KKP Minta Pemasangan Kabel Internet Bawah Laut Tak Ganggu Sumber Daya Ikan RI

oleh : -
KKP Minta Pemasangan Kabel Internet Bawah Laut Tak Ganggu Sumber Daya Ikan RI
Direktur Perencanaan Ruang Laut KKP, Suharyanto bersama Asisten Khusus Menteri Kelautan Perikanan Bidang Media Komunikasi Publik Doni Ismanto & SVP Governance & Compliance Group Telin G.E. Dhany Widjajanta mengkaji potensi dampak ekologi SKKL Bifrost di s

Surabaya (Jatimupdate.id) - Kementerian Kelautan dan Perikanan meminta pemanfaatan ruang laut tak mengganggu keberlanjutan sumber daya ikan (SDI). Khususnya dalam pengadaan sistem komunikasi kabel (SKKL) bawah laut.

Asisten Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Media dan Komunikasi Publik, Doni Ismanto mengungkap imbauan ini menyusul rencana penggelaran SKKL Bifrost yang akan dilakukan PT Telekomunikasi Indonesia Internasional (Telin). SKKL akan dibangun sepanjang 15 ribu kilometer dari Singapura sampai Amerika yang sebagiannya melintas wilayah laut Indonesia.

"Secara prinsip KKP mendukung geliat usaha, namun tetap harus memperhatikan keberlanjutan sumber daya ikan (SDI)," ungkap Doni dalam keterangan tertulis, Kamis (1/9/2022).

Diketahui, Doni hadir dalam rapat kajian ekologi bersama PT Telin dan sejumlah akademisi di Surabaya hari ini. Kajian tersebut mengupas potensi ada atau tidaknya dampak ekologi dari rencana pemasangan SKKL Bifrost di segmen laut Sulawesi sejauh 88 kilometer pada kedalaman 4.000 sampai 5.000 meter karena akan melintasi zona penangkapan ikan.

Lewat kajian itu, Doni mengatakan pihaknya ingin memastikan pendapat para ahli kelautan dan perikanan bahwa kegiatan penggelaran kabel Bifrost di segmen laut Sulawesi tidak akan mengganggu keberlanjutan sumber daya ikan di zona penangkapan yang dilintasi. Selain itu, keberadaan kabel nantinya juga tidak akan mengganggu aktivitas penangkapan ikan di wilayah tersebut. Sebaliknya, aktivitas penangkapan juga tidak akan mengganggu keamanan kabel di masa depan.

"Pak Menteri Sakti Wahyu Trenggono punya lima program strategis ekonomi biru, salah satunya penerapan penangkapan ikan terukur berbasis kuota untuk menjaga keberlanjutan populasi sumber daya ikan. Dan kabel ini melintasi zona penangkapan ikan. Jadi kami ingin memastikan kegiatan di ruang laut ini tidak saling tumpang tindih yang dapat mengganggu kelangsungan ekologi dan pertumbuhan ekonomi," tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Perencanaan Ruang Laut Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (DJPRL) KKP, Suharyanto menjelaskan pemerintah melalui KKP telah mengeluarkan Kepmen KP Nomor 14 Tahun 2021 tentang Alur Pipa dan/atau Kabel Bawah Laut sebagai acuan penggelaran SKKL.

Sesuai regulasi tersebut, terdapat 217 alur untuk kabel bawah laut, 209 beach manhole, serta empat lokasi landing station sebagai titik masuk maupun keluarnya SKKL dari luar negeri atau menuju ke luar negeri. Di samping itu, pemanfaatan ruang laut Sulawesi juga sudah diatur melalui Perpres Nomor 4 Tahun 2022 tentang Rencana Zonasi Kawasan Antar Wilayah Laut Sulawesi.

"Pendapat dari para pakar ini sangat penting karena akan menjadi salah satu dasar kami untuk melakukan proses selanjutnya terkait perizinan penggelaran kabel ini. Setelah rapat ini, kami menunggu hasil kajian yang sudah disusun PT Telin. Yang perlu digarisbawahi kami tidak akan menghambat proses yang berjalan tapi kami juga harus memastikan keberlanjutan sumber daya ikan," terang Suharyanto.

Sementara itu, SVP Governance and Compliance Group Telin G.E. Dhany Widjajanta mengakui pentingnya keberlanjutan sumber daya ikan di laut Indonesia untuk kepentingan kelestarian ekosistem laut. Sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

"Penting bagi Telin mengundang akademisi untuk melihat apakah penggelaran kabel tidak berdampak negatif pada stakeholder. Stakeholder ini bukan hanya nelayan, ikan juga stakeholder karena mereka perlu diperhatikan. Rapat hari ini bisa memberikan rekomendasi bahwa gelaran kabel ini aman untuk lingkungan sekitarnya," pungkasnya.(yah)