Dari mimbar ke pasar kuasa, dari wahyu ke komoditas politik, dari iman ke industri tafsir.
Agama di Tangan Para Makelar Kebenaran
Oleh : Kusbachrul, SH
JatimUPdate.id - Yang sedang rusak hari ini bukan agama, melainkan cara manusia memakainya untuk berkuasa.
Di negeri yang tak pernah kekurangan orang saleh di panggung, kita justru kekurangan satu hal yang paling mendasar: keberanian untuk mengakui bahwa agama telah lama dijadikan alat. Ia dipakai untuk menertibkan pikiran, memanen kepatuhan, mengunci tafsir, menggoreng kecemasan publik, dan pada saat yang sama mengalirkan pengaruh kepada mereka yang mengaku paling berhak menjelaskan kehendak Tuhan. Yang tampak di permukaan memang ceramah, seruan moral, slogan kesalehan, dan kompetisi simbolik siapa paling religius. Namun di balik itu berdiri satu mesin yang jauh lebih rapi: jaringan kuasa yang hidup dari pengelolaan iman.
Masalah kita bukan bahwa masyarakat terlalu beragama. Masalahnya justru lebih serius: masyarakat terlalu sering beragama melalui perantara para pedagang kepastian. Mereka menjual rasa aman, membungkusnya dengan ayat, lalu mengemasnya sebagai kebenaran tunggal. Mereka tahu betul bahwa manusia yang cemas lebih mudah dituntun daripada manusia yang matang. Maka kecemasan itu terus diproduksi. Umat diberi tahu bahwa agama sedang terancam, moral sedang runtuh, tradisi sedang disabotase, identitas sedang diserang, dan satu-satunya jalan selamat adalah patuh kepada tafsir yang mereka keluarkan. Dari situlah lahir industri tafsir: pasar besar yang memperdagangkan ketakutan, kemarahan, dan rasa paling benar.
Di titik itu agama berhenti menjadi jalan pencarian. Ia diubah menjadi pagar identitas. Ia tak lagi memperluas jiwa, melainkan mempersempit dunia. Ia tidak lagi menjadi ruang penghayatan yang menuntut kejernihan akal, kerendahan hati, dan kepekaan terhadap sesama, melainkan menjadi sistem komando. Orang tidak lagi diajak memahami, tapi diminta tunduk. Tidak lagi dibiasakan berpikir, tapi dibentuk agar refleks curiga. Tidak lagi didorong menjadi dewasa di hadapan Tuhan, tapi dipelihara tetap kekanak-kanakan di hadapan otoritas agama.
Di sinilah kita harus mulai dengan kalimat yang keras: salah satu bencana terbesar dalam kehidupan beragama modern adalah ketika wahyu jatuh ke tangan para makelar kebenaran.
*Tuhan yang Disempitkan Menjadi Hak Milik Kelompok*
Tidak ada penyimpangan yang lebih berbahaya daripada ketika manusia merasa telah memiliki akses eksklusif kepada Tuhan. Sejak saat itu, agama tidak lagi dibaca sebagai petunjuk untuk memperbaiki diri, melainkan dijalankan sebagai lisensi untuk mengatur orang lain. Elite agama lalu tampil bukan sebagai penuntun etis, melainkan sebagai pengelola gerbang keselamatan. Mereka menentukan siapa lurus, siapa menyimpang, siapa suci, siapa tercemar, siapa boleh diterima, siapa patut dicurigai. Bahasa mereka mungkin terdengar sakral, tetapi mekanisme yang mereka bangun sangat duniawi: monopoli otoritas.
Monopoli itu bekerja dengan cara sederhana. Pertama, keragaman tafsir diperlakukan sebagai ancaman. Kedua, umat dibiasakan percaya bahwa keselamatan hanya aman di bawah satu komando. Ketiga, kritik terhadap elite agama digeser seolah-olah menjadi kritik terhadap agama itu sendiri. Maka setiap pertanyaan bisa dicurigai sebagai pembangkangan, setiap perbedaan bisa diolah menjadi bahaya, dan setiap usaha berpikir mandiri bisa dicap kesesatan dini.
Padahal sejarah agama justru kaya oleh perdebatan, pencarian, penafsiran ulang, dan pergulatan dengan konteks zaman. Tradisi yang hidup tidak pernah takut pada pertanyaan. Yang takut pada pertanyaan justru biasanya adalah otoritas yang rapuh. Karena itu, ketika elite agama tampak paling keras menutup ruang dialog, yang sebenarnya sedang mereka jaga bukan kesucian agama, melainkan posisi tawar mereka sendiri.
