Oleh: Lutfil Hakim, Ketua PWI Jatim

Belajar Ikhlas dari Jansen Jasien

Reporter : -
Belajar Ikhlas dari Jansen Jasien

SAYA merasa sangat kehilangan atas wafatnya Jansen Jasien (JJ). Bukan saja sebagai teman, tetapi beliau sebagai seniman yang memiliki idealisme kuat 'menarasikan' sejarah melalui goresan di kanvasnya. JJ, seorang pelukis yang memiliki skill tinggi dan kemampuan teknis yang kuat dalam menuangkan cat minyak di atas kanvas. Andai JJ konsisten mengambil objek kontemporer, misal tentang landscape sebuah kota tua, maka saya yakin lukisannya akan diminati pasar dan mudah 'terjual'.

Terbukti salah satu lukisannya tentang landscape Pelabuhan Tanjung Perak yang bertema: Mr. D. Fock on Tanjung Perak Harbour kini dikoleksi oleh salah satu museum seni di Belanda.

Baca Juga: Kapolda Jatim Terima PWI Jatim Award, Buah Kondisifitas Pemilu 2024

Terkini, goresan JJ lebih memilih bercerita tentang sejarah leluhur tanah Jawa, yang tentu tidak setiap orang bisa mengapresiasi obyek lukisan tersebut secara khidmat.

Ketika di tanggal 17 Maret 2024, saat JJ mulai menurunkan beberapa lukisannya dari dinding Hall Kantor PWI Jatim, sebagai tanda berakhirnya Pameran Lukisan dalam Rangkaian Perayaan Hari Pers Nasional (HPN) Tingkat Jawa Timur, saya mencoba menyelidik raut muka JJ. Adakah rasa kecewa ketika tidak satu pun lukisan yang dipajangnya dibeli (diapresiasi) oleh pengunjung? Sungguh saya tidak menemukannya.

JJ tetap menunjukkan semangat dan seolah merasakan kebanggaan sudah bisa berkontribusi pada perayaan HPN.

Baca Juga: Rektor Unesa Dinobatkan Sebagai Change Leader Award Oleh PWI Jatim

Terus terang saya sedih saat itu. Tapi, JJ tidak sama sekali. Yang menbuat saya trenyuh, JJ full tidur (menginap) di Hall Kantor PWI Jatim selama pameran berlangsung.

Mungkin beliau sudah merasa, inilah momen terakhirnya berkhidmat mengabdi di bidang seni lukis. Meski tidak membawa 'rupiah' pulang ke rumah, tetapi beliau seolah bangga membawa pulang kembali harta karun lukisannya yang penuh nilai idealisme.

Saat mengangkut lukisannya menggunakan truk, JJ sempat WA saya: "Abah (cara JJ memanggil saya). Saya sisakan dua lukisan di dinding khusus untuk dibawa Abah ke rumah. Tolong kalau ada kegiatan PWI lagi, saya diberi kesempatan untuk pameran."

Baca Juga: Wantanas : Program Ketahanan Pangan Desa diperkuat dengan Kolaborasi Berbasis Pentahelix

Kini kedua lukisan itu masih terpampang di dinding Sekretariat PWI Jatim. Goresan tangan berkarakter kuat khas JJ tentang peradaban leluhur tergambar pada kedua lukisan. Sangat berkelas seperti karya-karya pelukis yang juga penemu Situs Terung di Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo itu.

Saya berniat menawarkan kedua lukisan tersebut kepada siapapun, syukur-syukur jika sahabat-sahabatku ikut membantu menawarkan, yang seluruh hasilnya akan kami (PWI Jatim) berikan kepada keluarganya, anak dan istrinya.

Selamat jalan sang maestro, kamu tetap memiliki nilai yang membanggakan, bagi kami, keluarga PWI Jatim.

Editor : Budi Bola Setiawan