Ngabuburit Senja

Faksi dan Friksi

oleh : -
Faksi dan Friksi
Dr M Subhan SD

JAKARTA(JATIMUPDATE.ID)-Setelah Nabi Muhammad wafat, timbul friksi di kalangan umat Islam. Belum lagi nabi dikebumikan, sudah timbul bibit-bibit perpecahan di antara dua golongan: Muhajirin dan Anshar. Mulai muncul faksi-faksi. Banyak orang Anshar bergabung kepada Sa’ad bin Ubadah, tokoh bani Khazraj, kaum Anshar Madinah. Beberapa sahabat seperti Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah berkumpul di rumah Fatimah. Kaum Muhajirin berada di belakang Abu Bakar Ash-Shiddiq. Padahal, kala itu umat sedang bingung pasca wafatnya nabi, termasuk berkonsentrasi menangani urusan pemakaman nabi.

Seseorang memberi kabar tentang gerakan kaum Anshar itu, “Kalau ada masalah yang perlu diselesaikan dengan mereka, segera susullah mereka, sebelum keadaan jadi berbahaya.” Mendengar informasi itu, Abu Bakar dan Umar sepakat menyelesaikan masalah itu segera. “Baiklah,” kata Umar kepada Abu Bakar, “Kita berangkat ke tempat saudara-saudara kita dari Anshar supaya kita dapat melihat keadaan mereka”. Bersama sahahat lainnya, keduanya berangkatlah menuju Saqifa (serambi) Bani Sa’ida, di mana kaum Anshar melakukan pertemuan. Dalam perjalanan, mereka bersua dua sahabat Anshar. Setelah tahu tujuan Abu Bakar dan Umar, keduanya menyarankan, “Tidak ada salahnya tuan-tuan tidak mendekati mereka. Saudara-saudara Muhajirin selesaikan saja persoalan tuan-tuan!” Umar membalas, “Tidak, kami akan menemui mereka.” Sesampainya di sana, banyak orang berkumpul. Di antara mereka ada seseorang yang berselimut. “Siapa ini?” tanya Umar. Mereka menjawab, “Sa’ad bin Ubadah, dia sedang sakit.” Pertemuan itu tampaknya mengusulkan Sa’ad sebagai kandidat khalifah mewakili kaum Anshar.

Kubu Anshar berbicara lantang, “Kami adalah kaum Anshar para penolong Allah dan pionir-pionir Islam, dan kalian wahai kaum Muhajirin adalah dari kalangan nabi kami. Sesungguhnya telah muncul tanda-tanda dari kalian bahwa kalian akan turut mendominasi kami di sini, di tempat tinggal kami ini dan akan mengambil alih kekuasaan dari kami” (Katsir, 2002). Anshar menghendaki pemimpin (amir) dari kalangan mereka. Umar tak sabar mendengar kata-kata itu. Tetapi Abu Bakar mencegahnya, “Tahan sebentar, sabarlah Umar!” “Kami Muhajirin dan tuan-tuan adalah Anshar, saudara-saudara kami seagama. Apa yang tuan-tuan katakan, bahwa segala kebaikan ada pada tuan-tuan, itu sudah pada tempatnya. Tapi dalam hal orang Arab itu hanya mengenal lingkungan Quraisy. Jadi dari kami kami para amir dan dari pihak tuan-tuan para wazir (pendamping, perdana menteri),” kata Abu Bakar (Haekal, 1984).

Seorang Anshar bereaksi keras, “Saya tongkat lagi senjata [maksudnya memberi dua pertolongan sekaligus]. Saudara-saudara Quraisy, dari kami seorang amir dan dari tuan-tuan juga seorang amir!” Abu Bakar secepatnya menimpali, “Dari kami para amir dan dari tuan-tuan para wazir.” “Engkau benar, kami jadi wazir, dan kalian menjadi amir,” kata Sa’ad. Abu Bakar lalu meminta agar mereka memilih satu dari dua orang: Umar bin Khattab atau Abu Ubaidah bin Jarrah. Suara-suara gaduh pun terdengar. Buru-buru Umar berkata, “Abu Bakar berikan tanganmu!”. Umar memilih (membaiat) Abu Bakar. “Abu Bakar bukankah nabi sudah menyuruhmu supaya engkaulah yang memimpin Muslimin shalat? Engkaulah penggantinya (khalifah). Kami akan mengikrarkan orang yang paling disukai oleh Rasulullah di antara kita semua,”  kata Umar. Semua yang hadir tersentuh hatinya. Betapa dewasanya umat Islam kala itu menyelesaikan persoalan sehingga friksi dapat dicegah. Bagaimana dengan saat ini, masihkah selalu ngotot mengatasnamakan Islam atau umat Islam, padahal bisa jadi sebetulnya membela kepentingan kubu, faksi, kelompok, golongan, organisasi, aliran, atau partai masing-masing. Dr M Subhan SD,Director PolEtik Strategic