Tuhan lalu dipersempit menjadi stempel kelompok. Yang berbeda dipandang kurang beriman. Yang tidak ikut barisan dituduh menyeberang. Dan dari situ agama berubah dari jalan pembebasan menjadi teknik penggembalaan massa.
*Dari Ayat ke Pasar*
Begitu agama masuk ke logika pasar, yang laku bukan lagi kedalaman, melainkan kemasan. Ayat dipotong menjadi potongan video. Kutipan diubah menjadi slogan. Ceramah diproduksi seperti konten hiburan. Yang paling cepat menyebar bukan penjelasan yang teliti, tetapi kalimat yang menghantam emosi. Tafsir yang rumit kalah oleh vonis yang sederhana. Pemahaman yang jujur kalah oleh kepastian yang mudah dicerna.
Ini melahirkan ekosistem yang ganjil tetapi sangat menguntungkan. Makin keras isi ceramah, makin tinggi peluang viral. Makin tajam menunjuk musuh, makin besar pasar pengikut. Makin tegas membelah dunia menjadi kami dan mereka, makin mudah mendapat tempat di hati massa yang letih dan cemas. Kesalehan pun tunduk pada hukum perhatian. Penceramah tidak lagi harus paling dalam ilmunya; cukup paling menarik amarah publik.
Akibatnya fatal. Agama yang seharusnya membimbing manusia menghadapi kompleksitas hidup justru dipangkas menjadi paket moral instan. Orang tidak diajak memahami hubungan antara teks, konteks, sejarah, dan kemaslahatan. Mereka diberi jawaban cepat untuk persoalan rumit. Mereka dibentuk lebih suka hukuman daripada hikmah. Mereka merasa sedang membela Tuhan, padahal sering hanya sedang memuaskan naluri berkelompok.
Pasar agama semacam ini sangat lihai mengubah kecemasan menjadi loyalitas. Semakin umat gelisah, semakin besar kebutuhan mereka kepada figur yang tampak pasti. Dan para makelar kebenaran tahu betul bahwa kepastian adalah komoditas paling mahal di tengah zaman yang kacau.
*Politikus, Mimbar, dan Transaksi yang Disucikan*
Di ruang politik, agama selalu terlalu menggoda untuk tidak dipakai. Ia memberi aura moral, energi mobilisasi, dan legitimasi yang murah tetapi efektif. Politikus membutuhkan sentuhan sakral agar kepentingannya tampak luhur. Sementara sebagian elite agama membutuhkan kedekatan dengan kekuasaan agar pengaruhnya terjaga. Keduanya lalu bertemu dalam satu persekutuan yang tampak suci di permukaan, tetapi sesungguhnya sangat transaksional.
Di sinilah mimbar mulai kehilangan martabatnya. Ia tidak lagi tegak sebagai suara etik yang menegur kekuasaan, melainkan kerap bertekuk lutut sebagai perpanjangan dari kepentingan politik tertentu. Umat digiring untuk percaya bahwa keberpihakan kepada tokoh atau kubu tertentu adalah bagian dari kewajiban iman. Pilihan politik diselimuti aura moral. Persaingan kekuasaan didandani seolah perang antara yang saleh dan yang sesat.
Ketika itu terjadi, agama bukan lagi rem terhadap nafsu kuasa, melainkan bensin untuk mesin mobilisasi. Seruan keadilan berubah menjadi slogan musiman. Ayat ditarik masuk ke arena elektoral. Simbol suci dipakai sebagai properti kampanye. Dan begitu pemilu usai, umat yang tadi digiring dengan bahasa iman biasanya ditinggal dengan polarisasi, kecurigaan, dan luka sosial yang bertahan jauh lebih lama daripada masa kampanye.
Politik menyukai agama yang emosional, karena agama yang emosional mudah dipakai memecah warga. Elite agama yang sudah nyaman di orbit kekuasaan pun jarang punya insentif untuk meredam. Sebaliknya, ketegangan sering dibiarkan tetap hangat karena di situlah pasar pengaruh tetap hidup.
