Memoar Untuk Prof. dr. H. Aslim D. Sihotang, Sp.M(K-VR)
Retina Langit : Profesor Mata Itu Akhirnya Menutup Mata
Oleh: Muhammad Joni
Sekjen PP IKA USU
Medan, JatimUPdate.id - Jumat, 10 Juli 2026.
Seorang dokter mata akhirnya menutup mata.
Prof. dr. H. Aslim D. Sihotang, Sp.M(K-VR), berpulang ke rahmatullah.
Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.
Ada kematian yang segera menjadi berita. Namanya melintas di layar. Karangan bunga berdiri. Ucapan duka beredar. Beberapa hari kemudian, dunia kembali berisik.
Ada pula kepergian yang memaksa kita membuka lembar demi lembar kehidupan seseorang.
Semakin dibuka, semakin kita terdiam. Prof. Aslim agaknya termasuk yang kedua.
Mula-mula kita mengenalnya dari deretan gelar dan jejak pengabdian.
Dokter.
Spesialis mata.
Konsultan vitreo-retina.
Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Mantan Dekan FK USU.
Dewan Penasihat KAHMI.
Pendiri dan dokter senior Rumah Sakit Khusus Mata Medan Baru.
Curriculum vitae yang kokoh.
Dia menghabiskan hidup pada salah satu organ paling rumit sekaligus paling puitis dalam tubuh manusia: mata.
Lebih khusus lagi, retina.
Lapisan tipis di belakang mata. Tempat cahaya diterima, diubah menjadi pesan, lalu dikirim ke otak.
Dari retina manusia mengenali wajah ibunya. Membaca huruf pertama. Menatap anaknya lahir. Melihat langit.
Dan membaca Al-Qur'an.
Prof. Aslim menjaga wilayah cahaya itu. Tetapi rupanya kita akan keliru apabila membaca hidupnya hanya dari jurnal kedokteran, ruang kuliah, meja operasi, dan lorong rumah sakit.
Setelah beliau berpulang, saya menerima catatan dari Dr. Zahrin Piliang, mantan Ketua Umum HMI Cabang Medan 1983-1984 yang kini pakar pendidikan.
“Saya tak banyak dapat data tentang Prof. Aslim Sihotang,” tulisnya. Zahrin menduga Bang Bidin, dr. Abidinsyah Siregar, mungkin lebih banyak memahami sosok almarhum.
Lalu ia menulis satu kalimat pendek. “Almarhum banyak berkhidmat di bidang keagamaan.”
Saya berhenti pada kata itu.
Berkhidmat.
Bukan berkarier.
Bukan mengumpulkan jabatan. Bukan membangun monumen untuk namanya sendiri.
Berkhidmat.
Zahrin menyebut Pesantren Tahfizhul Qur'an Abdur Rahman bin 'Auf di kawasan Tritura, Titi Kuning, Medan.
Prof. Aslim mempunyai jejak di sana. Jejak tentang pesantren itu mencatat namanya sebagai ketua yayasan dan donatur tetap. Sekitar 1996, pesantren memusatkan pendidikannya pada tahfiz Al-Qur'an.
Anak-anak datang.
Belajar.
Menghafal.
Tinggal.
Mondok.
Dibiayai. Pendidikan diberikan tanpa pungutan.
Tiba-tiba seluruh gelar akademik Prof. Aslim memperoleh tafsir lain.
Seorang ahli retina membangun pesantren tahfiz.
Seorang dokter yang sepanjang hidup menjaga agar cahaya sampai ke mata manusia, diam-diam menyiapkan tempat agar cahaya Al-Qur'an sampai ke dada anak-anak.
Mungkin itu kebetulan.
Tetapi hidup orang baik kadang mempunyai metaforanya sendiri.
Di rumah sakit, Prof. Aslim menjaga mata.
Di kampus, kakanda membuka pikiran muridnya.
Di pesantren, dia menjaga Al-Qur'an Karim.
Mata. Pikiran. Hati.
Tiga ruang.
Satu cahaya.
Dr. Zahrin juga menyebut dukungan Prof. Aslim terhadap dakwah di daerah-daerah minoritas.
Kemudian ada jejak yang lebih jauh. Jauh sekali dari Medan.
Gaza.
Prof. Aslim dikenal sebagai salah seorang donatur pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza.
Saya terdiam lagi.
Seorang dokter mata di Medan memikirkan rumah sakit di tanah Palestina.
Ia mungkin tidak mengenal pasien-pasien yang kelak masuk ke sana.
Tidak tahu nama mereka.
Tidak pernah memeriksa retina mereka.
Tetapi kemanusiaan memang tidak membutuhkan kartu keluarga.
Khidmat tidak mengenal batas negara. Dan iman tidak pernah bertanya: seberapa jauh Gaza dari Medan?Ribuan kilometer.
Tetapi bagi hati yang hidup, penderitaan selalu terasa dekat.
Barangkali karena jejak panjang itulah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Sumatera Utara pernah menempatkan nama Prof. Dr. dr. H. Aslim Sihotang di antara 28 penerima KAHMI Award.
Penghargaan itu diberikan kepada tokoh-tokoh yang dinilai mempunyai kontribusi dalam berbagai bidang keilmuan dan keumatan di Sumatera Utara.
Nama Prof. Aslim berdiri bersama nama-nama seperti Prof. Dr. H. Usman Pelly, MA, Prof. Dr. Hj. Djanius Djamin, dan H. Bachtiar Chamsyah, SE.
