Catatan MAS AAS
Sibuk Bahas AI, Jangan Lupa Nasi
Mangan iku lauknya lapar. Makan apapun saja pasti nikmat.
Meski hanya makan sego sadukan lauknya buncis sak iprit serta telur dadar seperempat, lalu sambal sak oles. Tambah ambil tahu sama bakwan buat pelengkap.
Baca Juga: Bendera Setengah Tiang, Simbol Duka dan Perlawanan Rakyat Kecil
Nikmatnya kaya makan di Hotel Majapahit Executive Lounge kala itu!
Pagi ini sudah bekerja. Merapat barusan dari pangkalan. Usai dapat 3 orderan bokongan alias penumpang jarak pendek. Antar anak-anak dari perumahan ke sekolahnya. Satu, antar ke SD dan dua penumpang antar ke SMP dan SMA.
Lalu seperti biasa. Duduk sebentar di bolo dupakan yang buka lapak. Buka warung kecil-kecilan: warkop sama jualan sego sadukan. Satu bungkus sudah aku makan barusan.
Saat duduk adalah saat melakukan ritual bagiku. Karena aku seorang pemahat huruf. Aku lalu sidak lihat para jamangah grup WhatsApp. "Obrolan apa gerangan yang sedang dibahas pada pagi ini?"
Obrolan kerdil dan picik biasanya aku skip saja. Tak aku perhatikan, percuma mengotori pikiran saja. Obrolan besar perihal kemajuan, ide, juga eksekusi, biasanya aku prioritaskan. Menyimak dengan serius, lalu lintas diskusi yang berjalan. Ada pendapat juga pemikiran biasanya ikut nimbrung share: berupa komentar, atau menanggapi meme, info, atau pendapat dari anggota.
Dan itu juga terjadi pada saat duduk barusan tadi!
Saat buka sebuah WAG WhatsApp grup. Sudah ramai saja pembahasan perihal: mesin generate AI beserta kecerdasan algoritma nya. Ada video, ada gambar, bahkan ada tulisan yang mampu di produksi oleh AI dengan kualitas hampir sempurna. Di grup tersebut ada Profesor, Doktor, Magister, dan tukang ojek, berbaur menjadi satu.
Baca Juga: Ketua Fraksi Golkar Dukung Kapolri Usut Tuntas Insiden Ojol Dilindas Rantis Brimob
Para guru besar itu dibuat tersengat, saat ada respon mengenai dinamika AI terkini! "Ini ada AI, kita mau ngapain nih. Mau berposisi sebagai pionir atau jadi followers abadi?"
Bagaimanapun pangkat akademik yang di sandang, yaitu, Profesor. Bila menjumpai fenomena terkini dan sedang viral. Libido sebagai seorang ilmuwan dan cendekiawan pasti tersulut. Mulailah sang profesor itu menulis sesuatu, lalu di share di WAG itu!
Tulisannya berupa analisis tentang fenomena AI terkini related dengan bidang keilmuan beliau di bidang pertanian. Dan bagi saya itu menarik.
Kurang lebih tulisan sang profesor itu begini, saya kutip secara langsung saja: "Semua tech termasuk AI musti kita ikuti, bahkan kalau bisa kita juga menyumbang karya. Jgn sampai kita tertinggal. Proporsional menyikapi tech adalah kunci.
Kemaren aku datang ke beberapa petani. Puluhan greenhouse dan berbagai macam komoditi, kesimpulannya satu. "Proporsional" dgn tech. Sentuhan manusia dgn intuisi, observasi dan pengalamannya ternyata sangat menentukan keberhasilan.
Jgn lupa "backbone" tetep kudu digarap. Nandur telo, padi, jagung dll. Dunia maya menarik, tetapi tanpa nasi dan daging kita lemes."
Saya yang sedang ngojek berburu intan dan berlian di jalan-jalan Surabaya. Jadi antusias menyimak diskusi di WAG tersebut. "Soal ojek bagaimana?" Kan sudah dapat 3 orderan tadi! Cukuplah buat kerja pagi, siang nanti lanjut lagi sampai malam.
Baca Juga: Mayoritas Warga Jatim Pilih “Fokus Kerja”, Abaikan Aksi Jalanan
Kesimpulan nya apa? Atas tulisan ini. Saya kira pembaca yang budiman saja yang bisa simpulkan.
Saya hanya memotret saja, dinamika obrolan pagi di sebuah grup WA yang cukup bernas dan produktif, memproduksi ide dan gagasan serta membangun sudut pandang yang holistik akan sebuah fenomena kekinian.
Dan bagi saya itu penting. Untuk terus membuat kita gelisah dan terus berpikir. Bukankan tanda kita masih hidup itu apabila masih mau berpikir, begitu kata Kang Rene Descartes!
AAS, 23 Februari 2023
Pangkalan Ojek Rungkut Surabaya
Editor : Redaksi