Catatan Mas AAS

Belajar Menjadi Manusia Altrius Dari Mbah Jum Di Kasihan Yogyakarta

Reporter : -
Belajar Menjadi Manusia Altrius Dari Mbah Jum Di Kasihan Yogyakarta
Mbah Jum

Jogja memang selalu istimewa juga untuk orang-orang nya, juga untuk kisah-kisah heroik yang mampu dilakukan, dicontohkan, diteladankan oleh seorang manusia!

Adalah Mbah Jum manusia langka di jaman kapitalis dan modern sekarang. Sosok Simbah yang paripurna dalam membabarkan sebuah makna berbagi bagi seluruh penduduk di semesta. Siapa beliau sebenarnya, dan kenapa mas AAS menyanjungnya sedemikian tingginya? Mungkin itu rasa penasaran yang terjadi pada Anda. Namun, sebentar saya menyeruput kopi nya dahulu ya. Sambil memanggil dan mendoakan Mbah Jum dari kota pahlawan, meski beliau pagi ini tadi berada di Pasar Kasihan Bantul Jogja.

Baca Juga: Momentum Itu Diciptakan

Pagi ini saya sedang serius membaca informasi perihal filsafat Stoicism di internet dan ditambah menonton video yang diunggah dalam sebuah podkes yang diupload oleh seorang Youtuber. Dan setelah nya saya menulis perihal filosofi Stoicism tersebut, dan sudah saya share tulisannya di kanal media sosial yang saya miliki: WhatsApp grup, FB, dan kirim ke pimred nya sebuah portal daerah yaitu Jatim update.

Sepertinya bahwa energi di dalam dunia ini tidak berubah hanya berbeda bentuk dan kontennya saja. Ada kebenaran yang nyata barangkali, kalau pada pagi dan hari ini, energi kebahagiaan itu begitu melimpah. Tinggal tugas si manusia nya saja untuk merasakan dan menjemputnya.

Tetiba seorang kawan, yaitu si Ratno (Direktur Indopol, lembaga survei & consulting) men-tag saya dengan sebuah pesan," Ini cocok jadi bahan tulisan e Broto, ditulis di markas besarnya di Taman Bungkul Surabaya," begitu katanya di sebuah grup WA. Lalu GPL (gak pakai lama) link nya saya klik, buka, dan saya menuju ke sebuah akun IG yang membuat testimoni, tentang siapa itu Mbah Jum.

10 slide berisi penjelasan tentang siapa Mbah Jum: ia penjual tempe yang saban hari berjualan di Pasar Kasihan Jogja, beliau buta sejak lahir, dan tempe yang di jual tidak pernah berubah, dan Mbah Jum hanya mengambil 50 ribu, untuk kulakan bikin tempe esok paginya. Lalu apakah tiap hari, selalu dapat 50 ribu saja, jelas tidak. Kadang dapat uang 100, 150, 200, 250 ribu. Dan Mbah Jum selalu bilang kepada anaknya yang saban hari antarkan ke pasar, "Lee aku njupuk seketewu ae, tak nggo kulakan," kata Mbah Jum kepada Anaknya.

Dan anaknya pun bingung dan berkata," Terus keuntungan e duit e di nggo sopo mbah?"

"Sedekahkan ke kotak amal ning langgar kono Lee," jawab Simbah Jum!

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Dan perilaku yang demikian bukan sekali, atau sekadar pingin saja. Kata sang Anak di dalam penjelasan yang disampaikan kepada netizen dalam akun IG tersebut. Sikap dan perilaku yang demikian sudah dilakukan oleh Mbah Jum, sejak pertama jualan tempe hingga sekarang, kata anaknya.

Membaca kisah sampai di sini, penulis hanya mampu mendesah panjang. Lalu spontan penulis muncul sebuah tanya," Darimana motifnya, Mbah Jum, mampu memiliki sikap ALTRUIS yang sedemikian power full nya ya?"

Tentu saja ini akan menjadi panjang dan perlu riset serta penelitian dengan pola deep interview kepada Mbah Jum.

Terus tulisan ini mau dibawa kemana mas AAS?

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Dibawa ke hati nya pembaca lah. Apa maksudnya? Bahwa untuk melakukan sesuatu yang membuat penduduk langit mampu bangun dari tidur lelapnya di Sorga seketika, saat melihat tindakan nyata Mbah Jum di atas. Kalau Mbah Jum dengan segala macam keterbatasan yang dimilikinya saja mampu berbuat yang demikian.
Masak kita yang memiliki modal setidaknya panca indera tubuh yang lengkap, tak segera mengambil sikap berada dalam spirit yang sama dan mau lelaku layaknya Mbah Jum?

Tulisan ini adalah ajakan ke pribadi penulis sendiri. Namun, saat pembaca juga ada yang klik terinspirasi untuk segera take action melakukan hal yang sama ya syukur Alhamdulillah.

Selalu sehat njih Mbah Jum.


AAS, 21 Agustus 2023
Taman Bungkul Surabaya

Editor : Yuris P Hidayat