Catatan Mas AAS

Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Reporter : -
Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus
Mas AAS

Hari-hari ini penulis banyak menghabiskan duduk di sebuah Stasiun Kereta. Duduk menunggu datangnya kereta, lalu pulang ke Surabaya, usai bekerja mengajar di Kampus ITB Yadika Pasuruan.

Saat duduk di Stasiun dan kemudian masuk ke gerbong kereta KRL "SUPAS" Surabaya -Pasuruan malam ini. Seketika penulis mengucap terima kasih kepada Mister Ignasius Jonan.

Baca Juga: Memasak: Sebuah Seni dan Cara Menikmati Momen Liburan

Siapa Mister Ignasius Jonan? Mantan Direktur Utama PT. KAI (Kereta Api Indonesia) yang ke-22. Masa jabatan 25 Februari 2009-27 Oktober 2014.

Hadirnya kereta api sebagai alternatif pilihan alat transportasi yang terbaik. Telah diakui oleh masyarakat di negeri tercinta.

Bisa jadi malam ini, penulis beruntung. Satu gerbong hanya penulis sendirian sebagai penumpangnya. Hal ini yang membuat penulis mondar-mandir macam anak kecil memeriksa kabin di dalam gerbong. Tak lupa masuk ke toilet, merek wc nya american style. Benar-benar mewah, bisa jadi penulis telat menilai kinerja sang pemimpin alternatif tersebut di bidang perkeretaapian saat itu. Ya bisa jadi benar, penulis agak terlambat menilai keberhasilan mister Jonan membuat sebuah legacy nyata.

Kenapa alumnus UNAIR ini bisa melakukan hal yang demikian di PT KAI. Di mana mampu merubah secara signifikan kepada apa yang sedang terjadi pada alat transportasi sejuta umat ini. Ya, karena beliau tipikal pemimpin yang benar-benar tahu apa yang diinginkannya, ia adalah tipikal seorang leader pembentuk konsensus: "Aku ingin ini di KAI, titik!" Apapun resikonya akan aku hadapi.

Lalu sebagai pucuk pimpinan saat itu. Ia turun ke lapangan secara total football. Mengedukasi anak buah dan semua pemangku kepentingan yang bertanggung jawab di KAI. Lantas antara omongan serta tindakannya kongruen sebangun, tidak bias apalagi berbeda.

Baca Juga: Libur Panjang Idul Adha, KAI Commuter Layani Ribuan Pengguna KA Commuter Line

Di saat berbagai macam teori kepemimpinan yang dipelajari di dalam kelas. Banyak sekali hal idel yang dijelaskan melalui teori yang ada. Namun rada sulit menemukan sebuah teladan dari praktek dari sebuah teori di ranah praksisnya. Entah menemukan sosok pemimpinnya atau obyek yang berhasil dipimpinnya. Mister Jonan, adalah pengecualian. Beliau sosok yang berbeda.

Duduk sendirian di dalam gerbong sembari kedua mata melihat kedua jempol menari memilih huruf di keypard hape, untuk melanjutkan menulis. Penting seorang pemimpin itu menjadi seorang leader bukan sekadar manager. Manager berhenti bekerja bila target terpenuhi. Seorang leader adalah beyond akan tanggung jawab yang diembannya. Ia punya keinginan besar membuat sebuah legacy. Dan telah kita saksikan bersama-sama. Meski kereta yang ditumpangi penulis malam ini levelnya adalah kereta dengan katagori ekonomi. Namun begitu, penulis benar-benar merasa nyaman. Bukan karena satu gerbong dipakai sendirian, tidak!

Nah, sila ditelisik kedalam diri masing-masing. Pembaca budiman yang malam ini tengah diberi amanah menjadi seorang pemimpin. Anda itu pemimpin macam apa?

Tidak perlu dijawab langsung. Karena penulis juga rada gamang menilai kepemimpinan diri sendiri. Jangan-jangan hanya sekadar seorang manager! Hanya berburu tepuk tangan, apresiasi semu, lupa membuat sebuah legacy yang akan dikenang secara abadi bahkan turun temurun oleh institusi di mana Anda menjadi seorang leader!

Baca Juga: Momentum Itu Diciptakan

Penulis harus akhiri tulisan ini, karena sebentar lagi kereta api sampai Stasiun Waru. Dan penulis harus turun, untuk terus pulang ke rumah di Rungkut Surabaya.

Sekian...


AAS, 11 JUNI 2024
Gerbong 5 Kereta Api SUPAS

Editor : Nasirudin