*Umat yang Dipelihara Tetap Bergantung*
Salah satu keberhasilan terbesar industri tafsir adalah membuat umat merasa tidak pernah cukup dewasa untuk berpikir sendiri. Mereka dibiasakan datang sebagai konsumen makna. Elite agama bertindak sebagai produsen kebenaran. Hubungan ini timpang sejak awal. Yang satu berbicara, yang lain menerima. Yang satu menetapkan, yang lain menyesuaikan. Yang satu memonopoli bahasa sah, yang lain hidup dalam ketakutan salah.
Padahal iman yang sehat justru menuntut tanggung jawab intelektual. Ia menghendaki manusia memakai akalnya, menimbang konteks, membaca sejarah, memahami dampak sosial, dan menyadari keterbatasannya sendiri. Tetapi dalam sistem yang dikuasai makelar kebenaran, tanggung jawab itu dianggap berbahaya. Umat yang terlalu matang tidak mudah dipelihara. Umat yang gemar bertanya tidak mudah digiring. Umat yang paham sejarah tidak gampang ditakut-takuti.
Karena itu yang diproduksi bukan kedewasaan, melainkan ketergantungan. Orang rajin mengutip, tetapi malas menelaah. Cepat marah, tetapi lambat merenung. Mudah menuduh, tetapi enggan memeriksa dirinya. Mereka hafal istilah kesalehan, tetapi gagap ketika harus menjelaskan bagaimana agama semestinya hadir dalam masyarakat majemuk, dalam negara modern, atau dalam konflik kepentingan yang riil.
Agama yang dikelola seperti ini tidak membentuk manusia merdeka. Ia membentuk pengikut yang patuh, cemas, dan mudah dikonsolidasikan.
*Budaya Diperlakukan Sebagai Terdakwa*
Di banyak tempat, agama yang telah ditangkap oleh nafsu pemurnian selalu punya musuh yang sama: budaya. Tradisi lokal dicurigai. Kearifan masyarakat dianggap noda. Simbol-simbol yang tumbuh dari sejarah setempat diposisikan sebagai gangguan terhadap kemurnian. Seolah agama baru dianggap suci jika telah steril dari jejak manusia dan tanah tempat ia hidup.
Pandangan seperti ini bukan hanya dangkal, tetapi juga ahistoris. Agama selalu datang ke dunia yang sudah punya bahasa, adat, ingatan kolektif, dan kebiasaan-kebiasaan hidup. Ia berjumpa dengan manusia konkret, bukan dengan makhluk abstrak. Karena itu, perjumpaan agama dan budaya bukan penyimpangan, melainkan keniscayaan sejarah.
Namun para makelar kebenaran memerlukan agama yang seragam agar mudah dikendalikan. Budaya lokal terlalu kaya nuansa, terlalu banyak kompromi, terlalu manusiawi. Ia sulit dijadikan alat komando. Maka budaya harus disederhanakan, disingkirkan, atau dipermalukan. Masyarakat dibuat curiga terhadap warisannya sendiri. Mereka diajari merasa berdosa terhadap bentuk-bentuk ekspresi yang dulu membuat agama terasa hangat dan dekat.
Yang lahir kemudian adalah agama yang dingin, kaku, dan miskin imajinasi sosial. Ia mungkin tampak disiplin, tetapi kehilangan keramahan. Ia mungkin tampak tertib, tetapi mudah menjadi kasar. Ia mungkin tampak tegas, tetapi sebenarnya rapuh karena tercerabut dari akar kebudayaan yang membuat manusia merasa berada di rumah.
*Krisis yang Sebenarnya: Hilangnya Kerendahan Hati*
Ada kualitas yang makin jarang ditemukan dalam kehidupan beragama publik: kerendahan hati di hadapan Yang Ilahi. Bukan kerendahan hati retoris, melainkan kesadaran sungguh-sungguh bahwa manusia selalu terbatas ketika berbicara tentang Tuhan. Kesadaran inilah yang semestinya membuat penafsir berhati-hati, tokoh agama tidak pongah, dan umat waspada pada klaim yang terlalu mutlak.
Yang terjadi justru kebalikannya. Semakin dangkal dasar intelektual seseorang, sering semakin absolut suaranya. Semakin politis agendanya, semakin religius bungkusnya. Semakin keras hasrat menguasainya, semakin sering ia menyebut nama Tuhan. Wahyu yang semestinya mengantar manusia pada kejernihan batin justru dibawa ke arena bising persaingan pengaruh.
