Pelaksanaan Rekomendasi Tim Pemantau Penyelesaiaan Nonyudisial Pelanggaran HAM

2000 Santri Siap Sambut Jokowi di Pidie

Reporter : -
2000 Santri Siap Sambut Jokowi di Pidie
Pj Bupati Pidie Wahyudi Adisiswanto

Sigli _ JatimUpdate.id _ Sekira 2000 santri siap sambut kehadiran Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), di Kabupaten Pidie Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, pada Selasa (27/06/2023)  

Baca Juga : Robohnya Rumoh Geudong Robohnya Dendam, Bangkitnya Masa Depan Generasi Pidie

Baca Juga: Musrenbangnas 2024: BAPPENAS Pastikan Sinkronisasi Pembangunan dengan Program Presiden Terpilih

Menurut Pj Bupati Pidie Ir Wahyudi Adisiswanto Msi, persiapan sudah mencapai 80 persen, diantaranya persiapan acara, tenda, karpet, bantuan sosial, serta perangkat pendukung lainnya.

“Khusus kabupaten Pidie, kami ingin menciptakan suasana kota santri, dengan melibatkan ribuan santri dan majelis dzikir, yang sudah mendirikan tenda, berjarak sekitar 50 meter dari titik lokasi aara,” ujar Wahyudi, kepada sejumlah wartawan, pada Senin (26/06/2023).

Memang dalam menjalankan agenda itu, kata Wahyudi memang akan terjadi pro kontra, ada sebagian masyarakat yang kurang sepakat, bekas Rumah Geudong dirubah fungsinya menjadi Masjid.

“Tetapi, kami mengajak masyarakat berfikir jernih. Jadi kita bicara HAM, jangan sampaikan menyisakan generasi pelanggar HAM,” tandasnya.

Kata Wahyudi, kehadiran  Presiden RI Joko Widodo, rencananya akan memimpin langsung memulai pelaksanaan Rekomendasi Tim Pemantau Penyelesaiaan Nonyudisial Pelanggaran HAM yang berat (PKPHAM).

“Jadi, agenda ini dalam rangka menghilangkan dendam,” ujarnya.

Ada yang menginginkan agar dibangun replika Rumah Geudong. Keinginan itu kata Wahyudi ide itu justru hanya akan mengajari dendam generasi.

“Kebencian itu akan muncul ulang. Bahkan ketika kita sudah tidak ada, anak cucu kelak akan bilang bahwa kakek saya …. wah ini …,” ujarnya.

Lebih jauh, Alumnus Universitas Jember itu menjelaskan bahwa sudah dilakukan pendataan korban.

Baca Juga: Prabowo Subianto Semangat Tangani Kaum Marginal dan Terpinggirkan

“Sementara didapatkan data, ada 58 KK, karena ada anak – anaknya, maka ditemukan ada sekitar133 orang,” ujarnya.

Kronologi Pembebasan Lahan 

Rumah Geudong yang berada diatas lahan seluar 150 X 180 meter itu, kata Wahyudi sudah beralih kepemilikannya, kepada Tengku Abdurahman. Sedangkan Tengku Abdurrahman memiliki lima anak.

“Semula memang alot, tetapi ahirnya semua sudah klir, semua ahli waris sudah ridho, dan kita klaim sebagai milik pemda. Lalu kita serahkan kepada Kementerian PUPR untuk dikerjakan sebagai masjid,” jelasnya.

Sedangkan untuk menyelesaikan pekerjaannya, Pemkab Pidie telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 4 Miliar, bersumber dari APBD.

“Kita alokasi dari anggaran BTT, yang merupakan pengeluaran anggaran atas Beban APBD untuk keadaan darurat, termasuk keperluan mendesak,” ujarnya.

Baca Juga: Abusyik Wafat, Pj Bupati Pidie Merasa Kehilangan Sahabatnya

Mengenai peruntakannya, kata Wahyudi memang sempat terjadi perdebatan. Semual ada ide untuk dijadikan Islamic Centre, tetapi kemudian disepakati pembangunan Masjid saja.

“Memang ada juga usulan agar dibangun monumen. Kalau membangun monumen ya dibangun musium saja sekalian. Saya sendiri mengusulkan agar dibangun saja gedung tempat diskusi.Semacam ruangan, yang sekitarnya ditanami pohon kurma, jadi bisa buat tempat diskusi mahasiswa,” ujarnya.

Sekilas Tentang Rumah Geudong

Wacana yang berkembang, bahwa telah dilakuk dan perobohan Rumah Geudong, seperti disampaikan Kemenkopolhukam, adalah tidak benar. Pasalnya, rumah itu sudah dibakar masa, pada tahun 1989. Ketika terjadi pertikaian antara TNI dan GAM.

Rumah Geudong merupakan sebuah tempat yang menjadi Pos Satuan Taktis dan Strategis (Pos Sattis) di Sektor A, Kecamatan Glumpang Tiga, Kabupaten Pidie Aceh. Pada saat masa darurat militer, menjadi tempat penyiksaan dan pembunuhan warga.

Akibat kemarahan warga, rumah itu lantas dibakar massa, yang kini sudah tinggal puing – puingnya saja. (MR)

Editor : Redaksi