Cerita Pendek

Mahkota Para Bayangan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi cerita pendak Mahkota Para Bayangan
Ilustrasi cerita pendak Mahkota Para Bayangan

JatimUPdate.id - Hujan turun membasahi ibu kota sejak petang. Jalan-jalan protokol dipenuhi lampu kendaraan yang memantul di atas aspal basah. 

Dari balik jendela sebuah gedung pencakar langit, kota itu tampak indah. Namun di balik keindahannya, kekuasaan sedang diperebutkan dengan cara-cara yang tidak pernah muncul dalam siaran berita.

Di lantai tiga puluh dua sebuah gedung perkantoran, lima orang duduk mengelilingi meja bundar.

Tak satu pun menyebut nama jabatan mereka. Tak ada logo partai. Tak ada lambang perusahaan. Bahkan telepon genggam mereka telah dikumpulkan di dalam kotak antisipenyadapan.

Ruangan itu sunyi. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun memecah keheningan.

"Kalau kita biarkan anak itu tumbuh dua tahun lagi, semua peta akan berubah." katanya 

Ia bernama Damar Bratakusuma. Seorang politisi senior yang puluhan tahun hidup di lingkaran kekuasaan. Tidak banyak tampil di depan kamera, tetapi hampir semua keputusan penting di partainya selalu melewati meja kerjanya.

Di hadapannya terbentang sebuah map hitam. Di halaman pertama hanya terdapat sebuah foto. Seorang pria muda mengenakan kemeja putih sedang berbincang dengan pedagang kaki lima sambil tertawa.

Namanya Adrian Kareem. Usianya baru tiga puluh lima tahun. Baru satu periode menjadi anggota legislatif, tetapi namanya mulai disebut-sebut sebagai calon pemimpin masa depan.

Survei elektabilitasnya terus naik. Pidatonya selalu dipotong menjadi video pendek dan menyebar di media sosial.

Pun setiap kunjungan kerjanya selalu dipenuhi anak-anak muda. Bagi masyarakat Adrian harapan baru. Namun bagi Damar, Adrian ancaman yang harus dihentikan.

"Banyak orang jatuh karena korupsi. Tapi anak ini tidak memberi kita sebuah celah." tuturnya

Seorang pria berkacamata di sebelahnya mencerna dengan perkataan Damar. Lelaki itu paham ia tidak senang dengan sepak terjang politisi muda itu.

Kemudian ia memberanikan diri bertanya. "Lalu bagaimana kita menjatuhkannya?" tanya dia.

Damar tersenyum tipis, ia tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Seolah dibenaknya sedang memikirkan cara jitu yang ampuh untuk menjatuhkannya.

"Kalau seseorang tidak punya dosa, bikin masyarakat percaya dia punya dosa." Damar kemudian terkekeh.

Ruangan kembali sunyi, kalimat itu terdengar biasa saja. Namun semua yang hadir memahami maksudnya. Yang dibutuhkan bukan kebenaran, hanyalah persepsi.

Malam itu juga sebuah mobil hitam berhenti di depan hotel berbintang lima. Seorang perempuan turun tanpa membawa pengawal. Rambut hitamnya terikat sederhana.

Gaunnya elegan namun tidak mencolok. Ia melangkah tenang menuju lift seolah sudah hafal setiap sudut bangunan itu. 

Namanya Elena. Sebagian orang mengenalnya sebagai konsultan komunikasi politik.

Sebagian lagi mengenalnya sebagai dosen tamu di beberapa universitas. Namun semua identitas itu hanyalah topeng. Pekerjaan Elena tidak pernah tercatat dalam dokumen resmi negara.

Ia operator intelijen swasta. Bukan mata-mata negara apalagi pembunuh bayaran. Ia lebih berbahaya karena senjatanya bukan pistol melainkan manusia.

Elena mampu membuat dua sahabat saling membenci, menghancurkan karier seseorang hanya dengan beberapa foto.

Pun mampu membuat seorang pejabat kehilangan jabatan tanpa pernah menyentuhnya. Di dunia tempat ia bekerja, metode itu dikenal sebagai honey trap.

Bukan cuma rayuan cinta melainkan operasi psikologis yang memanfaatkan rasa percaya, kesepian, ambisi, bahkan ego seseorang.

Tak sedikit menteri, hakim, hingga petinggi perusahaan tumbang karena operasi semacam itu. Dan malam ini, Elena menerima target baru. Damar menyerahkan map hitam kepadanya.

"Berapa lama waktu yang saya punya?" tanya Elena sambil menatap serius.

"Enam bulan." jawab Damar dengan nada angkuh 

Elena membuka halaman pertama. Ia memperhatikan foto Adrian cukup lama. 

