Universitas Airlangga Latih Manajemen Pengelolaan Sampah di Tempat Wisata Hutan Nongko Ijo Madiun

oleh : -
Universitas Airlangga Latih Manajemen Pengelolaan Sampah di Tempat Wisata Hutan Nongko Ijo Madiun
Pelatihan Manajemen Pengelolaan Sampah di Tempat Wisata Hutan Nongko Ijo yang dilaksanakan di balai desa Kare (22 /10/2022 ) dihadiri oleh kader wisata dan pokdarwis (kelompok sadar wisata) Kare Kabupaten Madiun

Madiun (JatimUpdate.id) -Universitas Airlangga Latih Manajemen Pengelolaan Sampah di Tempat Wisata Hutan Nongko Ijo Madiun. Pengelolaan Sampah di Tempat Wisata Hutan Nongko Ijo, Air Terjun Tambak Lare dan Sekar Wilis Desa Kare, Kecamatan Kare, kabupaten Madiun

Universitas Airlangga bekerjasama dengan Desa Kare, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun menyelenggarakan pelatihan manajemen pengelolaan sampah di area wisata.

Pelatihan yang dilaksanakan di balai desa Kare pada tanggal 22 Oktober 2022 tersebut dihadiri oleh kader wisata dan pokdarwis (kelompok sadar wisata) Kare. Bapak Wachid Dian Budianto, ST, MSc memaparkan beberapa hal diantaranya: hierarki pengelolaan sampah wisata, berbagai infrastruktur dan peralatan penunjang pengelolaan sampah di kawasan wisata serta cara mengelola sampah organic dan anorganik. Lebih jauh Pak Wachid juga mejelaskan tentang cara membuat pupuk kompos, cara pembuatan pupuk organic cair, pembuatan EM-4/starter mikroba, serta biogas.

Pelatihan ini bertujuan untuk mengurangi efek negatif dari kegiatan pariwisata seperti penumpuknya sampah, baik dari alam maupun dari pengunjung. Untuk membantu para pengelola tempat wisata di Madiun dalam mengelola sampah, 

Pelatihan ini diharapkan bisa membantu pemerintah desa maupun pengelola tempat wisata untuk mengelola sampah lokal. Materi tersebut disampaikan oleh Wachid Dian Budianto, ST, MSc, dosen Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga

Dalam penyampaian materi, Wachid Dian Budianto, ST, MSc menyatakan bahwa pupuk organik cair memiliki keunggulan. “Diantaranya bisa menjadi makanan bagi mikroorganisme, ramah lingkungan, meningkatkan ketersediaan unsur hara, panen lebih baik, aplikasi yang sangat mudah, pupuk cair bisa langsung diserap daun untuk fotosintesis, dapat membantu meningkatkan kapasitas tukat katian, serta dapat membantu merevitalisasi daya olah tanah dan menggemburkan media tanah.” Papar Bapak Wachid.

Selanjutnya Wachid juga menjelaskan kekurangan pupuk organic cair, diantaranya: mikroorganisme di dalamnya mudah berkurang bahkan mati, viabilitas mikroorganisme yang dikandung sangat rendah, POC seringkali menghasilkan gas dan bau tidak sedap, nutrisi yang terkandung sangat rendah, memiliki tingkat kontaminasi sangat tinggi, serta POC tidak tahan lama.

Di bagian akhir, bapak Wachid memberikan penyuluhan tentang cara pembuatan biogas. “Biogas sangat mudah dibuat, yaitu dimulai dengan memasukkan kotoran sapi ke dalam tangki. Lalu dilakukan proses penguapan (fermentasi kotoran sapi). Selanjutnya gas yang terbuat dialirkan ke atas menuju alat control kompor gas. Bahkan sisa kotoran sapi bisa digunakan menjadi pupuk,” pungkasnya.

Kepala desa Kare Bapak Sunarno sangat senang dengan atas materi pengelolaan sampah ini. Menurutnya, materi pengelolaan sampah memberi wawasan bagi kader wisata dan pokdarwis untuk mengelola sampah di lokasi wisata khususnya sampah anorganik menjadi lebih bernilai rupiah, serta sampah organic di rumah dan lingkungan desa untuk diolah menjadi pupuk.

“Pelatihan ini sangat berguna bagi pokdarwis dan kader wisata. Kami bisa mengolah sampah anorganik menjadi bernilai uang, dan mengolah sampah organic menjadi pupuk dan biogas di desa kami”, tuturnya.

Dr. Prihartini Widiyanti, drg, M.Kes yang juga menjadi ketua tim Pengabdian Masyarakat Program Pengembangan Desa Binaan Ekowisata Berbasis Partisipatif-Kolaboratif berharap bahwa Universitas Airlangga bisa berkontribusi pada desa Kare sebagai desa mitra,  tidak hanya transfer ilmu, namun juga kerjasama jangka panjang terutama terkait penelitian dan pengabdian masyarakat.

Kader pokdarwis merasa mendapatkan banyak ilmu dari pelatihan ini. Misalnya pembagian sampah anorganik menjadi 5 golongan yaitu botol plastic, botol plastic warna, kain bekas, plastic bekas detergent serta sampah anorganik lain. Demikian juga para kader wisata menjadi tahu pembagian sampah organic menjadi tiga bagian, yaitu sampah sisa makanan, sampah kebun lunak (daun, rumput, dll) serta sampah kebun keras seperti dahan, batang, dll. (YH)

Pengelolaan Sampah di Tempat Wisata Hutan Nongko Ijo, Air Terjun Tambak Lare dan Sekar Wilis Desa Kare, Kecamatan Kare, kabupaten MadiunPengelolaan Sampah di Tempat Wisata Hutan Nongko Ijo, Air Terjun Tambak Lare dan Sekar Wilis Desa Kare, Kecamatan Kare, kabupaten Madiun