Kisah Sultan Iskandar Mohammad Djabir Sjah dari Cengkeraman Dai Nippon

Malam Tanpa Bulan di Ternate: Pelarian Epik Sultan, Pesta Darah, dan Janji Pembebas

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Keterangan Gambar: Ekslusif
Keterangan Gambar: Ekslusif

Ternate, JatimUpdate.id Pada malam 8 Oktober 1944, ketika bulan tak menampakkan diri di langit, Sultan Ternate Iskandar Mohammad Djabir Sjah meninggalkan istananya secara diam-diam. Bersama dua istrinya, delapan anak, para pelayan, dan sejumlah besar bagasi, ia menembus perbukitan, aliran lava, hujan, dan jurang licin menuju pantai utara.

Di belakangnya terbentang Ternate yang dikuasai Jepang. Di depannya, Hiri, Morotai, dan harapan akan kembalinya kekuasaan Sekutu. Namun sebelum kapal penyelamat datang, rombongan kerajaan harus menyaksikan sebuah pertempuran yang berubah menjadi tragedi.

Setelah Perang Dunia II usai, Kedaton Ternate tak ubahnya panggung kemenangan yang bergemuruh. Selama berminggu-minggu, aura legenda menyelimuti pulau itu lewat tari-tarian, nyanyian, dan alunan musik.

Para pemuda-pemudi Ternate datang sukarela membersihkan Kedaton dari atas ke bawah dengan air dan sabun, seolah menjalankan misi suci untuk menyapu bersih kenangan kelam masa pendudukan.

Di pusat perayaan itu berdiri Iskandar Mohammad Djabir Sjah, Sultan Ternate yang memerintah sebelum perang dan dikenal tercerahkan serta ramah.

Ia kembali dari pengungsian, bersiap berkeliling menemui rakyatnya dengan kapal motor dari Morotai—pengganti kapal pesiar pribadinya yang hancur ditembak Sekutu karena keliru disangka kapal Jepang.

Namun, di balik gegap gempita perayaan pascaperang itu, tersimpan tragedi pelarian maut yang penuh linangan air mata, pengorbanan, dan pesta darah.

Penderitaan Ternate bermula pada 7 April 1942. Siang itu, ketenangan Kedaton dikoyak serbuan serdadu Jepang yang merangsek ke beranda depan, merampas segala yang mereka anggap berharga dan memasukkannya ke saku.

Beruntung, keserakahan yang tergesa-gesa membuat mata mereka melewatkan sebuah peti tua. Peti itu berisi pusaka keluarga yang sangat antik: helm tempaan emas dan perak, rapier, lampu gantung, hingga bokal bersejarah peninggalan Portugis, Spanyol, serta hadiah dari Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC).

Berkat ketangkasan para penjaga Kedaton, harta karun tak ternilai itu segera diamankan ke tempat rahasia di pedalaman.

Nahas bagi sang Sultan, mobil pribadinya turut dirampas hari itu. Ketika dipanggil menghadap laksamana armada invasi Jepang, ia tak punya pilihan selain mengayuh sepeda ke dermaga dengan hati gundah.

Para perwira Jepang menyambutnya dengan angkuh, membawanya menaiki sekoci motor menuju kapal laksamana, dan melontarkan ancaman. Sang laksamana menyombongkan bahwa Dai Nippon telah membereskan Amerika, Inggris, dan Belanda, lalu memaksa Sultan tunduk tanpa banyak bicara.

Dengan taktik cerdik, Sultan pura-pura memahami “nasihat” itu—sebuah kompromi diplomatis yang untuk sementara berhasil menjauhkan Ternate dari garis depan peperangan.

Ketegangan memuncak ketika pasukan Sekutu merebut Pulau Morotai. Angin perlawanan mulai berhembus, dan hubungan rahasia Sultan dengan Sekutu kembali dipulihkan. Para utusan rahasia bergerak bolak-balik dengan penuh siasat. Pada tengah malam, Kedaton kerap menerima orang-orang dari pulau lain untuk menggelar pertemuan tertutup.

Pihak Jepang perlahan mencium gelagat itu. Namun mereka sulit menembus tembok intelijen istana karena para penjaga Kedaton mengawasi dengan tajam dan tak kenal ampun terhadap siapa pun yang berkeliaran di malam hari. Jepang sebenarnya bisa mengeksekusi Sultan sebagai mata-mata, tetapi mereka sadar akan risiko fatalnya: Sultan sangat dicintai rakyatnya. Mengeksekusinya sama saja menyulut pemberontakan umum—prospek yang mengerikan bagi garnisun kecil Jepang yang mulai tidak nyaman menjelang akhir perang. Terlebih, kekejaman serdadu Jepang telah menyalakan kebencian membara di dada rakyat Ternate.

Demi membebaskan Ternate dari cengkeraman fasisme, Sekutu harus lebih dulu mengevakuasi Sultan agar tidak dijadikan sandera. Melalui seorang utusan, Sekutu bertanya apakah Sultan bersedia menempuh perjalanan berbahaya ke Morotai. Tanpa keraguan, ia menyetujuinya.

Menembus Malam, Meninggalkan Air Mata

Rencana pelarian itu terdengar bak epik dari Timur. Ditetapkan pada malam tanpa bulan, 8 Oktober 1944, rombongan berangkat dalam keheningan. Khawatir akan pembalasan keji tentara Jepang terhadap anggota keluarga yang ditinggalkan, Sultan membawa serta kedua istrinya, delapan anak mereka, dan rombongan pelayan setia yang memikul banyak bagasi. Dipandu seorang penunjuk jalan tepercaya, mereka menyeberangi perbukitan menuju sisi utara Ternate, lalu berlayar dengan perahu ke pulau kecil Hiri. Di Hiri, pasukan pendarat gabungan Belanda-Australia telah bersiaga melindungi mereka sambil menunggu dua kapal motor torpedo dari Morotai.

Rute menembus hutan itu menjelma siksaan fisik yang mengiris hati. Sang Permaisuri, yang sedang hamil tua dan diperkirakan melahirkan dalam beberapa minggu, harus memaksakan diri berjalan. Anak bungsu mereka digendong melintasi kegelapan malam, sementara yang lain tersandung akar pohon, tergelincir di dinding jurang licin, hingga harus memanjat bongkahan lava dan batu hitam yang mengoyak kulit tangan. Menambah malapetaka, hujan deras mengguyur tanpa henti. Di titik nadirnya, perempuan hamil itu kehilangan keberanian dan ambruk terisak di tepi jalan. Sang pemandu susah payah menenangkannya, hingga rombongan akhirnya bangkit menyongsong cahaya fajar yang menyingkap lautan luas di hadapan mereka.

Mereka tiba di sebuah kampung terdekat. Penduduk kampung yang hanya nelayan miskin itu terkejut sekaligus gembira menerima kunjungan mendadak pemimpin mereka. Kaum perempuan segera menyiapkan nasi dan semangkuk santan kelapa segar yang dingin untuk Sultan.

Namun, ketakutan menyelimuti para nelayan saat menyadari banyaknya barang bawaan rombongan. Mereka meratap memohon: “Djooe, Tuan, Anda tetap bersama kami, bukan? Lalu bagaimana nasib kami jika Anda tidak lagi berada di sini untuk melindungi kami dari orang-orang Jepang?” Dengan hati teriris haru, Sultan Ternate menatap rakyatnya di pantai terpencil itu. Ia berjanji perpisahan itu hanya sementara dan kelak ia akan kembali sebagai pembebas. Diiringi isak kaum ibu dan hela napas para lelaki yang berusaha tabah, para pemuda nelayan menggendong keluarga Sultan menembus ombak menuju perahu, lalu berlayar ke Hiri.

Amuk dan Pesta Darah

Di pesisir Hiri, Kapten Belanda Krol dan Letnan Brunings—penggagas pelarian itu—bersama beberapa perwira, prajurit, dan sekitar empat puluh gerilyawan Hiri bersenjata senapan telah bersiap menanti.

Mereka harus bertahan dengan kekuatan sendiri hingga keesokan hari pukul dua belas siang, batas waktu kedatangan kapal penjemput.

Nahas, pelarian itu segera terendus. Sore harinya, tentara Jepang menyerbu kampung nelayan Ternate dan memaksa penduduk menyiapkan perahu layak untuk mengejar Sultan.

Namun, seolah alam ikut campur, selat sempit antara Ternate dan Hiri tiba-tiba menggelegak diamuk gelombang buas yang tak sanggup dilewati perahu mana pun. Pasukan Jepang terpaksa menunda pengejaran dan bermalam di kampung itu, menebar teror hebat hingga anak-anak pun tak berani memejamkan mata.

Barulah keesokan paginya Jepang berhasil menyeberang dan mendarat di Hiri, memanfaatkan kelengahan seorang penjaga yang melamun.

Mereka segera memasang senapan mesin kurang dari 200 meter dari posisi keluarga Sultan. Pertempuran hidup mati pun pecah. Pada fase awal, Jepang tampak di atas angin; dua perwira Australia dan kepala kampung—pemimpin pejuang Hiri—gugur seketika.

Khawatir gerilyawan akan panik, Sultan hendak mengambil alih komando, tetapi dicegah keras oleh Kapten Krol yang bertugas menjaga keselamatan nyawanya.

Kekhawatiran itu ternyata tidak terbukti. Kehilangan pemimpin justru membakar naluri tempur orang-orang Hiri. Sambil meneriakkan pekik perang kuno Maluku yang mengerikan, mereka membuang segala taktik pertempuran Barat yang pernah dipelajari.

Menantang maut, mereka mengamuk menerjang senapan mesin hanya dengan pedang pribumi yang diasah tajam. Dalam pembantaian brutal itu, seluruh serdadu Jepang ditumpas habis hingga orang terakhir.

Namun, letupan kekerasan itu menuntut bayaran teramat perih. Hasrat membunuh yang bangkit menjadi pesta darah tak lagi bisa dikendalikan siapa pun.

Para pejuang Hiri yang dibutakan amarah turut membantai nelayan Ternate tak berdosa—orang-orang sebangsa yang dipaksa musuh mengawaki perahu mereka. Firasat buruk para nelayan pada pagi sebelumnya di pantai Ternate terbukti secara tragis.

Satu jam setelah badai darah usai, pesawat tempur Spitfire membelah langit, memastikan tak ada lagi perahu Jepang yang berani menyeberang selat.

Tepat pukul dua belas siang, dua kapal motor torpedo melesat membelah air, mengevakuasi rombongan kerajaan menuju Morotai. Di sana, Sultan disambut gempita dan diangkat sebagai penasihat staf Sekutu.

Sementara itu, istri dan anak-anaknya segera diberangkatkan ke persembunyian aman di Australia, tempat sang Permaisuri pada waktunya melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat.

Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan sering kali menuntut pengorbanan darah dari orang-orang tak berdosa. Kematian tragis para nelayan Ternate di pesisir Hiri menjadi harga mahal sebuah pembebasan.

Namun, seperti ksatria yang memegang sabdanya, Sultan Iskandar Mohammad Djabir Sjah tidak pernah melupakan tangis ketakutan rakyatnya di pinggir pantai. Setelah badai fasisme berlalu, ia kembali menemui mereka. Ia pulang bukan sekadar untuk menduduki singgasana, melainkan untuk menegaskan namanya sebagai sang pembebas sejati. (#)