LK II–LKK HMI Bondowoso–Situbondo Ditutup, Proses Kaderisasi dan Kualitas Kader Ditekankan

Reporter : -
LK II–LKK HMI Bondowoso–Situbondo Ditutup, Proses Kaderisasi dan Kualitas Kader Ditekankan
Suasana LK II HMI Cabang Bondowoso. Sambutan Sekjend PB HMI pada penutupan LK II–LKK HMI Cabang Bondowoso–Situbondo di Balai Diklat BKPSDM Bondowoso, Jum'at (30/1/2026)

 

Bondowoso, JatimUPdate.id, – Kegiatan Intermediate Training (LK II) dan Latihan Khusus Kohati (LKK) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bondowoso–Situbondo tahun 2026 resmi ditutup di Balai Diklat BKPSDM Bondowoso, Jumat, (30/01/2026).

Baca Juga: BREAKINGNEWS: Jembatan Sukowiryo di Jalan Mastrip Bondowoso Ambrol Satu Sisi, Akses Dibatasi Ketat

Kegiatan kaderisasi tingkat lanjut ini diikuti kader terpilih, tidak hanya dari Bondowoso, tetapi juga dari berbagai daerah di luar Bondowoso.

Ketua Umum HMI Cabang Bondowoso–Situbondo, M. Ikrom, menegaskan bahwa kader HMI tidak boleh berhenti sebagai penonton perubahan, melainkan harus tampil sebagai pelaku utama dalam menjawab persoalan bangsa.

“Pasca kegiatan ini, kader HMI diharapkan mampu menjadi intelektual organik yang peka terhadap ketidakadilan, menyatu dengan masyarakat, serta berpegang teguh pada nilai keislaman dan keindonesiaan,” ujar Ikrom dalam sambutannya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada panitia, instruktur, peserta, para alumni serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan pelaksanaan LK II dan LKK tersebut.

Sementara itu, Ketua Umum Badan Koordinasi (Badko) HMI Jawa Timur, M. Yusfan Firdaus, menekankan tiga komitmen utama yang harus dipegang kader pasca mengikuti LK II, yakni komitmen keorganisasian, kontribusi gagasan pembangunan, dan konsistensi sebagai insan akademis.

“Kader HMI harus terus percaya diri, menambah wawasan keilmuan, serta melanjutkan pendidikan sebagai bekal perjuangan dan pengabdian,” tegasnya.

Sekretaris Jenderal PB HMI, Muhammad Jusriyanto, mengingatkan bahwa LK II bukan sekadar forum pelatihan formal, melainkan bagian dari proses panjang kaderisasi yang harus dimanifestasikan dalam kehidupan kampus, organisasi, maupun masyarakat.

“Tantangan zaman semakin kompleks. Kebijakan pemerintah dari pusat hingga daerah berimplikasi pada cara berpikir generasi muda, khususnya generasi Z. Karena itu, kader HMI harus mampu mengontekstualisasikan ilmu dan nilai dalam ruang publik,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa peserta LK II merupakan kader pilihan dari berbagai daerah di Indonesia. Oleh sebab itu, kader dituntut untuk menguasai keahlian di bidang masing-masing agar mampu bertahan dan memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Baca Juga: Retribusi Administrasi Dihapus, Raperda Pajak Baru di Bondowoso Permudah Layanan Publik

Dalam kesempatan yang sama, Presidium MD KAHMI Bondowoso, Fricas Abdillah, menegaskan bahwa eksistensi HMI sejak berdiri pada 1947 hingga kini menjadi bukti kekuatan organisasi dalam mencetak kader bangsa.

“HMI mengajarkan kemandirian dalam mengelola organisasi. Pasca lulus LK II, kader harus menunjukkan peningkatan kualitas dan menjadi lebih baik dari sebelum mengikuti kegiatan ini,” ujarnya.

Menurut Fricas, keberhasilan kader tidak semata diukur dari hasil, melainkan dari proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh.

“Allah menilai proses, bukan hanya hasil. Jika prosesnya baik, maka hasilnya juga akan baik dan bernilai ibadah. Pemimpin yang baik adalah yang mampu melahirkan kader-kader baru,” tandasnya.

Ia pun menekankan pentingnya menjaga semangat silaturahmi dan komunikasi, serta terus mengingat tujuan dasar HMI sebagai organisasi perjuangan mahasiswa Islam.

Baca Juga: Bupati Bondowoso Resmi Buka Festival Ramadhan 2026, Dorong Ekonomi Rakyat dan Pelestarian Budaya

Kader HMI Mesti Berkiprah Di Desa

Sementara itu alumni HMI yang pernah menjabat Ketua Bidang PAO Badko HMI Jatim era 1999-2001, Yuristiarso Hidayat yang kini berprofesi sebagai Tenaga Ahli Pendamping Desa di Kabupaten Gresik sempat memberikan materi tentang Strategi Politik.

"Kunci dari semua strategi itu adalah persiapan yang matang dengan melakukan perencanaan secara mendalam guna memastikan semua tahapan strategi yang diterapkan bisa diimplementasikan dalam taktis lapangan sesuai medan dan kondisinya. Bila semua perencanaan yang jadi bagian penting Strategi itu dijalankan maka dipastikan semua peperangan didalamnya berupa pertempuran-pertempuran akan bisa dimenangkan," ungkap Yuris saat memberikan materi.

Pesan Yuris kepada adik-adiknya yang kini aktif di HMI agar kader-kader HMI mulai fokus pada medan strategis yang masih jarang dirambah.

"Medan pengabdian itu ada di Desa. Desa adalah Koentji Peradaban Modern Indonesia Emas 2045 mendatang. Kader-kader HMI mesti mulai merambah Desa untuk berkiprah dalam mewujudkan Misi Insan Cita," ujar Alumni Fisipol Universitas Jember itu. (ries/mmt)

Editor : Miftahul Rachman