Ngabuburit Senja

Nabi dan Kaisar

oleh : -
Nabi dan Kaisar
Dr M Subhan SD

JAKARTA(JATIMUPDATE.ID)- Di era Nabi Muhammad, dua imperium sedang jaya-jayanya. Di barat, Romawi Timur (Bizantium) dipimpin Kaisar Hiraklius atau Flavius Heraclius Augustus (berkuasa 610-641). Di timur, Persia (Dinasti Sasaniyah atau Eranshahr) di bawah Kaisar Kisra atau Husraw atau Khosrow II (berkuasa 590-628). Nabi berkirim surat mengajak kedua kaisar itu untuk mengagungkan keesaan Allah. Kisra marah begitu menerima surat nabi yang diantar Abdullah Huzafah As-Sahmi lewat Al-Munzir bin Sawi, pembesar negeri Bahrain (wilayah Persia).

Menurut cerita Abdullah bin Abbas, setelah membaca, Kisra atau Ibrawiz lalu merobek-robek surat tersebut. Mendengar suratnya dirobek-robek, Ibnu Musayyab bercerita, Rasulullah berdoa semoga kerajaan mereka dirobek-robek pula oleh Allah sampai hancur sama sekali. Tak berselang lama, Kisra dikalahkan Hiraklius. Kisah ini diabadikan dalam Al-Quran surat Ar-Rum. Persia terus melemah. Konflik internal di mana-mana membuat kekaisaran pecah dan akhirnya runtuh ditaklukkan pasukan Muslim. Nasib Kisra sangat tragis, tewas di tangan anaknya sendiri Kavad II atau Sheroe atau Shiruya. Dinasti Sasaniyah pun hancur.

Hiraklius tak seperti Kisra. Hiraklius tenang saja menerima surat Nabi yang diantar Dihyah Al-Kalbi lewat pembesar negeri Busra (wilayah Romawi Bizantium, sekarang di Daraa, Suriah). Hiraklius bahkan menyelidiki siapa pengirim surat yang mengaku nabi itu. Sewaktu Abu Sufyan bin Harb, pembesar Quraisy berdagang ke negeri Syam, dipanggilah oleh kaisar. Abu Sufyan dan rombongannya diundang dalam satu ruangan. “Siapa di antara Anda yang paling dekat hubungan kekeluargaannya dengan laki-laki yang mengaku dirinya nabi itu?” tanya kaisar. Abu Sufyan menjawab, “Saya! Saya keluarga terdekat dengannya”. Abu Sufyan adalah putra Harb, putra Umayah, putra Abdus Syam, dan putra Abdul Manaf. Adapun nabi adalah putra Abdullah, putra Abdul Muthalib, putra Hasyim, putra Abdul Manaf. Jadi, hubungan keluarga Abu Sufyan dan Nabi bertemu pada garis leluhur keempat ke atas, yaitu Abdul Manaf atau Mughirah bin Qusay. Sewaktu dipanggil Hiraklius, Abu Sufyan atau Sakhr itu merupakan musuh Rasulullah, belum masuk Islam.

Sejumlah pertanyaan diajukan Hiraklius, yang dijawab apa adanya oleh Abu Sufyan. Antara lain nabi termasuk bangsawan tinggi (menurut Hiraklius, begitulah nabi-nabi sebelumnya), ucapannya tidak seperti orang-orang sebelumnya (menurut Hiraklius, kalau ucapannya sama berarti meniru-niru), nenek moyangnya bukan raja (menurut Hiraklius, kalau ada berarti dia menuntut kembali kerajaan itu), pengikutnya orang-orang biasa (menurut Hiraklius, semua nabi pengikutnya adalah orang biasa), pengikutnya bertambah banyak (menurut Hiraklius, begitulah iman hingga sempurna), tidak melanggar janji (menurut kaisar, begitulah nabi-nabi terdahulu). 

“Jika yang kamu terangkan itu betul semuanya, niscaya dia akan memerintah sampai tempat aku berpijak di kedua telapak kakiku ini. Sesungguhnya aku telah tahu bahwa ia akan lahir. Tetapi aku tidak mengira bahwa dia akan lahir di antara kamu sekalian. Sekiranya aku yakin akan dapat bertemu dengannya, walaupun dengan susah payah aku akan berusaha datang menemuinya. Kalau aku telah berada di dekatnya, akan kucuci kedua telapak kakinya.…” kata Hiraklius. Ia mengakui Muhammad seorang nabi, tetapi tampaknya hidayah belum tiba. Dr M Subhan SD, DirecPolEtik Strategic