Ia merinci latar belakangnya bersih, tidak punya utang, tidak punya perempuan simpanan, kebiasaa buruk belum ditemukan. 

"Kalau begitu kenapa harus saya?" tanya Elena, Damar tersenyum. Ia berharap kerjasama ini sesuai harapannya.

"Karena kalau dia tidak punya kelemahan... kamu yang harus menciptakannya," sergahnya.

                       ***

Keesokan harinya Adrian sedang menghadiri diskusi publik di sebuah kampus. Ia baru selesai berbicara tentang reformasi birokrasi ketika seorang perempuan menghampirinya.

"Pak Adrian?" sapa Elena

Mendengar sapaan itu, Andrian menoleh kebelakang tampak Elena tersenyum ramah kepadanya. 

"Ya?"

"Saya Elena. Saya mengikuti hampir semua pidato Anda."

Adrian juga tersenyum sopan. "Wah... berarti Anda cukup sabar." Elena ikut tertawa.

"Saya sedang menyusun penelitian tentang komunikasi politik generasi baru."

"Oh ya?"

"Saya ingin mewawancarai Anda suatu saat nanti." Adrian mengangguk.

"Tentu saja."

Percakapan itu hanya berlangsung tiga menit. Namun bagi Elena, tiga menit sudah cukup. Ia berhasil mencatat beberapa hal. 

Adrian selalu menatap mata lawan bicara. Tidak pernah memainkan telepon saat berbicara, juga tidak menyela. 

Ia juga tidak berusaha terlihat lebih pintar. Kebiasaan kecil seperti itu sering kali menunjukkan watak asli seseorang.

Dan Elena selalu memulai pekerjaannya dari watak. Bukan dari data. Namun selama tiga minggu berikutnya, Elena tidak melakukan apa pun. 

Ia hanya mengamati. Jam berapa Adrian bangun. Tempat favoritnya minum kopi. Siapa teman dekatnya.

Siapa staf yang paling dipercaya, dan isu apa yang sering ia tolak untuk wawancara. Bahkan makanan yang paling sering ia pesan pun dicatat.

Bagi orang biasa, semua itu tampak sepele. Namun bagi Elena manusia selalu meninggalkan pola. 

Dan setiap pola bisa menjadi pintu masuk. Laporan demi laporan mulai memenuhi meja Elena.

                        ***

Adrian hampir tidak pernah keluar malam, tak suka klub eksklusif, tidak berjudi, tidak minum alkohol. Hubungannya dengan keluarga juga sangat baik.

Ia bahkan masih rutin mengunjungi gurunya di desa setiap dua bulan sekali. Elena mulai merasa pekerjaannya tidak akan mudah.

Sebab target seperti Adrian sangat jarang. Semakin lama mengamati, semakin sedikit celah yang ditemukan. Sebulan berlalu Damar mulai kehilangan kesabaran.

"Mana hasilnya?" tanya Damar geram, ia melototi wajah Elena, tangannya mengepal ia menggebrak meja. Namun ia menahannya.

Sementara Elena tetap tenang, ia tidak terpancing dengan amarah yang ditampakkan oleh Damar. 

"Dia berbeda." tukasnya.

"Semua targetmu dulu juga berbeda." sergah Damar 

"Bukan begitu." jawab Elena.

"Lalu?"

Elena meletakkan sebuah map. "Saya belum menemukan kelemahan yang bisa menghancurkannya."

Damar tertawa kecil. "Kamu terlalu banyak memakai perasaan."

"Saya memakai fakta." sergah Elena

"Kalau faktanya bersih, ciptakan fakta baru." desak Damar

Kalimat itu membuat Elena diam, ia tahu maksud Damar bukan lagi mencari kesalahan. Melainkan merekayasa keadaan agar terlihat seolah-olah Adrian melakukan kesalahan.

Cara itu jauh lebih berbahaya. Karena sekali berita menyebar, bantahan apa pun sering kali terlambat.

Damar berdiri sambil merapikan jasnya.

"Dengar baik-baik saya tidak peduli bagaimana caranya, dalam tiga bulan ke depan, masyarakat harus percaya bahwa Adrian Kareem tidak pantas memimpin."

Tanpa menunggu jawaban, Damar keluar dari ruangan.

Elena masih duduk memandangi foto Adrian. Entah mengapa, untuk pertama kalinya dalam kariernya, ia merasa target kali ini bukan hanya target. Ia seperti sedang berdiri di persimpangan.

Di satu sisi ada uang dalam jumlah besar. Di sisi lain ada seseorang yang mungkin akan kehilangan seluruh hidupnya karena sebuah kebohongan.

Dan Elena belum tahu orang yang memerintahkannya ternyata juga sedang menyiapkan jebakan untuk dirinya sendiri. (Bersambung)

*) Oleh Roy Arudam