Menata Kota Berkelanjutan
Oleh: Machsus
Wakil Rektor 2 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS); Anggota Komunitas S36A; Wakil Bendahara Forum Studi Transportasi Antar Perguruan Tinggi (FSTPT)
JatimUPdate.id - Kota adalah simpul peradaban. Di dalamnya manusia bekerja, belajar, bergerak, berinteraksi, dan menautkan harapan akan masa depan. Lantaran itu, kota tidak boleh dipandang semata sebagai kumpulan gedung, jalan, dan pusat ekonomi. Kota adalah ruang hidup bersama, yakni tempat negara hadir, warga bergerak, dan peradaban diuji.
Hari ini, kota-kota besar di Indonesia menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Urbanisasi, kemacetan, banjir, pencemaran, keterbatasan ruang terbuka hijau, tekanan kawasan pesisir, hingga perubahan iklim menuntut cara pandang baru. Kota tidak cukup hanya tumbuh besar. Kota harus tumbuh benar menjadi kota yang sehat, tangguh, inklusif, dan berkeadilan.
Kota dan SDGs
Agenda kota berkelanjutan sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 11 tentang kota dan permukiman yang inklusif, aman, tangguh, dan berkelanjutan. Namun, pembangunan kota juga berkaitan dengan kesehatan, air bersih, infrastruktur, aksi iklim, dan kemitraan. Artinya, kota tidak bisa ditata secara sektoral. Kota harus dikelola sebagai ekosistem kehidupan.
Surabaya memberi pelajaran penting. Sebagai kota metropolitan sekaligus kota pesisir, Surabaya memiliki modal besar, yakni ekonomi yang bergerak, pelabuhan dan industri, sungai dan bozem, kampung-kampung yang hidup, serta perguruan tinggi sebagai pusat ilmu dan inovasi. Namun, Surabaya juga menghadapi tantangan nyata, seperti kepadatan, mobilitas warga, risiko banjir, tekanan lingkungan, parkir liar, dan kebutuhan integrasi transportasi. Di sinilah Surabaya dapat menjadi laboratorium pembelajaran bagi kota-kota besar Indonesia.
Tumbuh Berkualitas
Pembangunan kota tidak boleh berhenti pada pertanyaan tentang berapa banyak gedung dibangun, berapa panjang jalan ditambah, atau berapa besar investasi masuk. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah warga hidup lebih sehat, lebih aman, lebih mudah bergerak, dan lebih bermartabat?
Kota yang berhasil adalah kota yang meningkatkan kualitas hidup warganya. Pandangan Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi 1998, melalui Development as Freedom (1999), menegaskan bahwa pembangunan sejatinya adalah perluasan kebebasan manusia. Jadi, keberhasilan kota tidak cukup diukur dari gedung, jalan, atau investasi, tetapi dari kemampuannya memperluas kesempatan warga untuk hidup sehat, bergerak aman, mengakses layanan publik, dan tumbuh secara bermartabat.
Kota yang baik bukan hanya cepat membangun, tetapi cermat merawat. Jalan yang mantap, drainase yang berfungsi, trotoar yang aman, halte yang nyaman, taman yang teduh, dan layanan publik yang mudah dijangkau adalah tanda bahwa kota hadir untuk warganya. Di sanalah pembangunan tidak hanya tampak di peta, tetapi terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Pesisir Tangguh
Sebagai kota pesisir, Surabaya menghadapi tantangan ekologis yang khas. Banjir rob, kenaikan muka air laut, penurunan tanah, tekanan kawasan pantai, dan perubahan iklim harus dibaca sebagai peringatan dini. Kota tidak boleh hanya bertanya di mana kita bisa membangun, tetapi juga harus bertanya apakah ruang itu aman, tangguh, dan layak diwariskan.
Lantaran itu, sungai, bozem, drainase, ruang resapan, dan kawasan hijau harus ditempatkan sebagai infrastruktur utama ketahanan kota. Sungai bukan halaman belakang pembangunan, melainkan wajah peradaban. Bozem bukan sekadar tampungan air, melainkan benteng ekologis kota.
Menata kota pesisir berarti membangun dengan kesadaran ruang dan waktu. Kesadaran bahwa keputusan hari ini akan menentukan keselamatan warga esok hari.
Mobilitas Manusia
Wajah kota sangat ditentukan oleh cara warganya bergerak. Kota yang baik bukan kota yang memanjakan kendaraan pribadi, tetapi kota yang memuliakan mobilitas manusia. Pejalan kaki, pengguna transportasi publik, pesepeda, lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas harus menjadi ukuran utama keberhasilan sistem transportasi.
Kemacetan bukan sekadar soal waktu tempuh. Ia adalah pemborosan energi, peningkatan emisi, hilangnya produktivitas, dan berkurangnya kualitas hidup. Setiap menit yang hilang di jalan adalah bagian dari kesempatan hidup yang ikut terbuang.
