Catatan Mas AAS

Membahas UKT Mahal

Reporter : -
Membahas UKT Mahal
Catatan MAS AAS

Aslinya ingin tidur. Karena esok pagi harus bergerilya antar kelas dalam tiga waktu. Seharian guyon maton parikeno di kelas!

Tetapi sebuah kebiasaan diskusi barangkali yang dahulu pernah diinstal dalam ruang pikir, ruang sikap, hingga ruang tindak oleh senior dalam waktu yang cukup lama saat kuliah di Malang saat itu. Melihat sebuah topik yang lagi benar-benar viral karena menyangkut urusan uang di dalam dompet yang terbatas. Namun wajib bayar UKT untuk anak kuliah, dan kabarnya yang akan dibayarkan nilai dan jumlahnya berlipat naiknya!

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Arep turu ora sido, nimbrung sedelok ikut diskusi namun lebih banyak diam menyimak dan menulis di kepala, untuk secepatnya disalin nanti di hape, jadi tulisan share!

Karena di dalam grup lebih banyak pakar yang punya otoritas berbicara karena faktor keilmuan dan juga amanah yang di sandangnya sekarang sesuai. Bertanggung jawab dalam persoalan finance di kampusnya.

Kenapa menjadi naik signifikan urusan UKT sekarang ini. Emang sebelumnya Ndak? Sebelumnya nyaman dan aman-aman saja! Apa pasalnya UKT mesti naik berlipat? Secara auto grup WhatsApp malam ini layaknya Pasar Malam . Kerena rerata anggota grup anaknya pada keterima kuliah di PTN di Negeri ini. Dan akan kena dampak langsung perihal fenomena di atas. "Pak ne Karo Mbok ne gajine ora mundak soko pabrik lan kantor e, lha kok bayaran kuliah kanggo anake sing kate kuliah, mundak e ora ketulungan," gayengnya Rembugan UKT bengi Iki mengkono!

Karena yang rembugan guyon maton parikeno ning grup: para alumni sing wis mangan bangku sekolah sing atos. Bahkan sekolahnya hingga S3, ada dosen, tak lupa yang sudah menjadi guru besar banyak juga yang ikut nimbrung diskusi, yang terbanyak yang ngomong kencang tentu saja para terdakwa yaitu para anggota grup yang anaknya keterima PTN dan kemungkinan akan kena resiko naiknya UKT. Keluar lah berbagai analisis menarik perihal apa sebabnya UKT itu harus naik! Meskipun naik ya jangan sampai yang terjadi seperti sekarang, tegas sang jamaah grup WhatsApp yang seorang pakar ekonomi dari kampus PTN juga.

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Yang bikin gemuruh diskusi di grup WhatsApp malam ini, juga hadir sang pemangku kepentingan urusan UKT juga ada, gayeng tenan. Dan penulis juga serius beneran tetapi menyimak saja hehehe. Hari-hari ini para stakeholder atau pemangku kepentingan di PTN yang bertanggung jawab dalam urusan UKT, penulis empatik, pasti juga dibikin tidak bisa tidur pulas hari-hari ini oleh kebijakan negara ini.

Penulis sangat memahami, gaya bukaan dalam diskusi malam ini cukup ciamik. Speak-speak dikit, sampaikan fenomena bahwa di Luar Negeri kuliah murah lho, contohnya di Jerman, sebuah bukaan yang dilakukan salah satu anggota grup. Di samber langsung sama senior lainnya sampaikan data berupa share link sebuah informasi tentang fenomena yang hampir sama di negeri Menara Eiffel Perancis. Anggota grup yang masih muda namun anaknya sangat semangat dalam bertukar informasi dan memang banyak info kenapa banyak kampus di luar yang mampu tidak menaikkan semacam biaya UKT. Kenapa PTN di sini jadi ada kejadian seperti sekarang. Itulah kegerahan yang benar-benar gerah sampai saat tulisan ini dibuat keringat pun masih mengucur deras dan melekat di baju penulis. Maklum sambil menulis sambil menyimak kaum cerdik cendekia itu bersabda! Siapa tahu saja obrolan malam ini bisa merubah fenomena UKT menjadi berubah. Berubah tidak jadi naik harapan seluruh jamaah grup yang anaknya sedang mau kuliah di PTN.

Kalau saja tidak berubah, penulis yang Alhamdulillah. Dapat durian runtuh lah. Kenapa bisa begitu? Semoga yang tidak sanggup kuliah di PTN biar kuliah di PTS. Biaya kuliahnya murah meriah.

Baca Juga: Hargai Semua yang Anda Miliki

Tulisan ini benar-benar harus penulis sudahi. Karena kedua jempol juga sudah rada kelu, dan obrolan di grup WhatsApp sudah adu data berupa angka-angka, tabel, dan juga adu argumentasi istilah-istilah ekonomi yang semakin runcing, karena yang sedang adu analisis adalah stakeholder dan terdakwa langsung yang sama punya pendapat dan teori-teori ekonomi yang mumpuni, dan bisa jadi berbeda pendiriannya karena di posisi yang berbeda, dan itu menarik! Satu menjaga kebijakan UKT bisa jadi aman, pihak lainya berusaha bersikap berbeda. Hanya penulis mendukung itu terjadi, diskusi memang tidak boleh berputar di permukaan saja harus lanjut menyelam, kalau perlu sampai ke dasar. Tetapi bila diteruskan ditulis, hasil diskusi yang masih tetap berlangsung malam ini, bisa-bisa kedua jempol bisa kebas rasanya nanti. Dan besok bisa telat bangun tidurnya, meski diskusi masih runcing biarlah, laporan TKP cukup sekian saja. Semoga pembaca yang budiman berkenan.

Terima kasih...


AAS, 25 Mei 2024
Warkop Langganan Rungkut Surabaya

Editor : Nasirudin