catatan tangan kanan wiedmust- (22/01/26)

Ada Apa dengan Cak Eri & Cak Armuji? Satu Partai, Dua Nada, Se-Suroboyo Bingung: “Yok opo iki rek?”

Reporter : -
Ada Apa dengan Cak Eri & Cak Armuji? Satu Partai, Dua Nada, Se-Suroboyo Bingung: “Yok opo iki rek?”
Ilustrasi

 

Oleh : widodo, ph.d

Baca Juga: Mematahkan Mitos, Meneguhkan Peran Mahasiswa dalam Pergerakan 

pengamat keruwetan sosial

 

 

Surabaya, JatimUPdate id - Surabaya ini kota metropolitan, bukan kampung halaman sinetron yang konfliknya bisa selesai di episode terakhir. Tapi belakangan, duet Cak Eri Cahyadi–Cak Armuji justru seperti orkestra satu partitur, dua dirigen.

Sama-sama PDIP, sama-sama dipilih rakyat, tapi nadanya kerap sumbang. Yang satu bicara teknokrasi dan tata kelola, yang lain tampil populis dan frontal. Rakyat? Dengar bunyi, bingung arah.

Masalahnya bukan sekadar beda gaya itu lumrah. Masalahnya: beda visi dalam “nggarap” Suroboyo. Padahal PR kota ini seabreg: parkir liar dan setoran gelap, premanisme yang ganti seragam,kemacetan, kebersihan yang masih kalah cepat dari sampah, layanan administrasi yang kadang lari maraton tapi kadang jalan di tempat, pengangguran urban, transportasi massal yang belum jadi tulang punggung, sampai problem sosial yang butuh kerja lintas dinas, lintas kampung, lintas ego.

Di level kebijakan, Surabaya butuh sinkronisasi. Di level politik, publik butuh kepastian. Kalau wali kota dan wakilnya sering kirim sinyal berbeda, birokrasi di bawahnya ikut gamang: ini nurut yang mana? Hasilnya klasik: rapat jalan, eksekusi tertahan; program ada, dampak tipis.

Soal parkir dan premanisme, misalnya. Semua sepakat harus ditertibkan. Tapi tanpa satu komando, penertiban cuma jadi foto razia hari ini tertib, besok balik.

Transportasi massal? Butuh konsistensi jangka panjang, bukan sekadar wacana. Layanan sosial dan administrasi? Perlu kepemimpinan yang tegas sekaligus rukun, bukan adu panggung.

Baca Juga: Zulhas Jadi Keynote Speaker, LHKP PWM Jatim Tegaskan Politik Kebangsaan sebagai Kontrol Demokrasi

Pepatahnya begini: “nasi sudah jadi bubur, tapi sendoknya rebutan.”

Kota keburu lapar, pemimpinnya masih debat cara menyuap. Rakyat Surabaya itu pragmatis: tak peduli siapa paling viral, yang penting urusan beres.

Apakah bisa diselesaikan?

Bisa kalau mau. Kuncinya tiga:
1. Satu visi operasional (bukan cuma slogan): target jelas, indikator terukur, pembagian peran tegas.

2. Disiplin komunikasi publik: beda pendapat selesai di ruang rapat, bukan di panggung.

Baca Juga: Menteri Desa Dijadwalkan Hadiri Acara Silaturahmi Alim Ulama dan Rakernas di Ponpes Amanatul Ummah Surabaya

3. Keberanian menutup celah rente: parkir, perizinan, dan layanan harus digital-transparan, bukan negosiasi.

Surabaya tak kekurangan orang pinter. Yang kurang itu kekompakan di pucuk. Kalau duet ini bisa kembali satu irama, kota akan melaju. Kalau tidak, ya begini terus: macet di masalah, nyelip di polemik.

Akhir kata, warga cuma pengin sederhana: pemimpinnya rukun, kerjanya beres.

Lha nek isih podo ngotot, yo wajar nek wong kampung ndeso sampek ngomel:
“Yok opo iki rek?” (red)

 

Editor : Redaksi