Operation Epic Fury Akhirnya Berakhir

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia. (Foto Antara.com)
Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia. (Foto Antara.com)

 

Oleh Hikmahanto Juwana

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Marco Rubio pada tanggal 5 Mei 2026 waktu AS menyatakan Operation Epic Fury telah berakhir dan menurutnya perang AS melawan Iran telah mencapai semua tujuannya.

Pernyataan ini perlu disambut baik mengingat kondisi normal perlahan akan kembali.

Namun demikian disampaikan oleh Menlu Rubio perang AS-Iran bisa kembali memanas bila menurut AS, Iran melakukan serangan pada kepentingan AS. 

Menurut Menlu Rubio saat ini AS mengambil posisi melakukan serangan defensif terhadap Iran.

Ini berbeda dengan saat AS memulai serangan terhadap Iran tanggal 28 Pebruari lalu.

Meski tidak disebut sebagai serangan ofensif namun merupakan serangan untuk membela diri yang bersifat pre-emptive. Maksud pre-emptive adalah belum ada serangan nyata dari Iran namun sudah melakukan serangan terlebih dahulu.

Posisi AS saat ini yang disampaikan Menlu Rubio diambil lebih karena tekanan di dalam negeri.

Di AS, Trump sedang menghadapi approval rating yang merosot sangat tajam. Belum lagi harga BBM yang melambung akibat perang.

Kemudian juga Kongres yang kemungkinan tidak akan menyetujui perpanjangan perang. Demikian pula reaksi negatif bursa di AS bila perang dilanjutkan

Pernyataan Operation Epic Fury berakhir diawali dengan pernyataan gencatan senjata yang tidak terbatas dan saat ini ditundanya Project Freedom yang mengawal tanker-tanker untuk dapat keluar dari Selat Hormuz. 

Ini semua merupakan exit strategy dari Presiden Trump yang tidak mau dikesankan sebagai pihak yang kalah perang.

Saat ini dunia, termasuk Indonesia, perlu menjaga agar situasi tetap kondusif dan perlu mewaspadai bila ada sabotase dari pihak Israel. 

Bagi Israel perang AS-Iran harus Tindakan terus berlangsung hingga terjadi pergantian sistem pemerintahan di Iran dari Mullah ke Kerajaan.