Padahal orang yang benar-benar berjumpa dengan kedalaman agama biasanya tidak mudah sombong. Ia tahu bahwa teks suci memang mutlak, tetapi pembacaan manusia terhadap teks itu selalu terbuka pada kekeliruan. Ia paham bahwa Tuhan tidak bisa dikurung ke dalam kemarahan satu golongan. Ia sadar bahwa kesalehan tidak tumbuh dari kegemaran menghukum sesama.
Ketika kerendahan hati hilang, yang tersisa hanyalah agama sebagai identitas tempur.
*Membongkar Kartel Kesalehan*
Karena itu kritik kepada elite agama tidak cukup berhenti pada nasihat moral agar mereka lebih bijak. Yang harus dibongkar adalah kartel kesalehan: jaringan pengaruh yang mengatur siapa berhak bicara atas nama agama, tafsir mana boleh hidup, simbol mana sah, kelompok mana pantas dicurigai, dan kecemasan apa yang perlu terus dipelihara agar pasar kepatuhan tetap berjalan.
Kartel ini tidak selalu bekerja dengan ancaman terbuka. Kadang ia bekerja lewat mimbar, lewat organisasi, lewat media sosial, lewat tekanan simbolik, bahkan lewat algoritma yang menyukai kemarahan. Ia bisa tampil sebagai penjaga iman, padahal sesungguhnya ia sedang mengamankan posisi. Ia bisa terdengar sedang membela agama, padahal yang dibela adalah otoritasnya sendiri.
Membongkar kartel kesalehan bukan berarti memusuhi agama. Justru ini usaha menyelamatkan agama dari para penyewanya. Sebab terlalu lama agama diperlakukan seperti properti yang boleh dipasang logo kelompok, dijual sebagai komoditas pengaruh, dan dipakai sebagai alat menekan warga lain. Terlalu lama Tuhan diseret ke pasar identitas untuk mendongkrak reputasi manusia yang sesungguhnya haus kuasa.
Jika agama ingin kembali bermartabat, umat harus diperlakukan sebagai subjek moral, bukan pelanggan. Tafsir harus kembali menjadi medan tanggung jawab intelektual, bukan monopoli yang anti kritik. Politik harus dipaksa berdiri di atas argumen publik, bukan terus-menerus menumpang pada aura langit. Dan budaya harus dilihat sebagai ruang perjumpaan yang menghidupkan, bukan ancaman yang harus dibersihkan.
*Siapa Sebenarnya yang Menodai Agama?*
Pertanyaan paling jujur yang patut diajukan hari ini bukan lagi siapa yang menghina agama dari luar. Pertanyaannya: siapa yang setiap hari memperdagangkan agama dari dalam? Siapa yang mengubah iman menjadi alat tekan? Siapa yang menukar wahyu dengan pengaruh? Siapa yang memelihara ketakutan agar kepatuhan tidak pernah sepi pasar?
Sebab penodaan paling serius terhadap agama sering tidak datang dari para pengkritiknya, melainkan dari para pengelolanya yang terlalu rakus. Dari mereka yang menyebut nama Tuhan untuk menutup ruang berpikir. Dari mereka yang memakai tafsir sebagai tongkat komando. Dari mereka yang menjahit kepentingan kuasa dengan bahasa kesalehan. Dari mereka yang membelah masyarakat, lalu menjual diri sebagai penjaga ketertiban moral.
Agama tidak membutuhkan makelar. Wahyu tidak membutuhkan buzzer. Tuhan tidak membutuhkan kartel.
Yang dibutuhkan masyarakat adalah keberanian untuk membedakan antara agama sebagai jalan etik dan agama sebagai mesin kuasa. Selama perbedaan itu tidak dibongkar, kita akan terus hidup dalam ilusi kesalehan yang ramai di permukaan tetapi kosong di inti. Kita akan terus menyaksikan mimbar yang bising, umat yang cemas, politik yang licin, dan tafsir yang diperdagangkan seperti saham pengaruh.
Dan selama para makelar kebenaran itu masih dibiarkan menguasai panggung, agama akan terus kehilangan tugasnya yang paling mulia: membentuk manusia yang lebih adil, lebih jernih, dan lebih rendah hati. Bukan manusia yang paling gaduh menyebut Tuhan, melainkan yang paling sungguh-sungguh takut memakai nama-Nya untuk ambisi dirinya sendiri. (*)
Editor : Redaksi