Agenda Ganda Syahganda

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Iswandi Syahputra, Gubes UIN Sunan Kalijogo, Mantan Peneliti PAN Asia Research and Communication Services (Lembaga Yang Didirikan Oleh Alm Ekky Syahruchddin/Tokoh Eksponen 66)
Iswandi Syahputra, Gubes UIN Sunan Kalijogo, Mantan Peneliti PAN Asia Research and Communication Services (Lembaga Yang Didirikan Oleh Alm Ekky Syahruchddin/Tokoh Eksponen 66)

 

Oleh Iswandi Syahputra

Guru besar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijogo, Mantan Peneliti PAN Asia Research and Communication Services (Lembaga Yang Didirikan Oleh Alm Ekky Syahruchddin/Tokoh Eksponen 66)

 

Yogyakarta, JatimUPdate.id - Syahganda Nainggolan ditunjuk Presiden Prabowo Subianto sebagai Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI. Sejak awal dibentuk, Badan negara ini sangat penting dan strategis sebagai garda terdepan perang opini melawan hoaks dan disinformasi sebagai bentuk polusi informasi. 

Presiden bisa jadi tidak salah memilihnya setelah Kepala badan sebelumnya terlihat agak tergopoh-gopoh berselencar dalam gelombang informasi yang menerpa reputasi pemerintah. 

Sebab, pengalaman dan jaringan Bang Ganda (demikian biasa saya sapa) tidak diragukan. Aktivis sejak menjadi mahasiswa ITB. Jam terbangnya dalam aktivitas media digital juga sangat tinggi, karena selalu mengandalkan debat dengan argumen, data dan wawasan dari literatur yang dibacanya. 

Bang Ganda merupakan teman diskusi yang selalu bisa menemukan insight baru dan juga sahabat yang setia pada kawan. Semua level sosial-ekonomi-politik dikawaninya dengan hangat dan terbuka.
 
Namun, mengelola komunikasi publik pada era aktivisme digital saat ini, tidak cukup dengan pengalaman, jaringan, kedekatan dan kehangatan. 

Kepala Bakom adalah Panglima dalam perang informasi yang tidak mengenal waktu dan tempat, tidak mengenal sasaran dan siapa yang terlibat. Kebencian, fitnah, atau hoaks yang ditujukan pada pemerintah saat ini dapat dikemas dalam bentuk informasi yang disebar kapan saja dan dimana saja dengan mudah dan murah, menyebar tanpa bisa memilih dan memilah siapa sasaran penerimanya. Karena itu, Bang Ganda butuh prioritas agenda.

Sebagai Guru Besar Ilmu Komunikasi, saya menawarkan Dua Agenda:

Dua Agenda

Saking seriusnya perang di sektor informasi dan komunikasi ini, pemerintah menaikkan anggaran dari sekitar Rp 22–25 miliar pada tahun 2026 menjadi Rp 1,9 triliun tahun 2027.

Ini menunjukkan bahwa ke depan, sektor pengelolaan informasi, opini dan komunikasi publik pemerintah menjadi perhatian serius yang harus dibenahi. 

Sehingga semua praktik baik pemerintah, khususnya Presiden Prabowo Subianto, diterima sebagai sebuah pelayanan dan pengabdian yang berdampak pada masyarakat luas.

Pertama, agenda di bagian hulu komunikasi.

Pada bagian ini perlu dikaji sebagai agenda tantangan kerja pertama Syahganda: menemukan semacam Apa _Unique Selling Proposition_(USP) dari Presiden Prabowo Subianto?

Menemukannya tidak mudah, apalagi menurunkannya dalam strategi komunikasi yang baik dan benar. Butuh refleksi, pengamatan dan penghayatan yang mendalam agar sampai ke esensi yang diinginkan. 

Saya membayangkan fase pada sektor hulu ini sedikit rumit karena karakter unik yang dimiliki Presiden Prabowo Subianto. 

Prabowo seperti kelihatannya tidak begitu nyaman dengan berbagai bentuk ‘kemasan’ agar dapat duduk pada puncak eksistensi, yang penuh dengan puja dan puji bukan apresiasi. Apresiasi berbeda dengan puja puji 

Sebab, melampaui eksistensi itu, sebagai Presiden, Prabowo terlalu baik hati karena ingin bekerja dengan penuh kejujuran yang otentik, keikhlasan yang tulus, dan pengorbanan tanpa pamrih. Semuanya untuk kebaikan rakyat Indonesia.

Karena itu, Parbowo tidak mengejar eksistensi, tapi fokus pada pada ‘isi’ dan esensi. 

Akibatnya, muncul jarak yang semakin jauh dari apa yang Prabowo pikirkan dengan kesan yang diterima oleh rakyat. 

Dalam hal ini, bukan Prabowo yang salah menyampaikan pesan, bukan rakyat yang keliru menerima kesan, tapi perancang strategi komunikasi yang belum dapat menemukan pola dan cara yang baik dalam menyampaikan pesan baik, dari praktik baik, sehingga diterima dengan baik, agar tercipta iklim yang baik.
 
Kedua, agenda di bagian hilir komunikasi. 

Pada bagian ini perlu dikaji sebagai agenda tantangan kerja kedua Syahganda: Seperti apa wajah pemerintah (khususnya wajah Presiden Prabowo Subianto), bukan saja di mata dan pikiran publik, tapi di dalam ingatan, kenangan dan memori panjang bangsa Indonesia kelak?

Sebaik apapun kinerja pemerintah, kebaikan itu tidak akan diterima dan menempel dalam ingatan panjang publik tanpa rancangan delivery strategy yang relevan. 

