Hilangnya Rasa Takut fan Permainan Topeng Di Panggung Zaman
Oleh: Hadipras
JatimUPdate.id - Di sebuah sudut warung kopi, seorang kawan melempar gambar berlatar wajah Mark Twain. Di sana tertulis kalimat yang menusuk nurani: "politik adalah satu-satunya profesi yang memungkinkan seseorang berbohong, mencuri, menipu, dan merampok, tetapi tetap dihormati."
Kalimat itu bukan sekadar sindiran usang dari abad kesembilan belas. Ia adalah cermin retak yang memantulkan paras zaman kita hari ini.
Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih mengerikan melintas di benak: "jika di dunia ini panggung kekuasaan sanggup merias kebohongan menjadi kebiasaan yang wajar, bagaimana kelak urusannya dengan 'afterlife'—pertanggungjawaban di hadapan Yang Mahakuasa?"
Pertanyaan itu membawa kita pada sebuah muara yang kian keruh. Masalahnya hari ini bukan lagi sekadar bahaya mereka yang tidak percaya Tuhan. Tragedi yang jauh lebih menakutkan justru lahir dari mereka yang ngaku beriman, rajin merapikan religiusitasnya, tetapi tak lagi memiliki rasa takut (khauf) sedikit pun di dalam dadanya. Ketika takwa tergerus menjadi formalisme ritual belaka, batas moral menguap tanpa bekas. Tuhan dijadikan stempel legitimasi, sementara perilakunya menanggalkan keadilan.
Jika kepada Tuhan yang Maha Melihat saja manusia tidak lagi memiliki rasa takut, lantas batas moral mana lagi yang sanggup menahan keserakahan?
Bayangan Distopia: Ketika Malu Tak Lagi Ada
Distopia adalah dunia yang terlihat maju, tapi sebenarnya rusak, menindas dan seram.Kita mungkin sedang mengetuk pintu sebuah era baru yang dingin: era ketika rasa malu telah mati. Dahulu, sanksi sosial adalah benteng terakhir pertahanan sebuah peradaban. Seseorang yang terbukti lancang menipu publik atau merampok hak rakyat akan bersembunyi dari tatapan tetangga, menutup wajah dari cemooh warga.
Hari ini, benteng itu runtuh. Di bawah kilatan kamera dan keheningan algoritma digital, manipulasi tidak lagi dipandang sebagai cela, melainkan disanjung sebagai "kecerdasan beradaptasi." Kebohongan yang diulang-ulang dengan kemasan rapi diubah menjadi narasi kebenaran. Yang lancang dan lihai bersilat kata justru diberi karpet merah, diundang ke panggung-panggung terhormat, dan disambut tepuk tangan riuh.
Ketika hukum duniawi bisa dipesan dan tawar-menawar norma menjadi kebiasaan, manusia merasa berada di atas angin. Ada halusinasi keberhasilan (illusion of impunity) yang menipu akal sehat: seolah-olah jika selamat dari jerat hukum manusia dan tetap dipuja warga, maka ia telah memenangkan kehidupan.
Padahal, secara sosiologis maupun filosofis, sebuah masyarakat yang kehilangan batas moral sedang berjalan menuju kelumpuhan sistemik. Moralitas bukanlah sekadar dogma melangit yang abstrak; ia adalah perekat (social glue) paling mendasar dalam tatanan bernegara dan bermasyarakat. Tanpa adanya rasa percaya (basic trust), biaya sosial-politik menjadi sangat mahal. Kontrak-kontrak sosial runtuh, hukum menjadi lelucon, dan manusia kembali ke hukum rimba: yang kuat memangsa yang lemah.
Timbangan Akhir dan Akal Sehat
Panggung dunia memang lihai memelihara sandiwara. Di sini, topeng kekuasaan bisa dipakai hingga nafas terakhir. Namun, bagi mereka yang masih merawat nurani, 'afterlife' bukan sekadar konsep eskatologis tentang surga dan neraka. Ia adalah simbol keadilan hakiki—sebuah pengadilan tanpa perantara, tanpa pengacara bayaran, dan tanpa rekayasa pasal. Di sana, panggung dirobohkan, dan topeng dipaksa tanggal.
Namun, apakah kita harus menunggu pengadilan akhirat untuk melihat peradaban ini membaik? Tentu tidak.
Sejarah selalu mengajarkan pola ayunan pendulum. Manusia tidak akan sanggup hidup selamanya di dalam kebohongan yang membakar rumahnya sendiri. Akan tiba satu titik di mana masyarakat mengalami kelelahan ekstrem (extreme fatigue) akibat himpitan kepalsuan. Dari titik kulminasi penderitaan itulah biasanya tumbuh kembali kesadaran mendasar: bahwa kejujuran, etika, dan keadilan bukanlah pilihan kemewahan, melainkan syarat mutlak untuk bertahan hidup bersama.
Sebelum titik balik itu menagih harga yang terlalu mahal, tugas kita hari ini adalah menjaga kantong-kantong akal sehat. Di ruang-ruang diskusi yang jernih, di warung-warung nalar, di balik pena para cendekia, dan di dalam keheningan doa-doa orang bersahaja, batas moral itu harus terus dirawat.
Dunia mungkin makin bising oleh mereka yang menanggalkan rasa takut.
Namun, selama masih ada pikiran yang jernih dan nurani yang mau bertindak, kebenaran tidak akan sepenuhnya kehilangan kompasnya. Topeng mungkin bisa bertahan sepanjang pertunjukan duniawi, tetapi sejarah—dan keabadian—selalu mencatat wajah yang sebenarnya.
Editor : Redaksi