Taliban Kuasai Istana (AP Photo)

jatimupdate.id, Kabul - Mendengar Taliban maka bayangan kelompok ultra keras pada keyakinan yang dianutnya, yakni Islam di Afghanistan. Sehingga tidak salah bila Taliban memiliki wajah yang mengerikan, layaknya ISIS maupun Al Qaeda. 

Dalam sepekan terakhir, Taliban Kembali diperbincangkan masyarakat dunia. Ya, Taliban Kembali berkuasa di Afghanistan setelah musuh bebuyutannya Amerika Serikat mulai memulangkan tentaranya secara bertahap hingga September 2021. 

Puncaknya, 15 Agustus 2021 telah menguasai istana negara di Kabul. Kelompok ini pernah menguasai Afghanistan sejak 1996 hingga 2001. 

Benarkah Taliban era 2021 telah berbeda wajahnya dengan era 20 tahun lalu akan menunjukkan kebijakan yang lebih moderat atau hanya sekedar taktik belaka. Masih perlu waktu untuk membuktikannya.

Siapa Itu Taliban

Ditulis oleh BBC, Taliban atau "murid" dalam bahasa Pashto, pertama kali muncul pada awal 1990-an di utara Pakistan setelah pasukan Uni Soviet mundur dari Afghanistan. Gerakan ini mulanya didominasi oleh orang-orang Pashtun dan pertama kali muncul di pesantren-pesantren yang biasanya menganut aliran Sunni garis keras. Janji Taliban di wilayah-wilayah Pashtun, yang tersebar di Pakistan dan Afghanistan, adalah untuk mengembalikan perdamaian dan keamanan berdasarkan Syariah Islam jika mereka berkuasa. 

Pada 1998, Taliban bahkan sudah menguasai hampir 90 persen wilayah Afghanistan. Saat itu, warga Afghanistan menyambut kehadiran Taliban dengan suka cita lantaran keberhasilan mereka memberantas korupsi, membatasi pelanggaran hukum, dan membuat jalan-jalan dan area-area di bawah kekuasaan mereka aman untuk perdagangan. 

Konsekuensinya, Taliban juga memperkenalkan hukuman yang disebut sejalan dengan hukum Syariah. Mulai dari hukuman eksekusi dan potong tangan hingga melarang anak perempuan mengakses pendidikan. Kebijakan eksekusi di depan umum terdakwa pembunuhan dan pezina, dan amputasi bagi mereka yang diputuskan bersalah karena pencurian. 

Para pria diharuskan menumbuhkan jenggot, sementara para perempuan diwajibkan mengenakan burka yang menutup seluruh tubuh. Taliban juga melarang televisi, musik dan bioskop, juga tidak memperbolehkan anak perempuan di atas sepuluh tahun untuk sekolah. Mereka dituduh melakukan berbagai pelanggaran hak asasi manusia dan budaya.

Salah satu yang paling terkenal adalah pada 2001, ketika Taliban melanjutkan penghancuran patung Buddha Bamiyan yang terkenal di Afghanistan tengah, meski muncul kemarahan internasional. 

Perhatian terhadap penguasa Taliban di Afghanistan makin besar setelah serangan di World Trade Centre, New York, Amerika Serikat (AS) pada September 2001. Mereka dituduh memberi perlindungan kepada Osama Bin Laden dan gerakan al-Qaeda, yang dianggap bertanggungjawab atas serangan itu.

Pada 7 Oktober 2001, koalisi yang dipimpin AS melancarkan serangan di Afghanistan, dan pada pekan pertama Desember tahun yang sama, Taliban runtuh. Pemimpin kelompok itu, Mullah Mohammad Omar, dan sejumlah tokoh senior lainnya, termasuk Bin Laden, lolos dari salah satu perburuan terbesar di dunia. 

Taliban Janjikan Wajah Baru

Pada 2018, Taliban melakukan pembicaraan langsung dengan AS, dan pada Februari 2020, keduanya menandatangani kesepakatan damai di Doha, Qatar yang berisi komitmen AS untuk menarik pasukan dan Taliban tak melakukan serangan pada pasukan AS. Janji-janji lain termasuk tidak mengizinkan ISIS, Al-Qaeda atau militan lain beroperasi di area yang dikuasainya, dan melanjutkan perjanjian perdamaian nasional.

Presidan AS Joe Bidan mengumumkan pada April 2021 bahwa semua pasukan Amerika akan meninggalkan negara tersebut pada 11 September. Dua dekade setelah jatuhnya World Trade Center. Setelah berhasil menumbangkan kekuatan besar AS selama dua dekade perang, Taliban mulai merebut wilayah-wilayah Afghanistan.

Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid berjanji pada Selasa (17/8) bahwa Taliban akan menghormati hak-hak perempuan, memaafkan mereka yang selama ini menentang mereka dan memastikan Afghanistan yang aman. Semua janji itu dilontarkan Taliban sebagai bagian dari upaya meyakinkan kekuatan dunia dan penduduk yang ketakutan bahwa mereka telah berubah.

Kelompok itu sebelumnya menyatakan "amnesti" di seluruh Afghanistan dan mendorong perempuan untuk bergabung dengan pemerintahannya. Taliban mencoba menenangkan ketegangan di ibu kota Kabul yang tegang. Sehari sebelumnya, terjadi kekacauan di bandara saat ribuan orang mengerumuni bandara internasional kota itu dalam upaya putus asa untuk melarikan diri.

Taliban menjanjikan pemerintahan yang inklusif. “Saya ingin meyakinkan bahwa setelah konsultasi yang akan segera selesai, kita akan menyaksikan pembentukan pemerintahan Islam yang kuat dan inklusif, Insya Allah, insya Allah,” tutur Mujahid.

Mereka juga meyakinkan akan memberi perlindungan kemanan 24 jam untuk perwakilan negara-negara asing di kedutaan asing. Selain itu juga menjanjikan proses transisi kekuasaan yang lancar dan damai.

Janji-janji manis Taliban ini masih dipertanyakan kebenarannya meskipun diungkap langsung secara resmi. Sejumlah wanita di Kabul, Afghanistan, juga tak mempercayai begitu saja janji-janji Taliban yang lebih moderat tersebut.

"Saya tidak percaya apa yang mereka katakan," ungkap seorang wanita di Kabul pada BBC. Wanita itu menyaksikan Mujahid berbicara di televisi.

Sementara itu, Jenderal Austin Miller, komandan misi pimpinan AS di Afghanistan memperingatkan pada Juni lalu, bahwa negara itu kemungkinan menuju perang saudara yang kacau. Dalam banyak kasus, Taliban mampu mengambil alih kota-kota besar tanpa perlawanan, karena pasukan pemerintah menyerah untuk menghindari jatuhnya korban sipil.

Sebuah penilaian intelijen AS pada bulan yang sama dilaporkan menyimpulkan bahwa pemerintah Afghanistan bisa kolaps dalam waktu enam bulan setelah pasukan AS angkat kaki dari negara tersebut. (*)

*Diolah dari Berbagai Sumber

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Berita Terpopuler