Surabaya - Seperti drama korea (drakor), ada yang menangis ada yang tertawa. Akhirnya perburuan rekomendasi PDIP untuk Pilwali Surabaya 2020 mencapai antiklimaks, Rabu (2/9/2020).

And the winner is...Tri Rismaharini sebagai sutradara terbaik. Dan pemain utamanya adalah Eri Cahyadi, yang selama tiga tahun terakhir disiapkan dengan sistematis oleh Risma untuk menjadi pewaris dan penerus dinasti politiknya sebagai wali kota Surabaya.

Pemain figuran adalah Armudji, yang ketiban rezeki karena positioning-nya yang nriman (menerima) menjadi calon wakil wali kota. Jabatan yang dalam 10 tahun terakhir ini tidak efektif dan aktivitasnya seperti mesin Panther, nyaris tak terdengar.

Korban yang paling sakit, siapa lagi kalau bukan Whisnu Sakti Buana. Ia seperti pesakitan yang diplonco dipaksa mendengarkan vonis mematikan. Whisnu berusaha tatag, berdiri di depan kamera menghadap Megawati Soekarnoputri.

"Aku tidak akan buang kamu, Whisnu," kata Mega.

Siap, Bu. Whisnu mengepalkan tangan ke dadanya, menahan matanya yang mengembang basah. Berakhir sudah perjuangan dan ambisinya untuk menjadi wali kota Surabaya.

Lima tahun terakhir mendampingi Risma tidak cukup meyakinkan elite PDIP untuk mencalonkan Whisnu. Jelas sudah bahwa Megawati hanya mendengarkan suara Risma, bukan hasil survei, bukan lainnya.

Sepuluh tahun memimpin Surabaya Risma banyak dikagumi, terutama oleh Megawati. Jauh hari sudah beredar kabar Mega akan memberi cek kosong kepada Risma untuk diisi siapa yang bakal menjadi penerus dinasti politiknya.

Risma sedang memainkan kartu dinasti politik. Ia tidak menunjuk anak biologisnya, Fuad Benardi, yang sempat muncul namanya, untuk menjadi penerusnya. Risma menunjuk anak birokratisnya, Eri Cahyadi, untuk jadi penerusnya.

Lawan yang dihadapi lumayan tangguh, pasangan Machfud Arifin dengan Mujiaman Sukirno, bekas anak buah Risma di PDAM.

Ini adalah pertarungan dan pertaruhan gengsi dan reputasi politik Risma. Dia pasti akan habis-habisan berkampanye untuk Eri. Ini adalah kartu truf terakhir yang dipegang Risma. Kalau kali ini Risma kalah, karir politiknya akan berada di ujung tanduk banteng.

Risma diuntungkan karena dia bisa tetap memegang jabatannya sampai pilwali selesai. Ia akan memaksimalkan semua privilege-nya untuk berkampanye melanggengkan dinasti politiknya. Risma akan menjadi vote getter, pendulang suara yang ditunggu-tunggu oleh pemilih Surabaya.

Beruntung masih ada Armuji yang sudah cukup berakar di kalangan kader dan konstituen PDIP. Tiga periode di dewan menjadi bukti Armuji bisa memainkan grass root, akar rumput.

Bahwa dia pernah menyentil Risma dengan mengungkit soal makelar proyek di Pemkot Surabaya, itu adalah drakor episode masa lalu. Bahwa Armuji dikait-kaitkan dengan kasus hukum beberapa anggota dewan di DPRD Surabaya, anggap saja itu gonggongan anjing.

Akan halnya Eri, dia sudah tidak perlu lagi "shy shy cat", malu-malu kucing, kata Tukul. Saatnya pemilih Surabaya tahu bagaimana kualitas Eri. Pemilih Surabaya harus tahu kemampuan Eri supaya pemilih tidak tertipu membeli kucing dalam sewek alias jarit.

Eri jangan jadi anak mama yang hanya duduk manis di belakang ibunda. Apalagi jadi wayang kulit, wayang golek atau wayang potehi dari Tiongkok.

Risma juga sudah sesumbar tidak takut dikeroyok koalisi delapan parpol pendukung Machfud Arifin-Mujiaman. Risma mengaku sudah berpengalaman ditawur banyak parpol.

Pada pilwali 2015, Risma yang berpasangan dengan Whisnu ditawur koalisi lima parpol. Risma menang dengan mudah, karena lawannya hanya pasangan sekelas Liga 3, yang dipaksakan di injury time.

Lima tahun sebelumnya Risma berpasangan dengan Bambang DH, wali kota inkamben yang populer. Ibarat orang terjun payung, Risma hanya menjadi tandem atau pembonceng dan Bambang DH yang bekerja mengendalikan payung supaya bisa mendarat mulus. Setelah mendarat mulus Bambang ditendang.

Saat itu Risma mendapat dukungan penuh dari sejumlah media berpengaruh dan perusahaan properti. Trio koalisi ini sungguh full power karena menguasai media dan modal.

Kekuatan-kekuatan itulah yang menyokong Risma menjadi wali kota yang sangat peduli pada perkembangan, yaitu urusan kembang, taman dan pengembang alias developer.

Sekarang kondisinya beda. Lawannya lebih tangguh. Media dan modal sudah terpolarisasi. Machfud Arifin adalah petarung yang malah lebih bernafsu kalau mencium bau darah. Kalau diadu debat head to head, lek-lekan dengan Eri, Machfud lebih matang pengalaman.

Mujiaman belum banyak dikenal, tapi pengalaman profesionalnya akan memberi tambahan kekuatan signifikan bagi Machfud. Ditarungkan dengan Armuji di debat terbuka kualitas Mujiaman beberapa strip di atas Armuji.

Tapi pilwali bukan tarung macan kertas di atas kertas. Pilwali ini tarung bebas, panas di atas matras. Siapa saja bisa kalah bisa menang.

Ini adalah pertaruhan politik dan adu gengsi Risma. Sekarang atau tidak sama sekali. Pertaruhan yang sangat krusial yang harus dimenangkan dengan berbagai cara.

Risma akan menjadi sutradara utama untuk memenangkan pasangan "Boneka Cantik dari Balaikota".

Dhimam Abror Djuraid

Jurnalis senior Surabaya

jatimupdate.id tidak bertanggung jawab atas isi opini. Opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis yang seperti diatur dalam UU ITE

Berita Terkait

Berita Terpopuler