Lantaran itu, Surabaya perlu terus memperkuat transportasi publik terintegrasi, trotoar yang layak, jalur sepeda yang aman, angkutan massal berbasis rel maupun bus, serta manajemen lalu lintas berbasis data. Penanganan parkir liar juga harus dilihat secara utuh, bukan hanya soal penertiban, tetapi soal tata kelola ruang, ketersediaan layanan, dan pilihan mobilitas warga.
Kota yang maju bukan kota yang memaksa semua orang memiliki kendaraan pribadi. Kota yang maju adalah kota yang membuat warganya tetap bermartabat ketika berjalan kaki, naik bus, bersepeda, atau menggunakan kereta.
Kampung sebagai Fondasi
Kekuatan banyak kota Indonesia terletak pada kampungnya. Kampung bukan sekadar permukiman padat. Kampung adalah ruang sosial, ekonomi, budaya, dan solidaritas warga. Di kampung, kota memiliki akar. Di kampung, gotong royong menemukan bentuknya.
Lantaran itu, pembangunan kota tidak boleh hanya berpusat pada kawasan bisnis, pusat komersial, atau proyek-proyek besar. Kota yang maju adalah kota yang tidak meninggalkan kampungnya.
Revitalisasi kampung, perbaikan sanitasi, penguatan drainase, pengelolaan sampah berbasis warga, ruang terbuka komunal, dan pemberdayaan ekonomi lokal harus menjadi bagian dari agenda besar kota berkelanjutan. Keberlanjutan sering kali tidak dimulai dari ruang rapat besar, tetapi dari gang kecil; dari warga yang memilah sampah, merawat saluran, menjaga taman, dan saling peduli.
Teknologi Manusiawi
Kota masa depan tentu membutuhkan teknologi. Kecerdasan buatan, Internet of Things, sistem informasi geografis, big data, dan digital twin dapat membantu pemerintah mengambil keputusan secara lebih cepat, akurat, dan berbasis bukti.
Namun, kota tidak boleh terjebak pada jargon smart city. Kota pintar bukan kota yang paling banyak perangkat digitalnya, tetapi kota yang paling cerdas menyelesaikan masalah warganya. Teknologi harus membantu mengatasi banjir, kemacetan, sampah, kualitas udara, keselamatan jalan, efisiensi energi, dan layanan publik.
Di sinilah kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan lembaga riset perlu bekerja bersama. Riset harus turun menjadi solusi. Inovasi harus sampai kepada warga. Data harus berubah menjadi kebijakan, dan kebijakan harus berubah menjadi manfaat.
Pada akhirnya, menata kota berkelanjutan berarti menata masa depan Indonesia. Kota harus memberi ruang bagi pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak boleh mengorbankan lingkungan. Kota harus memperkuat daya saing, tetapi tidak boleh meninggalkan kelompok rentan. Kota harus memanfaatkan teknologi, tetapi tidak boleh kehilangan kemanusiaannya.
Surabaya memiliki modal besar untuk menjadi model kota berkelanjutan yang khas
Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan kampung yang hidup, sungai dan bozem, kekuatan ekonomi, perguruan tinggi, komunitas warga, serta tradisi ruang publik yang kuat. Dengan modal itu, Surabaya dapat menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar membangun kota yang megah, melainkan menghadirkan kota yang layak dihuni.
Sebab, kota terbaik bukanlah kota yang paling tinggi gedungnya, tetapi kota yang paling tinggi kepeduliannya kepada manusia. Untuk hari ini, esok, dan untuk generasi yang akan datang.
Keterangan:
Artikel tersebut dikembangkan dari pemikiran penulis, yang disampaikan pada Program Ranah Publik bertajuk "Menata Kota Berkelanjutan" akan disiarkan secara langsung melalui YouTube Suara Muslim TV pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul 08.00–09.00 WIB, menghadirkan Prof. Dr. M. Nafik Hadi Ryandono, S.E., M.Si. (Guru Besar Ekonomi dan Keuangan Islam FEB Unair sekaligus Ketua Umum MPP Majelis Sarjana Ekonomi Islam) dan Dr. Ir. Machsus, S.T., M.T. (Wakil Rektor II ITS) sebagai narasumber, dengan Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo, S.H., M.Hum. (Guru Besar Fakultas Hukum Unair dan Ketua Bidang Hukum dan Kerja Sama MUI Jawa Timur) sebagai pensyarah serta dipandu oleh Muhammad Nashir, yang juga dapat diikuti melalui jaringan Radio Suara Muslim di FM 93.8 Surabaya, FM 89.9 Lumajang, FM 88.7 Tuban, FM 97.0 Batu, maupun layanan streaming di www.suaramuslim.net/radio, dengan kesempatan interaksi melalui 0855 3000 938 atau (031) 5624 555.
Editor : Redaksi