Tetapi bagi saya, yang penting bukan pialanya.
Bukan seremoni.
Bukan tepuk tangan di ruangan.
Yang jauh lebih penting adalah dua kata yang menjadi alasan penghargaan itu diberikan: keilmuan dan keumatan.
Dua kata itu seperti merangkum jalan hidup Prof. Aslim.
Ilmu tidak membuatnya menjauh dari umat. Dan pengabdian kepada umat tidak membuatnya meninggalkan ilmu.
Tak hanya profesor, tetapi juga dermawan.
Tak cuman dokter mata ahli retina, tetapi juga penjaga pesantren anak manusia.
Bukan hanya akademisi, tetapi ikut memikirkan dakwah di daerah minoritas. Yang hidup di Medan, tetapi hatinya sampai ke Gaza.
Ilmu naik ke kepala. Iman turun ke tangan. Di situlah khidmat bekerja.
Namun anehnya, jejak kedermawanan Prof. Aslim tidak selalu mudah ditemukan.
Mengapa?
Mungkin karena ia tidak sibuk mencatatnya.
Ada generasi yang ketika memberi tidak memanggil fotografer.
Ketika membantu pesantren tidak memasang baliho.
Ketika menopang dakwah tidak meminta namanya disebut dari mimbar.
Ketika membantu rumah sakit di Gaza tidak membuat film tentang dirinya sendiri.
Mereka bekerja.
Memberi.
Mendoakan.
Lalu pulang.
Hari ini kita hidup pada zaman ketika satu kantong beras bisa melahirkan tiga puluh foto. Satu sedekah menjadi video. Satu kunjungan menjadi banyak konten.
Kadang kamera tiba lebih dahulu daripada pertolongan.
Prof. Aslim datang dari generasi lain. Generasi amal sunyi.
Amal sunyi mempunyai satu kelemahan: ia menyulitkan penulis obituari.
Tetapi amal sunyi mempunyai satu kelebihan: langit tidak pernah kehilangan datanya.
Manusia boleh lupa.
Arsip bisa hilang.
Foto menguning.
Mesin pencari boleh gagal menemukan.
Tetapi tidak satu kebaikan pun luput dari penglihatan Allah.
Di situ saya kembali memikirkan retina. Retina manusia mempunyai keterbatasan. Sebab retina membutuhkan cahaya. Dalam gelap, kita tidak melihat. Terlalu jauh, menjadi samar. Terlalu kecil, bisa luput.
Tetapi ada penglihatan yang tidak mengenal gelap.
Tidak membutuhkan kamera.
Tidak memerlukan dokumentasi. Tidak meminta saksi manusia.
Itulah penglihatan Tuhan.
Barangkali di sanalah seluruh khidmat Prof. Aslim tersimpan sempurna. Pada retina langit.
Bayangkan sebuah malam di pesantren itu. Seorang santri duduk bersila. Prof. Aslim mungkin tidak pernah mengenalnya.
Anak itu membuka mushaf.
Bibir kecilnya bergerak perlahan.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin...
Ia mengulang.
Salah.
Mengulang lagi.
Sampai hafal.
Tahun berganti.
Anak itu dewasa.
Menjadi imam.
Menjadi guru.
Mungkin menjadi da'i di daerah minoritas.
Ia mengajarkan Al-Qur'an kepada anak-anak lain.
Satu menjadi sepuluh.
Sepuluh menjadi seratus.
Seratus menjelma ribuan bacaan ayat.
Nun jauh di Gaza, mungkin seorang pasien pernah dibaringkan di sebuah rumah sakit yang pembangunannya ikut ditopang tangan-tangan dermawan dari Indonesia.
Mungkin tak seorang pun dari mereka pernah bersalaman dengan Prof. Aslim Sihotang.
Tidak mengapa.
Sebab amal jariah tidak mensyaratkan penerimanya mengenal pemberinya.
Cukuplah Allah mengenal keduanya.
Hari itu, bulan Juli 2026.
Jenazah Prof. Aslim dikebumikan di Medan.
Keluarga besar kedokteran berduka.
FK USU kehilangan seorang guru besar dan mantan dekan.
KAHMI kehilangan seorang penasihat.
Murid-murid kehilangan guru.
Masyarakat kehilangan seorang dermawan.
Dokter mata itu akhirnya menutup mata.
Retinanya berhenti menerima cahaya dunia. Dia tak lagi melihat ruang operasi.
Tak lagi membaca jurnal.
Tak lagi menatap murid-muridnya.
Tetapi mungkin pada hari yang sama, seorang hafiz membaca ayat yang dahulu dapat dihafalnya karena ada pesantren yang pernah dijaga Prof. Aslim.
Di daerah minoritas, dakwah yang pernah ditopangnya mungkin masih berjalan.
Dan jauh di Gaza, nama Indonesia masih tertulis pada sebuah rumah sakit.
Ayat itu naik.
Doa itu naik.
Khidmat itu tinggal.
KAHMI Award telah mencatatnya di bumi: keilmuan dan keumatan.
Tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana langit mencatat seluruh amal sunyinya.
Prof. Aslim telah selesai memeriksa retina manusia.
Kini seluruh hidupnya berada di hadapan Yang Maha Melihat.
Selamat jalan, Prof. Aslim Sihotang.
Mata itu telah terpejam.
Cahaya dunia telah pergi dari retinanya. Tetapi pada retina langit—cahayanya mungkin baru saja menyala.
Tabik.
Editor : Redaksi