Serba-serbi Kahlil Gibran

Reporter : Shofa
Buku Kahlil Gibran

Serba-serbi Kahlil Gibran
.
Oleh Dwiki Setiyawan

Wasekjen MN KAHMI Masa Bakti 2022-2027, Hobi membaca karya sastra.

Baca juga: Analisis Lirik “Tangguh” Kobe: Semangat Perlawanan dari Jiwa yang Tak Mau Tumbang


Jakarta, JatimUPdate.id : Dini hari memasuki Idul Adha 1446, sebuah pesan masuk dari rekan senior, sahabat karib yang belakangan lumayan aktif menggali kembali memory publik atas sejumlah kejadian masa lalu yang sempat dimuat dalam berita oleh Redaksi JatimUPdate.id, namun kali ini senior mantan Ketua Bakornas Lapmi 1997-1999 itu sengaja mengurai dan mengulas sebuah karya sastra, selamat menikmati : 

Baca juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian II 

Di malam Idul Adha 1446 Hijriah ini, saya membaca kembali karya Kahlil Gibran: Airmata dan Senyuman
.
Buku yang diterbitkan Yayasan Bentang Budaya Yogyakarta. Dibeli pada 1999. Di sampul belakang buku, masih tertempel barcode pembelian, seharga Rp 15.500,-
.
Apa manfaat langsung yang dirasakan ketika kita baca karya-karya Gibran? Atau karya sastra lainnya?
.
Bagi saya, paling pokok memperhalus budi pekerti. Secara tidak sadar, apabila diaplikasikan ke dalam bentuk tulisan, suatu karya sastra akan memberi roh tersendiri atas tulisan tersebut
.
Pengaruh karya sastra jua perlahan namun pasti, akan membentuk gaya tulisan lain daripada yang lain, yang membedakan antara satu penulis dengan penulis lainnya
.
Baik itu pada pilihan kata, ungkapan, gaya bahasa, dan narasi (yang nampak prosais atau puitis) pada diri seorang penulis, ketika ia menggoreskan pena
.
Ciri khas, langgam atau gaya penulis seperti dimaksud, barangkali yang membedakan, dengan hasil karya lewat aplikasi kecerdasan buatan (AI) yang kini sedang trending
.
Orang boleh dan bisa saja membuat suatu tulisan atau karya lewat AI. Akan tetapi, akan nampak bahwa tulisan tersebut hakikatnya kering. Tak berjiwa. Lantaran ia bukan gayanya sendiri
.
Pada titik seperti itulah, karya sastra masih sangat relevan untuk kita baca. Lantaran dengan membacanya, akan memperkaya jiwa. Membasahi pikiran. Alih-alih membentuk gaya khas dalam tulisan
.
Kembali ke Kahlil Gibran. Sang Nabi, buku Gibran terjemahan Indonesia pertama, diterbitkan Pustaka Jaya, tahun 1981. Buku tipis seukuran saku, bersampul warna kuning
.
Alhamdulillah saya telah membacanya di tahun-tahun mula terbitnya. Kala duduk di bangku SMP. Yang membuat buku Sang Nabi terbitan Pustaka Jaya edisi Indonesia enak dibaca dan perlu --yang pada gilirannya cukup laku di pasaran-- yakni terjemahannya sangat bagus
.
Diterjemahkan oleh Sri Kusdyantinah. Motivasi dia menerjemahkan karya-karya Kahlil Gibran bukan semata karena honorarium. Ujar Sri, "Lantaran kecintaan terhadap karya Gibran"
.
Dikatakan lebih lanjut olehnya, bahwa gaya penulisan Gibran "senada dengan jiwa saya"
.
Bukan hanya Sri Kusdyantinah sahaja, saya pun demikian... langgam karya Gibran "seirama dengan jiwa saya"
.
Jakarta, 5 Juni 2025. (sof/yh)


Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru