catatan tangan kanan _wiedmust-011126_
Konser Andrea Bocelli Tetap Berlangsung: Ketika Fanatisme Beragama Bertemu Ketidakdewasaan Memahami Seni
Oleh widodo, ph.d.,
pengamat keruwetan sosial
Kota Surabaya, JatimUPdate.id - Ada satu persoalan menarik yang kembali muncul dari polemik konser Andrea Bocelli di Indonesia: mengapa perbedaan keyakinan masih sering menjadi alasan untuk mempersoalkan karya seni dan kebudayaan?
Konser Romanza 30th Anniversary World Tour di kawasan Candi Borobudur pada 31 Oktober 2026 telah menjadi perbincangan. Sementara itu, konser berikutnya dijadwalkan berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 3 November 2026.
Keberatan MUI terhadap konser tersebut, yang berkaitan dengan pandangan mengenai sikap Andrea Bocelli terhadap Israel, memperlihatkan bahwa persoalan ini bukan sekadar soal musik. Ada pertemuan antara keyakinan, kebebasan berekspresi, sensitivitas politik, dan hak masyarakat menikmati seni.
Perlu dibedakan: seseorang boleh tidak menyukai seorang artis, boleh tidak membeli tiket, bahkan boleh menyampaikan kritik. Namun, ketidaksetujuan itu tidak otomatis menjadi alasan untuk meniadakan hak orang lain menikmati pertunjukan.
Seni tidak pernah mensyaratkan penontonnya harus memiliki agama, pandangan politik, atau keyakinan yang sama dengan sang seniman.
Tetapi di sinilah kita perlu menguji kedewasaan beragama.
Mendukung Palestina adalah sikap kemanusiaan yang sah dan patut dihormati. Mengkritik rekam jejak seorang seniman yang dianggap pernah mendukung kegiatan penggalangan dana untuk militer Israel juga merupakan hak setiap orang. MUI mempunyai alasan yang mereka kemukakan, dan alasan itu tidak perlu diabaikan.
Namun, ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kritik terhadap sikap politik seorang seniman harus berujung pada penolakan terhadap seluruh karya seninya?
Apakah suara seorang penyanyi harus diukur dari agamanya? Apakah sebuah pertunjukan musik otomatis menjadi persoalan akidah hanya karena penyanyinya berbeda agama atau memiliki pandangan politik yang tidak kita sepakati?
Kalau cara berpikir seperti ini terus berkembang, kita sedang membangun tembok sosial yang semakin tinggi.
Jangan-jangan persoalan kita bukan kekurangan agama, melainkan kekurangan ruang untuk menghormati perbedaan.
Indonesia bukan negara dengan satu keyakinan tunggal. Kita hidup bersama dalam masyarakat yang memiliki beragam agama, kepercayaan, tradisi, dan kebudayaan. Karena itu, toleransi bukan sekadar slogan untuk pidato kenegaraan. Toleransi adalah kemampuan menerima kenyataan bahwa orang lain boleh berbeda tanpa harus dianggap sebagai ancaman.
Bayangkan jika setiap kelompok merasa berhak menentukan siapa yang boleh tampil, siapa yang boleh bernyanyi, siapa yang boleh berkarya, bahkan siapa yang pantas hadir di ruang kebudayaan hanya berdasarkan ukuran keyakinannya sendiri.
Lalu, di mana batasnya?
Hari ini konser musik, besok mungkin pameran seni, pertunjukan teater, film, buku, atau kegiatan kebudayaan lainnya. Kalau semuanya harus melewati penyaringan berdasarkan keseragaman iman, ruang kebudayaan kita akan semakin sempit.
Saya khawatir, jika kecenderungan ini dibiarkan, persoalan intoleransi akan menjadi bom sosial yang suatu saat sulit dikendalikan. Bukan karena masyarakat Indonesia tidak bisa hidup berdampingan, tetapi karena ada kecenderungan sebagian kelompok ingin menjadikan keyakinannya sebagai ukuran tunggal bagi kehidupan bersama.
Ada hal menarik dari konser Bocelli ini. Promotor Shoemaker Live justru mengumumkan rencana mempersembahkan lagu perdamaian serta program kemanusiaan berupa pengumpulan 100.000 pasang sepatu bagi anak-anak Palestina dan wilayah terdampak konflik. MUI sendiri menilai bantuan tersebut tidak menghapus persoalan keberatan mereka. Kedua pandangan ini perlu ditempatkan secara proporsional.
Tetapi bukankah justru di sinilah seni bisa mengambil peran?
Musik tidak harus membuat semua orang sepakat. Musik bisa menjadi jembatan untuk mempertemukan manusia yang berbeda latar belakang. Kita boleh berbeda agama, berbeda pandangan politik, bahkan berbeda sikap terhadap konflik internasional, tetapi tetap bisa menghargai keindahan sebuah karya.
Jangan sampai kita begitu sibuk membela agama sampai lupa mempraktikkan nilai kemanusiaan yang diajarkan agama itu sendiri.
Indonesia membutuhkan strategi kebudayaan dan pendidikan toleransi yang lebih serius. Negara harus menjamin kebebasan berekspresi, melindungi hak beribadah, menegakkan hukum secara adil, dan memastikan tidak ada kelompok yang memonopoli ruang publik.
Kepada para tokoh agama, mari membangun umat yang kuat dalam keyakinan, tetapi lapang dalam pergaulan. Kepada masyarakat, mari belajar membedakan kritik terhadap seseorang dengan kebencian terhadap identitasnya.
Sebab pluralisme bukan berarti kita harus menyetujui semua hal. Pluralisme berarti kita mampu hidup bersama tanpa memaksa orang lain menjadi seperti diri kita.
Agama boleh berbeda, keyakinan boleh tidak sama, tetapi kemanusiaan tidak boleh kehilangan tempat.
Jangan sampai Indonesia yang dibangun dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika justru berubah menjadi negeri yang sibuk mengatur perbedaan, tetapi juga lupa merawat persaudaraan.
Editor : Redaksi