Pondokgede, 3 September 2026
Persoalan Struktural Kenapa Harga Beras Naik Terus
Oleh Khudori
Pengamat Komoditas Pangan, Alumni Universitas Jember
Jakarta, JatimUPdate.id - HARGA beras kembali naik. Dari Juli ke Agustus 2026, merujuk data BPS 1 September 2026, harga beras di pengilingan (produsen), grosir (pasar), dan eceran (konsumen) berturut-turut naik 1,32%, 0,80%, dan 0,42%.
Berarti dari Januari hingga Agustus 2026 harga beras di pengilingan, grosir, dan eceran terus naik. Delapan bulan berturut-turut. Tidak ada jeda. Termasuk saat panen raya Februari-Mei lalu.
Bahkan, ketika produksi melimpah saat puncak panen raya April 2026, harga beras tetap naik.
Ini adalah rekor. Rekor lain yang patut dicatat adalah selama delapan bulan beruntun pula harga beras selalu menjadi penyumbang inflasi. Tidak selalu menjadi penyumbang utama. Tapi tidak pernah absen.
Pada Agustus 2026, beras menjadi penyumbang inflasi untuk kategori harga bergejolak (volatile foods) bersama daging ayam ras dan cabai rawit.
Rekor ini melengkapi rekor lainnya di industri perberasan: stok beras di gudang BULOG mencapai 5,2 juta ton alias tertinggi sepanjang sejarah Republik.
Bagi masyarakat awam, kenaikan harga beras sekaligus sebagai penyumbang inflasi delapan bulan beruntun amat membingungkan.
Bukankah Indonesia sudah swasembada beras? Bukankah negara ini, versi pemerintah, telah mengekspor beras? Bukankah produksi padi belum ada gangguan berarti? Bukankah stok di BULOG volumenya jumbo dan tertinggi sepanjang sejarah? Bukankah stok di masyarakat, versi pemerintah, tinggi: lebih 12 juta ton? Mengapa indikasi produksi melimpah tak tercermin di harga?
Kalau kenaikan harga beras terjadi seminggu dua minggu, amat mungkin ada spekulan yang bermain-main untuk menangguk untung.
Akan tetapi, kalau kenaikan harga berlangsung berbilang minggu dan bahkan berbulan-bulan, perlu diperiksa lebih teliti. Pernyataan dan klaim sepihak bahwa stok cukup, bahkan melimpah, tak lagi memadai.
Kenyataannya beras premium sulit didapatkan di retail modern. Stok produsen beras dan penggilingan menipis: dari semula mencapai bulanan menjadi hanya harian.
Oleh karena itu, hemat penulis, ada persoalan struktural yang membuat harga beras terus naik.
Pertama, harga pokok produksi beras terus naik.
Kenaikan terjadi seiring naiknya harga gabah. Sejak kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) sembarang kualitas di petani Rp6.500/kg, Februari 2025, harga gabah selalu di atas HPP.
Di sejumlah daerah, harga gabah Rp7.700/kg, bahkan melampaui Rp8.000/kg. Gabah adalah bahan baku beras. Ketika harga bahan baku naik, harga beras juga akan ikut naik.
Kedua, kompetisi memperebutkan gabah di pasar tetap sengit. Ini terjadi karena BULOG masih terus mengejar pencapaian target pengadaan setara 4 juta ton beras. Per 26 Agustus 2026, pengadaan tercapai 3,719 juta ton beras.
Terdiri dari cadangan beras pemerintah (CBP) 3,65 juta ton dan komersial 64 ribu ton. Target pengadaan BULOG di sejumlah daerah sudah tercapai.
Tapi karena secara nasional belum terpenuhi 4 juta ton beras, target cabang/daerah BULOG yang belum tercapai dapat digeser. Harga gabah potensial terus naik seiring langkah BULOG tetap menyerap meski target tercapai.
Ketiga, produksi mulai melandai sejak Juni 2026. Produksi yang menurun adalah siklus tahunan. Karena memasuki musim gadu, yakni Juni-September.
