Pemakaian Gadget pada Balita Cukup 1 Jam Sehari. Titik.
Surabaya, JatimUPdate.id — Penggunaan gadget pada anak usia balita menjadi perhatian serius para orang tua.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan edukasi yang digelar Rumah Broadcast Indonesia (RBI) bertajuk “GADGET DI TANGAN BALITA, SOLUSI PRAKTIS ATAU BOOM WAKTU?”
Kegiatan yang diikuti para orang tua siswa Rumah Broadcast Public Speaking (RBPS) ini menghadirkan Mira Dian H., S.Psi, CPS, CCLS, sebagai pembicara. Antusiasme peserta terlihat cukup besar.
Para orang tua aktif mengikuti pemaparan sekaligus berdiskusi mengenai kebiasaan anak menggunakan smartphone maupun perangkat digital lainnya.
Dalam pemaparannya, Mira Dian mengingatkan agar penggunaan gadget pada anak balita sebisa mungkin dihindarkan.
Menurutnya, gadget memang sering menjadi solusi praktis bagi orang tua ketika membutuhkan anak untuk tenang atau memiliki aktivitas sendiri.
Namun, penggunaan yang tidak terkontrol dapat menimbulkan persoalan dalam tumbuh kembang anak.
Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah keterlambatan bicara atau speech delay.
Minimnya interaksi langsung antara anak dengan orang tua maupun lingkungan sekitar dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam perkembangan kemampuan komunikasi anak.
“Kalau bisa, penggunaan gadget pada anak dihindarkan. Jangan sampai gadget menjadi pengganti interaksi orang tua dengan anak,” demikian pesan yang ditekankan dalam kegiatan tersebut.
Sebab, ketika anak sudah mengalami speech delay, persoalannya tidak berhenti pada kemampuan berbicara saja.
Orang tua kemudian perlu melakukan berbagai upaya untuk mengejar perkembangan anak, termasuk memberikan stimulasi dan pendampingan yang lebih intensif.
Namun, apabila dalam kondisi tertentu gadget memang harus digunakan, orang tua disarankan membatasi waktunya secara ketat, cukup sekitar satu jam dalam sehari, serta tetap mendampingi dan memperhatikan apa yang dikonsumsi anak melalui layar.
Kegiatan ini sekaligus mengajak para orang tua untuk melihat gadget bukan semata-mata sebagai “musuh” atau “penolong”, melainkan sebagai alat yang penggunaannya perlu dikendalikan.
Pesan sederhananya: kalau memang harus menggunakan gadget, cukup satu jam sehari. Titik.
Selebihnya, berikan anak kesempatan untuk bermain, bergerak, berbicara, bereksplorasi, dan yang paling penting—berinteraksi langsung dengan orang-orang di sekitarnya.
Antusiasme peserta dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan penggunaan gadget pada balita memang menjadi perhatian penting bagi keluarga.
RBI berharap kegiatan edukasi semacam ini dapat terus dilakukan agar semakin banyak orang tua memahami pentingnya pendampingan tumbuh kembang anak di tengah perkembangan teknologi digital. (roy/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat