Catatan Mas AAS

Refleksi Dari Manusia Sebagai Makhluk Multi Dimensi

Reporter : -
Refleksi Dari Manusia Sebagai Makhluk Multi Dimensi
Mas AAS

Manusia adalah mahkluk multi dimensi. Ia bisa menjadi mahkluk sosial, mahkluk sejarah, mahkluk politik, dan kerap dalam kediriannya yang ada di dalam ia adalah mahluk spiritual. Apapun yang hadir menyapa dirinya dalam setiap waktu mampu menggugah dan membangunkan posisi dirinya akan berperan menjadi mahkluk seperti apa untuk merespon apapun yang hadir! Ia akan berpihak ke mana untuk alasan apa?

Masih tetap melanjutkan aktivitas hidup hari ini. Sembari duduk di emper rumah. Ada tanya kadang menyelinap di benak, "kok bisa ya, sebuah grup WhatsApp ramai terus dengan menu diskusi, mulai dari topik negara, pemimpin, kebijakan, dan sesekali menyoal hiburan karena usia sudah merangkak menuju senja para penghuninya!"

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Tak dipungkiri hadirnya teknologi yang bisa menyediakan orang berkumpul lalu berbincang banyak hal, sudah menjadi alat efektif membuat jiwa ini selalu hidup, ia tak kesepian, di saat pada usia yang sekarang yang sudah tidak muda lagi. Orang perlu didengar, orang perlu diperhatikan, dan sesekali orang ingin mengulang saat-saat mereka muda dahulu menjadi pengiat aktivitas kampus di berbagi sudut-sudut fakultas juga kampus. Bertukar wacana, lalu sesekali berdebat, adalah menu asupan bergizi sebuah tradisi yang sudah dibiakkan benih sedari dunia mahasiswa, dipekerjaan, lalu sekarang barangkali sudah bergeser menjadi manusia bebas, pensiun.

Nah, seharian ini tadi, barangkali penulis layaknya seorang Ibn Batuta, duduk diam berkelana mengunjungi di berbagai grup WhatsApp. Lalu menyimak obrolan yang tengah berlangsung di berbagai grup dan sesekali nimbrung sekadar satu dua kali respon, lalu tiarap menjadi silent reader. Dan pikiran itu lalu menjalankan tugasnya mencoba menulis di dalam kepala, untuk lain waktu di hari ini, entah esok dipahat tulisan panjangnya. Dan malam ini hasrat itu tak sanggup dihentikan lalu menulislah, "kok bisa itu anggota grup WhatsApp tetap saja hidup 24 jam, obrolannya, hanya berhenti manakala jam malam sudah datang, dan raga tak kuasa lagi mengetik status dan menanggapi umpan balik obrolan anggota grup lainnya, gila habis pokoknya!"

Kadang, bagi orang lain hal yang macam demikian hal yang biasa. Bagi penulis sayang apabila hanya terlewat, setidaknya dipungut penulis menjadi sebuah cerita tutur yang bisa dibuat ulang untuk beberapa seri dan topik: topik politik global, topik pemimpin RI, topik pendidikan di negeri tercinta, topik pendidiknya sendiri yang masih terbebani banget oleh hal administrasi berbagai laporan yang mesti kudu dirampungkan, kalau mau cair, ada tambahan pemasukan, dari Serdos atau malah dari dana hibah barangkali, upps! Tak lupa hal-hal yang demikian tak luput dari obrolan di beberapa grup WhatsApp yang penulis hadir di dalamnya juga.

Namun, demikian ada juga grup WhatsApp yang terus bertekun untuk mengajak anak bangsa ini kembali ke dunia pertanian mencintai Ibu Bumi nya. Janganlah pergi ke luar negeri usai lulus sekolah dan kuliah, dengan alasan sekadar mencari cuan pada saat di kampung, dan sawah juga tegalan yang ada sudah terlalu banyak dipenuhi kaum paruh baya yang hanya menunggu waktu saja untuk kondur kepadaNya dengan jiwa yang tenang.

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Di saat anak-anak muda yang lagi fresh ilmu dan usianya tak mau lagi melirik tanah sawah dan ladang nya yang sudah mulai tidak tergarap, ada juga kambing, sapi, sesekali kerbau yang perlu sentuhan anak-anak muda yang barusan lulus dari sanggar pamujan pendidikan terbaik di kota-kota besar bahkan dari luar negeri! Obrolan di grup ini, menyita perhatian penulis juga.

"Yok opo carane anak-anak muda itu mencintai sawah dan ladangnya, juga ternak-ternak nya menjadi sumber pendapatan hidupnya!" Yang punya pengalaman dan telah membuktikan hasilnya, banyak memberi sabda pada forum tersebut.

Apapun saja yang lewat layak di tulis. Terutama bagi diri penulis. Manakala emosi dan panca indera itu telah dipicu keadaan yang dilihat dan yang dirasakan. Dan telah memunculkan sebuah tanya untuk dijawab!

Baca Juga: Hargai Semua yang Anda Miliki

Demikian...


AAS, 03 Juni 2024
Emper Omah Rungkut Surabaya

Editor : Nasirudin