ahmad Nur Fuad lahir di Lamongan, 11 Nopember 1964, mengawali pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Paciran.

Selanjutnya menempuh pendidikan pada Kulliyat al-Mu''''allimin al-Islamiyyah (KMI) Pondok Modern Gontor Ponorogo (1977-1983).

Lebih lanjut pendidikan Strata atau S-1 pada Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya (1984-1991) yang kemudian bertransformasi menjadi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel itu.

Beraktivitas di Himpunan Mahasiswa Islam

Pada saat menempuh kuliah S-1 itulah, Nur Fuad beraktivitas menjadi anggota dan kader organisasi Ekstra Kampus yaitu Himpunan Mahasiswa Islam.

Di HMI, Nur Fuad berkarier dari jenjang terbawah, jadi anggota komisariat, kemudian jadi Ketua Umum Komisariat Adab, menjadi pengurus Koordinator Komisariat (Korkom) Sunan Ampel. Selanjutnya menjadi Ketua Umum HMI Cabang Surabaya yang kala itu sekretariatnya berada di Jalan Sumatera 36A Surabaya.

Selanjutnya, Cak Fuad, begitu kalangan HMI memanggilnya memegang amanah sebagai Ketua Umum Badko HMI Jatim. Saat menjadi Ketum Badko Jatim, Nur Fuad bersama para koleganya di Jatim berhasil menghantarkan Mohammad Yahya Zaini, SH menjadi Ketua Umum PB HMI pada Kongres HMI di Pekanbaru, Riau pada 1992.

"Cak Fuad, adalah sosok yang lengkap, sebagai intelektual, sebagai organisatoris yang berjenjang daeri level bahwah hingga Ketum Badko. Beliau sering menulis opini di media massa dengan berbagai masalah yang diulasnya. Bahkan kemampuan mengetik di mesin tik era itu, karena era komputer masih belum ada, Cak Fuad mampu mengetik dengan sangat fasih menggunakan 10 jarinya, saya adalah saksi dan pengagumnya dalam mengetik 10 jari itu," kata Dirut PT Puspa Agro, Mohammad Dyah Agusmuslim, yang era HMI merupakan Sekretaris Umum, saat Nur Fuad menjadi Ketum Badko Jatim kepada Redaksi JatimUPdate.id pada Jumat (26/12/2025).

Mengabdi di Almamater UIN Sunan Ampel

Baca Juga: Undang Pimpinan Perguruan Tinggi, Presiden Prabowo Serukan Peran Kampus

Seusai ber-HMI, Nur Fuad diterima menjadi dosen tetap pada Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya sejak 1993; juga menjadi pengajar pada Pascasarjana UIN Sunan Ampel, dan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Menempuh S2 di Kanada

Selanjutnya, Cak Fuad berhasil meraih beasiswa sehingga menempuh S-2 pada Islamic Studies, McGill University Montreal Canada (1996-1998); dan S-3 pada Program Studi Dirasah Islamiyah, Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel (2005-2010).

Pernah mengikuti Summer Education Course, Faculty of Education, McGill University (1997) dan Management Course, Faculty of Management, McGill University (1997); mengikuti Workshop on Research Methodology di Australian National University, Canberra (2013).

Selain itu, menjadi pengajar pada Master Level Course on “Shariah and Human Rights" pada Program Pascasarjana UMM yang bekerjasama dengan the Oslo Coalition, Norway dan Brigham Young University (BYU), Provo, Utah, USA.

Sejak awal 2015, menjabat Ketua Program Studi Dirasah Islamiyah Program Doktor Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, dan Wakil Direktur Pascasarjana (2018-2022).

Selain aktif sebagai akademisi, Prof. Ahmad Nur Fuad juga pernah terlibat dalam pengembangan literasi dan informasi keislaman sebagai anggota Majelis Pustaka dan Informasi Digital (MPID) PW Muhammadiyah Jawa Timur periode 2010–2015.

Pernah melakukan Joint Research tentang “Islam and Human Rights in Indonesia" dengan bantuan dana dari McGill Project-Canadian International Development Agency (CIDA) tahun 2002/2003 di bawah bimbingan Prof. Wael B. Hallaq.

