Malu Sebagai Core of Leadership

oleh : -
Malu Sebagai Core of Leadership
Fathorahman Fadli

Oleh: Fathorahman Fadli*

 

Vladimir  Maldovic, seorang pemikir Rusia di saat Uni Sovyet berkuasa mengingatkan kita tentang pentingnya rasa malu. Menurut pemikir berlatar belakang ilmu psikologi itu menilai, rasa malu akan menjaga seseorang dari perbuatan tercela. Oleh karena itu Maldovic yang pemikirannya banyak dipengaruhi ilmuan Islam abad pertengahan itu menyarankan agar seorang yang bercita-cita menjadi pemimpin harus memiliki rasa malu.

 

Maldovic memberi beberapa alasan. Pertama, jika seorang pemimpin memiliki rasa malu, maka pemimpin tersebut akan cenderung berfikir matang sebelum dia berbicara. Bagi Maldovic ---yang kabar terakhir sebelum meninggal memeluk Islam sebagai keyakinan barunya itu, -- menegaskan tentang pentingnya berfikir dampak apa yang akanterjadi disaat dia berkata mengucapkan sesuatu. Dalam pandangan Maldovic, pemimpin yang baik akan hemat bicara namun banyak bertindak strategis.  Pemimpin yang demikian, sambung pria yang beristrikan seorang muslimah asal Kazakstan itu akan terlihat lebih berwibawa dibanding yang banyak bicara namun miskin tindakan nyata.

 

"Malu itu elemen penting dalam kehidupan seorang pemimpin, tanpa rasa malu, anda akan gagal menjadi pemimpin," kata Maldovic kepada The Daily Newspaper Pravda pada 12 Januari 1912.

 

Kedua, rasa malu adalah penting karena seorang pemimpin akan bersikap waspada, hati-hati, dan tidak tergesa-gesa dalam melahirkan kebijakan publik bagi rakyatnya.

 

Kebijakan publik yang benar dalam pandangan Maldovic adalah yang diproses secara matang dengan memperhatikan kemanfaatannya bagi rakyat banyak. Maldovic juga menyarankan agar pemimpin memikirkan secara matang pula apa dampak negatif yang akan timbul ketika kebijakan tersebut dijalankan.

 

Ketiga, secara psikologis, rasa malu dapat menjadi rem di saat sang pemimpin ingin "berlari kencang". Sebagaimana layaknya mobil sedang berjalan kencang, rasa malu, lanjut Maldoviv, rem dapat mengendalikan mobil dari bahaya yang datang tiba-tiba. Jika seorang pemimpin terlatih berpegang erat pada rasa malu, maka secara mekanis dapat menyelamatkan sang pemimpin dari tindakan-tindakan tercela yang akan menyebabkan ia jatuh dari singgasananya.

 

Keempat, rasa malu seorang pemimpin akan mendorong mereka pada kebaikan. Pemimpin yang demikian akan selalu menjaga keadaban publik dan cenderung menjadikan rakyatnya sebagai subyek yang harus diberdayakan.

 

Empat alasan pokok tersebut oleh Maldovic  dijadikan  dasar pemikirannya bahwa rasa malu adalah inti dari kepemimpinan.

 

Bagaimana Islam bicara?

 

Islam sebagai sumber dan tatanan nilai luhur yang diakui secara luas oleh kaum muslimin sedunia memiliki pandangan yang sejalan dengan Maldovic.

 

Beberapa contoh prilaku yang ditunjukkan oleh Rasulullah Muhammad menunjukkan, betapa beliau menjadikan rasa malu dan kejijuran sebagai tema pokok dalam kepemimpinan. Bahkan dalam beberapa hadist sahih Bukhari Muslim, Rasulullah menegaskan bahwa Rasa Malu itu adalah bagian dari iman (al-Haya'u minal Iman).

 

Islam ternyata tidak saja mendorong seorang pemimpin untuk emmiliki rasa malu, namun lebih fundamental lagi;  telah menjadikan rasa  malu itu sebagai bagian integral dari keimanan seseorang.

 

 Akhlak Bangsa

 

Bagaimana dengan akhlak bangsa. Islam melihat bahwa harga diri suatu bangsa sangat tergantung dari akhlak para pemimpinnya. Jika akhlak pemimpinnya baik, maka baiklah nasib bangsa itu. Begitu pula sebaliknya, semakin rusak akhlak para pemimpinnya, maka semakin rusak pula bangsa itu.

 

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Penyair Besar asal Mesir, Ahmad Syauqi. Dalam salah satu syairnya, Syauqi menegaskan bahwa suatu bangsa akan menjadi bangsa yang terhormat jika akhlak para pemimpinnya terjaga dengan baik.

 

Seorang pemimpin, tegas Syauqi harus menjunjung tinggi etika dan moral kepemimpinan dalam masyarakat. Tanpa menegakkan etika dan moral selama mereka berkuasa maka pemimpin itu akan kehilangan kewibawaan, dan sangat mungkin terjadi keberaannya akan dianggap sama dengan ketiadaannya.