Catatan Mas AAS

Nyemplung Wae

oleh : -
Nyemplung Wae
Mas AAS

Kalau ragu mulai aja. Kalau bingung jalani aja. Kalau takut kerjain aja. Kadang sesuatu itu solusinya cuman nyemplung aja! Hahaha.

Faktanya memang begitu, dan gak jauh-jauh dari itu. Pola sebuah masalah itu hadir dan akhirnya kelar.

Karena, kata para murid yang kerjakan soal ujian juga para guru yang beri ujian. Masalah itu ada yang membuat. Layaknya soal ujian entah UTS apa UAS pasti ada yang membuatnya. Masalah di dalam hidup juga demikian. Dialah Sang Kholiq Yang Maha Segalanya. Setiap masalah yang diturunkan, ada tujuan yang ingin disampaikan. Ibarat murid yang sedang sekolah kehidupan. Setiap akan naik kelas, pasti akan menjalani ujian.

Terus, kita harus bagaimana?
Dekati saja, rayu saja, yang membuat masalah. Caranya merayu? Ya, tidak ada jalan lain yang begitu disukai oleh sang pembuat soal. Kecuali, sebagai murid kita mau kerjakan soalnya, cemplungin saja masalahnya. Teruslah berikhtiar untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dan jangan lupakan kaidah dalam Al Qur'an: mintalah pertolongan kepada Alloh dari setiap masalahmu dengan sabar dan sholat. Sholat hakikatnya adalah doa. Dalam sholat, ada satu posisi yang begitu dekat antara hamba dan penciptanya. Yaitu sujud. Tidak ada batas, ketika kita sujud. Sujud merupakan bukti bahwa kita itu rendah dan lemah dihadapan Alloh swt.
Sang Kyai yang juga kolega yang sedang ngopi bareng bersama, melanjutkan ceritanya kepada penulis, pernah dimintai tolong oleh temannya untuk mengisi walimatul urus dan prosesi ngunduh mantu pada suatu ketika.
Temannya itu bercerita. Ada beban berat yang menggelayuti pikirannya. Terutama masalah finansial. Harapnya bahwa hajatannya nanti bisa lancar, tidak hujan dan banyak tamu undangan yang hadir, di tengah kondisi dan cuaca yang tidak menentu.
Sang Kyai menguatkan temannya itu," Bismillah, ditata niatnya , sabar dan berdoa kepada Alloh SWT." tugas kyai kan memanglah seperti itu, spontan aku menimpali. Gerrrr.

Selesai menunaikan hajat dengan sukses, si teman Kyai itu, menyampaikan terima kasih sambil memberikan bingkisan kecil, tak lupa amplopnya, tapi sang Kyai tidak tahu isinya berapa. Sang Kyai tak mau menerima amplop itu, ia kembalikan lagi amplopnya itu kepada temannya.

Aku yang mendengar Sambil menyimak ceritanya. Lalu berkata ," iyo mergo amplop'e saat dipegang tipis, cobo tebal, mesti langsung bilang terima kasih. Alhamdulilah!" Dan kami berdua pun terbahak ngakak di warkop.

Begitulah perbincangan antara diriku dan kolegaku. Yaitu Kyai Mbeling dari kota Sidoarjo. Selain menjadi pendidik yang Istiqomah, kolegaku ini juga Kyai yang Istiqomah merawat anak didiknya belajar mengaji di Masjid Perumahan di tempat tinggalnya.

Dari konsep sabar dan banyak berdoa di atas, seseorang diharapkan menjadi manusia yang lentur tidak cepat kaget & gumunan di dalam menghadapi setiap masalah di dalam hidupnya. Karena selama kehidupan itu berlangsung dan masih berada di alam dunia yang fana, maka masalah itu bakalan terus eksis, terus saja ada. Dari satu level ke level selanjutnya. Dari satu kelas ke kelas selanjutnya. Sampai saat nanti kita pulang kembali ke Sang Kekasih Agung. Mungkin saja masih ada masalah lagu, tapi dimensinya sudah berbeda. Tapi tidak tahu, apakah itu benar? Karena semua manusia yang pulang tidak pernah kembali ke sini lagi, upps!

Ragu, bingung, serta takut. Acap kali akan terus datang silih berganti menghampiri manusia. Karena masalah yang satu bisa jadi sudah kelar, tetiba pekerjaan rumah datang lagi. Begitulah roda kehidupan itu berputar, kita dididik menjadi kusir yang profesional dalam mengendalikan sebuah pedati kehidupan.

Sejatinya manusia benar-benar tak punya waktu untuk bermain-main apalagi mengurusi hidup orang lain. Karena waktunya full diperuntukkan untuk menggarap pekerjaan rumahnya masing-masing. Masalah keluarga, masalah sekolah, masalah kuliah, masalah pekerjaan, dlsb.

Karena setiap diri manusia akan tenggelam dalam samudera persoalannya sendiri. Senang dan susah dituntut segera menyelesaikan satu per satu pekerjaan dan masalah yang dialaminya. Mampu secara mandiri ataukah dimampukan olehNya. Adalah esensi keberadaan sebuah kebahagiaan itu sendiri. Bahagia yang sejati!

Begitulah, kisah guyon maton parikeno yang baru saja penulis alami bersama kolega. Terjadi di luar kampus dan di luar kelas!

Lari atau malah menghindari masalah, akan berujung kesakitan yang abadi. Sang Kyai, menegaskan petuahnya kembali!

Jadi, pagi ini adalah hari yang baru. Yang layak untuk dinikmati!

Dan setiap diri diharapkan mempersiapkan diri plus energi terbaiknya. Untuk menyambut datangnya kehidupan yang selalu baru dalam setiap harinya. Dengan kerja-kerja terbaik: ya ngajar, ya dodolan, ya ngaji bila ada undangan khotbah! Entah di rumah jamaah atau di dalam masjid, menjadi Khotib khotbah Jumat.

Dengan bekerja, tuntaskan setiap persoalan satu demi satu. Akhirnya asa tentang masa depan akan terbuka kembali!

"Bukan begitu mas bro?" ajakan sang Kyai, kepada penulis saat bertemu di warung kopi tadi.

Dan, kadang solusi serta spirit ingin menyelesaikan sesuatu. Bukan didapat, dibedah di dalam ruang-ruang formal baik di dalam kelas dan ruang kuliah. Justeru terjadi di luar, di warkop. Sebuah jawaban atas problem kehidupan ditemukan.

Bagaimana apakah Anda setuju?


AAS, 17 Januari 2023
Warkop Graha Asri Sukodono