Buku yang diterbitkan antara lain: Islam Milenaris (Surabaya: LPAM, 2002), dan (bersama Cekli Setya Pratiwi dan Saiful Aries), Hak Asasi Manusia Dalam Perspektif Islam (Malang: LPSHHAM dan Madani, 2010). Menjadi kontributor tulisan: “Fundamentalisme, Pluralisme dan Dialog Antar-Agama," dalam Terorisme dan Fundamentalisme Agama: Tafsir Sosial, eds. Syamsul Arifin, dkk. (Malang: UMM Press, 2003); Pendidikan Kewarganegaraan: Demokrasi, HAM, Civil Society dan Multikulturalisme (Malang: PuSAPoM, 2007); “Konflik Etnik dan Model Resolusi Konflik," dalam Resolusi Konflik Islam Indonesia, ed. Thoha Hamim (Surabaya: LSAS, IAIN, LKIS, 2007); “Penguatan Perlindungan dan Penghargaan terhadap Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan: Merevitalisasi Peran Tokoh Lintas Agama," dan (bersama Syamsul Arifin) “Rekonstruksi Teologis Kebebasan Beragama Menurut Pandangan Intelektual Muslim Australia," dalam Hak Asasi Manusia untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan di Indonesia: Keniscayaan, Kenyataan dan Penguatan, eds. Syamsul Arifin, M. Amin Abdullah dan Budhy Munawar-Rahman (Malang: PUSAM UMM-The Asia Foundation, 2014); Dari Reformis Hingga Transformatif: Dialektika Intelektual Keagamaan Muhammadiyah (Malang: Intrans Publishing, 2015). Menulis artikel "From Binary Perspectives to Context-Sensitive Approaches: Changing Trends in Scholarship on Political Islam in Turkey, Tunisia, and Indonesia," Ulumuna 28, 2 (2024): 961-987.

Baca Juga: KAMURA-UINSA Bahas KEK Tembakau Madura, Beberkan Fakta Industri Rokok Rakyat Kurangi Instabilitas Sosial

Menjadi Tim Periset Buku Menembus Benteng Tradisi, Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur

Pada 2002-2005, Nur Fuad bersama para koleganya menjadi Tim Riset dan penulis buku sejarah Muhammadiyah Jawa Timur. Buku itu diberi judul secara khusus oleh Prof Syafiq Mugni dengan tittle "Menembus Benteng Tradisi", Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1912-2004. 

Buku itu sengaja ditulis dan dicetak sebagai kado dan buah tangan ribuan peserta Muktamar Muhammadiyah di Malang pada 2005.

"Sangat membanggakan, karena dari 16 orang tim periset dan penulis, saya adalah kala itu yang termuda yang tengah menempuh kuliah S2 Magister Ilmu-Ilmu Politik di Pasca Sarjana Universitas Airlangga yang akhirnya tidak lulus itu. Saya, bersama Cak Fuad, dengan Prof Biayanto [Sekretaris PWM Jatim], Mas Ainur Rofiq, kala itu jurnalis Jakarta Post [Pimred Majalah Matan], Mas Fatichuddin, Jurnalis Republika, Prof Wisnu, dosen Universitas Negeri Surabaya menulis dengan tekun sejarah Muhammadiyah di tlatah Jawa Timur itu. Kami juga di dampingi Prof Aminuddin Kasdi, Alm Mas Najib Hamid, Alm Pak Syamsu Dhuha Ketua Tim serta dibersamai Prof Syafiq Mugni [Ketua PP Muhammadiyah], hingga Menembus Benteng Tradisi bisa terbit," kata CEO JatimUPdate.id, Yuristiarso Hidayat.

Informasi tambahan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim kini tengah meriset dan menulis lagi Buku Menembus Benteng Tradisi Jilid II yang dikomandani timnya oleh Prof Dr.  Purnawan Basundoro, yang kini menjabat Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga.

Menuntaskan Pesan Sang Mentor alm. Amien Zein.

Pada akhir Desember 2013, Nur Fuad bersama sejumlah koleganya berkumpul bersama di salah satu villa di Kota Batu. Saat itu, seorang seniornyabl bernama Amien Zein, SH berpesan khusus agar dirinya konsisten di jalur akademik dan memperbanyak penelitian dan tulisan tentang sejarah agar bangsa Indonesia semakin mengenal akan sejarah panjang yang dilaluinya guna memperkuat jati diri bangsa.

"Fuad ojok lali dan kudu bisa meraih gelar guru besar alias profesor ya. Ini penting untuk penyemangat bagi adik-adik yunior yang menekuni profesi sebagai akademisi. Alhamdulillah, pesan senior itu [Alm Amien Zein] bisa dituntaskan. Meski sayang, Cak Amien [Amien Zein] tidak bisa menyaksikan karena tidak lama pesan itu disampaikan, pada September 2015, beliau wafat. Al Fatehah Kagem alm Cak Amien Zein," kata Nur Fuad mengenang pesan alm Amien Zein itu.

Secara khusus, pengukuhan Guru Besar ini diharapkan semakin memperkuat kontribusi Prof. Ahmad Nur Fuad dalam pengembangan keilmuan Islam serta menjadi inspirasi bagi dosen dan akademisi untuk terus meningkatkan kualitas tridarma perguruan tinggi. (ries/mmt)

Editor : Miftahul Rachman