Merujuk data BPS, produksi gabah kering giling (GKG) pada Juni, Juli, Agustus, dan September 2026 berturut-turut 4,29 juta ton, 4,79 juta ton, 5,63 juta ton, dan 5,83 juta ton. Ada kecenderungan naik, tapi produksi ini lebih rendah dari puncak panen raya di Maret dan April 2026 yang masing-masing mencapai 8,71 juta ton dan 7,63 juta ton GKG.
Ketika produksi melandai, sementara persaingan membeli gabah tetap ketat, harga akan terdorong naik. Kemampuan produksi gabah saat ini hanya seperempat kapasitas produksi penggilingan padi.
Ketika BULOG masuk ke pasar menjadi pembeli awal dalam jumlah besar, kompetisi semakin tidak keruan. Sejumlah penggilingan dan produsen beras mengurangi produksi atau berhenti berproduksi.
Karena mereka tidak bisa berjualan lagi. Kalau menjual di atas harga eceran tertinggi (HET), akan berurusan dengan Satgas Pangan POLRI. Jika menjual sesuai HET, produsen akan merugi.
Untuk menyiasati impitan HET, sebagian produsen memproduksi beras khusus, yakni beras fortifikasi. Sebagian lagi menjual beras curah.
Penjualan beras secara curah memungkinkan produsen menjual beras di atas HET atau menurunkan kualitas beras, baik kadar air, derajat sosoh maupun kandungan patahan.
Siasat produsen ini, sudah tentu, punya andil mengerek harga beras. Akan tetapi, hemat saya, perannya tidak dominan.
Karena produsen beras premium kemasan yang mengalihkan sebagian produksi ke beras fortifikasi dan beras curah jumlahnya terbatas. Produsen yang menjual beras curah di atas HET bukan tanpa risiko: tiap saat bisa disoal aparat.
Keempat, peran beras SPHP (stabilisasi pasokan dan harga pangan) dalam stabilisasi harga terbatas. Memang ada kecenderungan aliran harian operasi pasar beras SPHP naik pada hari kerja: 7.000-8.000 ton per hari.
Akan tetapi, aliran hanya 1.000-2.000 ton per hari saat hari libur atau akhir pekan. Ujung-ujungnya, aliran harian beras SPHP tetap tidak nendang. Bantuan pangan beras periode Juli-September 2026, per 26 Agustus 2026, baru tersalur 103,2 ribu ton dari target 997,3 ribu ton.
Merujuk data BULOG per 31 Agustus 2026, penyaluran beras SPHP mencapai 731,23 ribu ton dari target 828 ribu ton. Dari jumlah itu, 275,6 ribu ton (37,69%) mengalir melalui instansi pelaksana gerakan pangan murah, kemudian rumah pangan kita 171,1 ribu ton (23,4%), pengecer di pasar rakyat 168,5 ribu ton (23,04%), 68,5 ribu ton (9,4%) outlet pangan atau koperasi binaan pemda, dan hanya 23,6 ribu ton (3,2%) di retail modern. Kalau harga beras di pasar tetap naik, kemungkinannya ada empat: jumlah aliran kurang besar, BULOG "salah obat" jenis beras, salah tempat jualan, dan ada isu kualitas.
Referensi:
- https://www.detik.com/jatim/bisnis/d-8605544/semringah-petani-lamongan-saat-harga-gabah-tembus-rp-8-200-kg
- https://www.inilahkoran.id/harga-gabah-di-pantura-jabar-tembus-rp8000-petani-nikmati-kebijakan-hpp-baru
- https://www.kompas.id/artikel/kenaikan-harga-gabah-picu-gejolak-harga-beras-di-lampung
- https://makassar.antaranews.com/berita/634715/meski-harga-tinggi-bulog-makassar-mulai-serap-gabah-petani
- Sutarto Alimoeso. 2025. Peran Penggilingan Padi Dalam Stabilisasi Pasokan dan Harga. Forum Group for Solution di Bappenas, 6 Oktober 2025.
- BULOG. 2026. Upaya Perum BULOG Dalam Stabilisasi Harga Pangan. Rapat pengendalian inflasi, 27 Agustus 2026.
- BPS. 2026. Berita Resmi Statistik, 2 Februari 2026, 3 Maret 2026, 1 April 2026, 4 Mei 2026, 2 Juni 2026, 1 Juli 2026, 3 Agustus 2026, dan 1 September 2026.
Editor : Redaksi