Kepala SPPG Nongol lalu Minta Maaf, Korban Bertambah Menjadi 566 Siswa

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Foto Ai hanya ilustrasi
Foto Ai hanya ilustrasi

 

Oleh Rosadi Jamani

 

Sidoarjo, JatimUPdate.id - Kisah keracunan massal di Ponpes Manbaul Hikam belum tamat.

Malah makin panjang dan bikin kepala geleng-geleng. Kalau awalnya korban disebut masih 400-an orang, hari ini angkanya sudah melonjak menjadi 566 orang. Ternyata, korbannya bukan cuma santri.

Ada anak sekolah lain yang ikut menjadi korban. Artinya, ini bukan lagi cerita satu pondok pesantren.

Korban 566 orang itu berasal dari 19 lembaga pendidikan di wilayah Tanggulangin, mulai pondok pesantren, SD, SMP, SMA, hingga TK. 

Nuan bayangkan. Anak-anak TK mestinya pulang membawa cerita tentang gambar, lagu, dan permainan, malah harus berurusan dengan muntah, diare, bahkan rumah sakit. MBG kok ujung-ujungnya jadi “Makan Bikin Geger”.

Ketika jumlah korban terus bertambah, Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho, akhirnya nongol juga. Ia meminta maaf secara terbuka kepada publik atas insiden keracunan massal tersebut.

“Mohon maaf ya, saya menyesal,” kata Rafli Ridho kepada awak media, Rabu (2/9/2026).

Pendek kalimatnya. Panjang persoalannya. Sebab sedang dibicarakan bukan sekadar nasi salah masak. Di balik angka 566 ada anak-anak kesakitan, orang tua panik, tenaga medis bekerja, dan publik yang bertanya, bagaimana makanan seharusnya bergizi bisa berubah menjadi petaka?

Nah, kronologinya justru bikin alis naik sebelah.

Kepala SPPG Kalitengah menjelaskan proses memasak dimulai pukul 05.30 WIB. Sedangkan makanan didistribusikan ke sekolah penerima sekitar pukul 11.00 WIB. Ada jeda sekitar 5,5 jam.

Masalahnya, Rafli juga mengakui makanan matang dikirim hanya bertahan sekitar empat jam pada suhu ruang. Lho, bagaimana ini? Kalau mulai masak pukul 05.30 WIB, masa empat jam itu kira-kira habis pukul 09.30 WIB. Kok makanan baru didistribusikan pukul 11.00 WIB?

Ini makanan atau ikut tes ketahanan hidup? Sebelum disantap, makanan juga disebut harus melalui uji organoleptik oleh PIC dari pihak sekolah. PIC menyatakan makanan aman. Tapi hasil akhirnya, 566 orang mengalami muntah dan diare.

Kalau memang aman, berarti ada mata rantai pengawasan harus dibongkar. Jangan sampai kata “aman” hanya berhenti di meja pemeriksaan. Sementara perut korban berkata sebaliknya.

Yang lebih bikin geleng-geleng, SPPG Kalitengah ternyata memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak menjelaskan, SLHS menilai sistem serta kelayakan sarana-prasarana, bukan jaminan mutlak, setiap makanan pasti aman.

Selain SLHS, SPPG tersebut juga mengantongi sertifikat halal. Sementara sebagian besar tenaga penjamah makanan telah mengikuti sertifikasi penjamah makanan. Administrasinya lengkap. Sertifikatnya ada. Tapi ujungnya 566 orang jadi korban.

Ini seperti mobil surat-suratnya lengkap, SIM ada, STNK ada, lulus uji kelayakan, begitu jalan malah nyungsep.

Dari 566 korban, 470 orang sudah diperbolehkan pulang. Sementara 88 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Operasional SPPG Kalitengah kemudian dihentikan sementara sejak Selasa malam.

Bupati Sidoarjo juga mengungkapkan dari 170 SPPG di wilayahnya, terdapat 31 SPPG belum memiliki izin dan diperintahkan berhenti beroperasi sementara. Ada 31 SPPG tak ada izin, tapi diizinkan, lalu dihentikan. Duh, pusing kepala babi. 

Sampel makanan dan muntahan korban sudah diambil untuk pemeriksaan laboratorium.

Hasilnya diperkirakan keluar sekitar satu minggu. Kita tunggu hasilnya. Tapi satu hal jangan ditunggu, pertanggungjawaban. Tapi, sepertinya berujung, ada korban, tapi tak ada pelakunya, alias no tersangka.

Perlu diingat, korban itu anak orang. Bukan anak tikus. Permintaan maaf Rafli tentu patut dihargai. Tetapi maaf bukan tombol reset. Tidak serta-merta menghapus rasa sakit 566 korban dan kecemasan orang tua mereka.

Kalau terbukti ada kelalaian, jangan berhenti pada kata menyesal. Bongkar. Evaluasi. Tindak. Kalau ada pelanggaran hukum, proses sesuai hukum. Tapi, bagian ini akan sama dengan cerita keracunan seblumnya. 

 


#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM