Oleh: Bayu Bintoro
Jurnalis Senior, Pegiat Perpustakaan, Pengamat Sosial, Politik dan Budaya
Baca juga: Achmad Hidayat Siap Buka-bukaan Konflik dengan Armuji Jika DPP PDIP Turun Tangan
Malang, JatimUPdate.id : Konflik bersenjata di Timur Tengah kembali meningkat, tidak lagi terbatas di Palestina, namun kini melibatkan wilayah Iran secara langsung.
Ketegangan antara Israel dan Iran memasuki babak baru yang membuka dinamika geopolitik global secara lebih terbuka. Di tengah pusaran ini, pertanyaan penting muncul: siapa yang benar-benar membela keadilan, dan siapa yang menjadikan konflik sebagai alat kepentingan strategis?
Israel dan Amerika Serikat: Sekutu Strategis
Dukungan Amerika Serikat terhadap Israel telah berlangsung lama dan terstruktur. Dalam konflik Gaza, AS kembali menunjukkan sikap tersebut melalui:
Dukungan Militer: AS mengirimkan sekitar 3.000 bom presisi Joint Direct Attack Munition (JDAM) dan bom penghancur bunker BLU109 ke Israel. Senjata ini digunakan dalam operasi udara di Gaza dan Rafah.
(Sumber: Reuters)
Veto Diplomatik: Pada 12 Juni 2025, AS kembali memveto resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata dan akses kemanusiaan di Gaza.
(Sumber: Straits Times)
Serangan ke Isfahan, April 2024: Titik Api Baru
Pada 19 April 2024, Israel menyerang fasilitas radar di Isfahan, Iran. Serangan ini merupakan respons atas serangan Iran terhadap fasilitas diplomatik Israel di Damaskus, serta peluncuran drone dan rudal ke wilayah Israel.
Meski tidak terlibat langsung, AS diketahui telah menerima pemberitahuan dari Israel sebelum serangan terjadi. Hal ini dinilai sebagai indikasi bahwa Israel bertindak sejalan dengan kepentingan strategis AS di kawasan.
(Sumber: Wikipedia)
Operation Rising Lion: Serangan 13 Juni 2025
Pada dini hari 13 Juni 2025, Israel melancarkan serangan udara skala besar ke berbagai lokasi strategis di Iran. Target serangan meliputi:
Fasilitas nuklir
Pabrik rudal balistik
Kediaman beberapa tokoh militer tinggi Iran seperti Komandan IRGC Hossein Salami dan Kepala Staf Mohammad Bagheri
(Sumber: Straits Times, Reuters, Wikipedia)
Serangan ini juga menewaskan beberapa ilmuwan nuklir Iran, di antaranya Fereydoun Abbasi-Davani dan Mohammad Mehdi Tehranchi.
(Sumber: Time)
Pihak Israel menyatakan bahwa operasi ini dilakukan tanpa keterlibatan langsung dari Amerika Serikat, meskipun pemberitahuan kepada Washington telah disampaikan sebelumnya.
Ini memperkuat narasi penggunaan proxy atau perpanjangan tangan dalam menjalankan kepentingan geopolitik.
Eskalasi dan Dampak Regional
Sebagai balasan, Iran meluncurkan lebih dari 100 drone ke wilayah Israel. Sebagian besar berhasil dihancurkan oleh sistem pertahanan udara Israel dan sekutunya.
(Sumber: Telangana Today, New York Post)
Dampak global langsung terasa:
Baca juga: Terganjal Faktor Senior, Konflik Achmad Hidayat vs Armuji Butuh Sentuhan Figur Karismatik DPP PDIP
Harga minyak melonjak 6–8%
Saham dan obligasi di kawasan Timur Tengah mengalami tekanan
Maskapai internasional membatalkan rute penerbangan menuju kawasan konflik
Sementara itu, AS menyatakan tidak terlibat dalam operasi militer Israel, dan menyerukan penurunan tensi. Beberapa negara mengutuk kekerasan tersebut dan menyerukan penyelesaian damai melalui diplomasi.
Iran dan Hizbullah: Perspektif yang Kontras
Bagi negara-negara Barat, Iran dan Hizbullah dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas regional. Namun, bagi sebagian besar negara Muslim, poros ini dilihat sebagai simbol perlawanan terhadap hegemoni AS–Israel.
Cina dan Rusia turut mengecam veto AS di PBB, menyebutnya sebagai "izin untuk membunuh." Di sisi lain, AS menilai bahwa resolusi gencatan senjata tanpa syarat justru memperkuat posisi kelompok Hamas dan memperumit pembebasan sandera.
Konflik yang Melampaui Wilayah
Apa yang terjadi bukan sekadar konflik regional. Seluruh langkah militer dan diplomatik mengindikasikan persaingan pengaruh global antara blok AS–NATO dan blok Rusia–Tiongkok di kawasan kaya energi, strategis, dan vital bagi jalur perdagangan dunia.
Muslim bersikap Netral Aktif, Bukan Pasif
Islam mendorong umatnya untuk bersikap adil dan tidak condong kepada kezaliman. Al-Qur’an menegaskan:
Baca juga: Arif Fathoni Doakan Konflik Armuji - Achmad Hidayat Segera Mereda
“Dan janganlah kalian cenderung kepada orangorang yang zalim, yang menyebabkan kalian disentuh api neraka...” (QS. Hud: 113)
Rasulullah juga bersabda:
“Barangsiapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka dia bukan bagian dari mereka.”
(HR. Thabrani, dengan sanad hasan)
Artinya, netralitas pasif dalam menghadapi kezaliman adalah sikap yang tidak dibenarkan dalam ajaran Islam.
Langkah Praktis Menegakkan Keadilan
Dalam situasi ini, beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan antara lain:
Boikot produk dari perusahaan yang terbukti mendukung kekerasan.
Bijak bermedia sosial: verifikasi informasi, hindari penyebaran hoaks dan narasi kebencian.
Pendidikan sosial: tanamkan kesadaran keadilan sejak dini, bukan hanya pengetahuan akademik.
Advokasi politik: dorong wakil rakyat dan organisasi masyarakat agar aktif bersuara dalam isu kemanusiaan global.
Suara Keadilan Tidak Boleh Bungkam
Serangan Israel ke Iran pada Juni 2025 menegaskan pola lama yang berulang : penggunaan kekuatan militer sebagai instrumen pengaruh geopolitik. Meski Amerika Serikat tidak secara langsung terlibat, pemberitahuan sebelumnya menunjukkan koordinasi strategis yang mengakar.
Bagi umat Islam, hal ini bukan sekadar isu politik, melainkan ujian. Diam bukanlah netralitas, melainkan pengkhianatan terhadap keadilan. (dek/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat