Oleh : MS.As-Syadzili*

Saat Mar’ie Muhammad ditolak Masuk Istana Negara

Reporter : -
Saat Mar’ie Muhammad ditolak Masuk Istana Negara
Ket Foto : Mar'ie Muhammad (Kanan) Bersama Fuad Bawazier saat menyampaikan keterangan di depan pers

Mobil kijang butut itu merambat pelan menuju istana negara. Entah apa perasaan yang menyelimuti penumpang di dalam mobil kijang jadul itu saat ia ditelepon oleh pihak istana, bahwa ia akan dianugerahi penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana oleh Presiden Soeharto.

Saat hendak melewati pintu gerbang istana, mobil kijang butut itu dihentikan oleh petugas keamanan. Dengan wajah sangar, petugas keamanan itu melarang pengemudi dan penumpang yang ada di dalamnya untuk masuk Istana Negara. Mungkin, dikiranya mobil kijang butut itu salah masuk. Atau mungkin, di pikiran petugas keamanan sudah terpacak kalau setiap pejabat negara yang datang ke istana, tumpangannya adalah mobil mewah.

Sampai akhirnya, penumpang mobil kijang butut itu pun membuka pintu dan menunjukkan mukanya sambil berkata :

“Saya Mar’ie Muhammad. Saya mau terima penghargaan,”ucapnya. Sang penjaga pun gelagapan dan seketika mempersilahkan mobil kijang butut itu untuk masuk melewati halaman Istana.

Itulah Mar’ie Muhammad dengan kesederhanaannya. Sempat ditolak masuk Istana negara karena mobil yang ditumpanginya adalah kijang butut yang tak layak dinaiki oleh seorang pejabat sekelas Menteri Keuangan.

 Bintang Mahaputra Adipradana yang diberikan Presiden Soeharto kepada suami dari Ayu Resmiati itu bukanlah tanpa alasan. Sebagai menteri yang menjadi jangkar dari keuangan negara, Mar’ie dinilai sebagai pribadi yang jujur, bersih dan berintegritas. Itulah sebabnya ia mendapat julukan Mr.Clean karena perjuangannya dalam memberantas suap dan korupsi di tubuh kementerian keuangan.

Kariernya dimulai dari bawah. Cobalah lihat bagaimana Mar’ie merangkaki kariernya dalam buku berjudul Kiprah Mar’ie Muhammad Mr Clean Menteri Keuangan Indonesia yang diterbitkan oleh Pusat Data dan Analisa Tempo. Disebutkan di sana, seusai lulus dari Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi UI di tahun 1969, Mar’ie mendaftarkan diri sebagai calon pegawai di Departemen Keuangan. Dua tahun kemudian, tepatnya 1971, ia kemudian diangkat sebagai pegawai pada Direktorat Akuntan Negara. Dari sinilah karier Mar’ie bermula. Pangkatnya begitu cepat meroket naik. Dan ini bukan karena upaya kongkalikong atau jalan pintas yang sering dilakukan pejabat di era Orde Baru. Melainkan karena prestasi yang ditorehkan oleh Mar’ie.

Bayangkan saja. Dalam waktu 15 tahun pangkatnya meroket dari IIIa (penata muda), menjadi IVb (Pembina Tingkat I). Itu artinya, pangkatnya naik lima kali dalam waktu 15 tahun. Padahal, di jajaran Pegawai Negeri, untuk mencapai golongan IVb, butuh waktu sekitar 22 tahun untuk nangkring di posisi itu.

Karier Mar’ie memang tak selalu mulus. Pernah ia mengalami kesulitan saat hendak naik pangkat menjadi Direktur atau Eselon 2 dikarenakan bisikan salah satu staf pribadi Presiden Soeharto yang menyampaikan bahwa Mar’ie adalah aktivis mahasiswa Islam garis keras karena aktif di HMI. Hal ini diungkapkan oleh Johannes Baptista Sumarlin dalam Majalah Media Keuangan Vol.XIII/No.133 Oktober 2018. Mantan Menteri Keuangan yang juga dosen Mar’ie saat di Fakultas Ekonomi UI itu berkisah :

“Mar’ie nampaknya sulit menjabat eselon 2. Keterangan dari salah satu staf pribadi Presiden Soeharto menyebutkan, bahwa Mar’ie adalah mantan aktivis Mahasiswa Islam garis keras. Sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, saya menjelaskan kepada Soeharto bahwa Mar’ie adalah mahasiswa Islam yang baik, tidak seperti bayangan staf presiden. Akhirnya, saya beri tahu Ali Wardhana, dan Mar’ie bisa diangkat ke Eselon 2,”jelas Sumarlin.

Kariernya pun akhirnya terus melejit. Meski dengan jabatan yang mentereng, hal itu tak mengurangi sedikit pun kejujuran, kekerasan pendirian dan keteguhannya dalam menjalankan tugas negara. Terutama saat Mar’ie menjabat sebagai Direktur Jenderal Pajak 1988-1993. Tanpa pandang bulu, semua wajib pajak disatroninya. Sekalipun itu penguasa tertinggi Indonesia saat itu, Presiden Soeharto.

Dalam Majalah Media Keuangan Vol.XIII/No.133 Oktober 2018 juga dituturkan bagaimana Mar’ie pada suatu hari di tahun 1989, berjalan mondar mandir di sekitar Komplek Cendana. Kawasan jalan Cendana adalah kawasan elit dan eksklusif karena menjadi lokasi tempat tinggal keluarga besar Soeharto.

Dengan berani, Mar’ie mendatangi rumah Presiden Soeharto di jalan Cendana itu sembari membawa meteran atau pita ukur. Tanpa sungkan, Mar’ie sendiri yang memimpin langsung proses pengukuran luas rumah sang Presiden. Saat itu, Direktur Jenderal Pajak memang sedang gencar-gencarnya mengumpulkan data kepemilikan aset rumah untuk penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan.

“Tak peduli Presiden ataupun pengusaha, soal keharusan membayar pajak, tidak ada pengecualian,"tegas Mar’ie.

Sepak terjang yang dilakukan Mar’ie saat menjadi Dirjen Pajak pada akhirnya berbuah manis. Mar’ie berhasil mengumpulkan pajak di luar minyak dan gas bumi sebesar Rp.19,7 triliun pada periode 1992/1993, jauh melebihi target pajak sebesar Rp.9,1 triliun. Inilah yang kemudian membuat Presiden Soeharto kepincut dengan pria kurus berkacamata tebal kelahiran Kampung Ampel Surabaya itu.

Hingga akhirnya pada 17 Maret 1993, Mar’ie diangkat oleh Presiden Soeharto untuk menjadi Menteri Keuangan Kabinet Pembangunan VI. Meski diangkat oleh Soeharto, ternyata tak secuilpun sikap Mar’ie bergeser dan berubah. Dia tetap seperti sebelumnya. Tegas, lurus, jujur, dan berintegritas. Tak ada kompromi bila sudah berkaitan dengan upaya penyelamatan ekonomi negara. Dan itu dibuktikannya lewat keputusan yang diambilnya saat melikuidasi 16 Bank yang beberapa di antaranya milik keluarga Presiden Soeharto. Di antaranya Bank Andromeda milik putra Mahkota Presiden Soeharto, Bambang Trihatmodjo. Lalu Bank Industri milik Siti Hediati Prabowo, kemudian Bank Jakarta milik dari Probosutedjo. Gegara itu, Bambang Tri hendak mem-PTUN-kan Mar’ie karena menganggap ada agenda politik terselubung atas pelikuidasian bank miliknya itu.

“Penutupan Bank Andromeda merupakan sesuatu yang ironis dan menyangkut kredibilitas saya sebagai pimpinan sebuah kelompok usaha,”ujar Bambang Trihatmodjo. Langkah Mar’ie melakukan likuidasi terhadap 16 bank dari 20 bank yang masuk daftar, ternyata dituding memiliki agenda politik untuk melengserkan Soeharto.

Tudingan tak berdasar itu pun disanggah oleh Ismail Hasan Metareum dalam Majalah Parlementaria Edisi No.21 Th.XXIX.1998. Buya yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua DPR RI mengatakan bahwa ia tak melihat ada maksud politik dari Mar’ie Muhammad dalam melikuidasi 16 bank yang dilikuidasi tersebut.

“Saya tak melihat itu. Yang saya lihat, likuidasi terhadap 16 bank tersebut untuk memperbaiki sistem moneter kita. Jadi, saya kurang memahami apa yang dimaksud Bambang. Tak mungkin Mar’ie mendiskreditkan keluarga Pak Harto,”tegas Buya.

Sepengetahuan Buya, Mar’ie itu orangnya jujur dan polos. Mar’ie bukan type orang yang suka melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan fungsi dan tugasnya

“Saya tidak melihat tanda-tanda Mar’ie akan jadi anak nakal. Dia orangnya lurus,”kata Buya.

Gegara tuduhan tak mendasar yang dikeluarkan oleh Bambang Trihatmodjo itu, ada sebagian kalangan yang menganggap bahwa Mar’ie Muhammad dianggap sebagai salah satu aktor yang berupaya menjatuhkan Presiden Soeharto dengan menjadikan krisis moneter saat itu sebagai momentumnya. Bahkan, tragisnya, Mar’ie dituding memiliki akun di Amerika dengan jumlah yang sangat besar.

Namun, pada akhirnya, sejarahlah yang membuktikan bahwa segala tuduhan yang ditimpakan terhadap Mar’ie tidaklah terbukti. Hingga akhir hayatnya, hidupnya tetap dalam kesederhanaan dan kebersahajaan. Saking sederhananya, Mar’ie tak suka membawa uang tunai saat hendak bepergian ke manapun. Pernah pada suatu waktu, Mar’ie ditahan oleh Barber Shop karena tak membawa uang saat mencukur rambutnya. Mar’ie pun kemudian menelepon salah satu pegawainya.

“Eh Yus (nama pegawai pak Mar’ie), ke sini ya, bapak nggak bawa duit. Jadi ditahan dulu sama Barber Shop-nya. Nggak bawa uang,”

Kebiasaan tak suka membawa uang cash ini merupakan prinsip kehati-hatian yang diterapkan oleh Mar’ie Muhammad. Pria penyuka rujak cingur ini merasa takut kalau memegang uang takut tidak dipergunakan untuk hal-hal yang baik.

“Uang itu salah satu alat yang paling mudah untuk mengubah orang. Bila seseorang tidak amanah dalam soal uang, maka dia tidak akan amanah dalam segala hal”begitulah ujarannya yang selalu dikenang oleh rakyat Indonesia (*).

*Penulis adalah Jurnalis Jatim Update & Kerani Arsip Historia HMI

Editor : Redaksi