Artinya, bagaimana era pemerintahan Presiden Prabowo ingin dikenang oleh rakyatnya kelak, tergantung bagaimana cara Bakom mengemas apa yang ingin diingat oleh rakyat terhadap Presiden Prabowo. 

Merawat daya ingat positif, inilah investasi sosial jangka panjang yang kelak tidak ternilai bahkan oleh jabatan apapun. Presiden Prabowo ingin dikenang rakyat Indonesia kelak sebagai apa? 

- Soekarno, Bapak Proklamator.
- Soeharto, Bapak Pembangunan.
- Habibie, Bapak Teknologi
- Gus Dur, Bapak Pluralisme
- Megawati, Ibu Penegak Konstitusi
- SBY, Bapak Perdamaian
- Jokowi, Bapak Konstruksi Infrastruktur

Apakah Prabowo, ingin dikenang rakyat Indonesia sebagai Bapak Gizi dan Koperasi? atau Bapak Sosialisme Kerakyatan yang peduli dan murah hati?

Pada bagian hilir ini, akan mengandaikan Bakom masuk dalam ruang riuh aktivisme digital yang mempertemukan berbagai jenis pemikiran, gagasan, kritik, intrik, kebencian, hoaks, fitnah dan berbagai praktik buruk disinformasi lainnya. 

Dapat dipastikan Bakom akan kesulitan memasuki ruang perang aktivisme digital pada bagian hilir ini jika pada bagian hulu komunikasi belum menemukan pesan apa yang ingin dipertahankan, dinegosiasikan, dikaburkan hingga sampai harus dilawan. 

Seperti yang kita lihat, yang terjadi kemudian Bakom lebih reaktif daripada proaktif dalam aktivisme digital.

Situasi semakin rumit, karena strategi komunikasi yang dirancang tidak ditopang dengan kajian akademik mendalam. Padahal, berbagai riset tentang berbagai aktivitas komunikasi di era digital tersebut dapat digunakan sebagai modal dalam menyusun strategi komunikasi yang relevan. 

Misalnya:
Ekonomi tumbuh, tapi mengapa rakyat masih mengeluh?

Menjawab pertanyaan ini tidak dapat sekedar mengandalkan juru bicara Bakom atau mengerahkan jasa para konten kreator. Perlu kajian singkat atau riset mini sebagai modal dalam menyusun strategi komunikasi yang relevan. 

Pada bagian ini, Bakom seperti pembawa pesan yang berfungsi sebagai jembatan penghubung antara sektor hulu dan hilir komunikasi. 

Pada bagian hulu, kemampuan memahami karakter kepemimpinan Presiden Prabowo yang saintifik dapat dijadikan modal untuk menyusun strategi komunikasi berbasis riset. 

Pada bagian hilir, kemampuan memahami karakter aktivitas digital dapat dijadikan petunjuk mendisain strategi komunikasi yang efektif.

Pada intinya, dalam berbagai literatur dijelaskan bahwa aktivisme digital, algoritma bekerja secara negatif. Setiap tambahan satu kata atau narasi negatif, rata-rata akan meningkatkan rasio klik sekitar 2,3 persen. Bahasa, berita, informasi atau narasi negatif paling kuat ditemukan jika terkait dengan pemerintahan. Sehingga netizen lebih mudah tertarik pada narasi yang menampilkan konflik politik, kegagalan pemerintah, ancaman ekonomi, krisis, atau kerugian. 

Aktivisme algoritma negatif ini akan semakin massif karena stimulant para opinion maker yang saat ini diisi oleh para buzzer dan clipper.

Padahal, teori dasar dalam studi opini publik menjelaskan, warga bukan tidak memiliki pendapat pada isu publik. Mereka hanya tidak (belum) menemukan kelompok referensi dalam berpendapat. 

Bayangkan jika aktivisme digital dipenuhi oleh buzzer dan clipper dalam iklim algoritma negatif, sumbu ledakan sinisme terhadap pemerintah lebih pendek untuk meledak dan lebih cepat menyebar melebihi kecepatan suara. 

Bagaimana caranya algoritma negatif itu bekerja dalam aktivisme digital? Saya berikan ilustrasi cerita sebagai berikut:

NETIZEN (N) 
PRESIDEN (P)

N1: Pak Prabowo, Bapak lebih suka ayam goreng apa gulai kambing?
P: Ayam goreng
N1: Pakai tepung atau tidak Pak?
P: Pakai tepung
N1: Model ayam goreng QFC yaaa Pak?
P: Yaaaa, kurang lebih mirip begitulah.

Demi like, gift dan monetisasi kemudian muncul konten:

VIRAL!!!
Presiden Lebih Suka Ayam Goreng QFC Model Amerika dan Tidak Suka Gulai Kambing Tradisional Indonesia.

N2 sebagai konten kreator kemudian membuat konten:

TERLALU!!! Gaya Hidup Presiden Kebarat-baratan

Si B, Bikin Status di IG, FB, X, TikTok:

Hati-hati Presiden mendukung bisnis liberal kapitalis daripada pertumbuhan ekonomi kerakyatan.

N3 menulis berita di laman online abal-abal:

Presiden benci pada daging kambing makanan Rasulullah SAW

Si A nge-tweet, nge-share, nge-like:

Astaghfirullah. Ada upaya penyesatan Akhlak. Kambing yang disukai Rasulullah SAW dianggap tidak baik oleh Presiden. Kita akan digiring ke cara pandang Kafir.

Buzzer anonim, konten kreaktor dan para clipper kemudian mengambil alih percakapan.

Akhirnya, kendati ekonomi tumbuh, rakyat tetap saja mengeluh, padahal pemerintah sudah bekerja penuh peluh…

Bang Ganda, selamat memimpin peperangan aktivisme digital. Abang tidak sendirian....