Ambisi Melampaui 'Karman Line'

Reporter : Ibrahim
Hadi Prasetyo, Pemerhati Ekonomi, Sosial, Politik dan Budaya

Oleh: Hadi Prasetyo

Pemerhati Sosial, Ekonomi, Hukum, Politik dan Budaya

Baca juga: Seni Berkhianat


Surabaya, JatimUPdate.id : Ketika merenung tentang perkembangan liar dari ambisi manusia, mulai dari konsep ambisi yang wajar, meningkat pada ambisius, dan meningkat lagi menjadi obsesif, dan berujung pada obsesif buta yang menghalalkan segala cara (Machivellian), pikiran otomatis tertuju pada sosok raja Firaun dan Kaisar Nero.


Tapi rasanya kedua sosok ini tidak istimewa, karena mereka memang lahir dari keturunan bangsawan. Mungkin lebih istimewa Adolf Hitler yang berasal dari keluarga sederhana berlatar belakang seni, tapi tumbuh dari perjuangan untuk meraih karier kekuasaan tertinggi.


Lagi-lagi sampai disini renungan belum mencapai inti dari perkembangan liar ambisi yang hendak dijadikan kontemplasi, karena Hitler masih berjuang mati-matian dalam konteks persaingan kekuasaan sampai pada tingkat tertinggi dan butuh waktu lama.


Yang istimewa adalah ketika ada fakta sosok ‘manusia sederhana lugu’ (disingkat MSL), rakyat biasa, intelektualitas cukupan, pebisnis kecil, bukan tokoh politik (awalnya) tapi kemudian dalam waktu sangat singkat karirnya melambung eksponensial secara mengejutkan, karena tidak pernah ada peristiwa seperti itu sebelumnya.


‘Manusia sederhana lugu’ mencapai puncak karir dalam waktu singkat, melalui branding politik dan dukungan keuangan oligarkis yang sangat kuat, yang dalam proses demokratisasi didukung oleh rakyat yang rata-rata tingkat pendidikan menengah rendah, tipologinya polos-lugu, mudah percaya dan mudah tertipu.


Sosok MSL dari manusia sederhana lugu, dalam konsep psikologis sosial mengalami social dislocation (merujuk pada kondisi di mana struktur, norma, atau hubungan sosial mengalami gangguan mendalam, menyebabkan individu atau kelompok terpisah dari posisi, peran, atau identitas sosial sebelumnya).


Sosok MSL ada dalam keadaan "ketercerabutan" yang memicu ketidakstabilan, alienasi, dan krisis makna.

Kekuasaan, sanjungan pujian yang begitu mendadak dan masif, menyebabkan perubahan drastis jiwa dan sikap hidup, dari sosok yang sederhana lugu kemudian bergeser menjadi sosok yang ambisius, dan berlanjut menjadi sosok obsesif kekuasaan; obsesif pujian dan penghormatan, hingga pada akhir stadium obsesifnya menjadi obsesif buta, menjadi sangat otoriter, post-truth, peraturan bahkan konstitusi negara diterjang habis.


Fenomena stadium obsesif buta ini bisa dianalogikan dengan garis ‘Karman’ (Karman Line),


Garis Karman: Batas Ruang Bumi dan Ruang Langit


Di tepi langit yang sunyi, 100 km di atas bumi, terbentang garis tak kasat mata bernama ‘Karman Line’. Dibawahnya ada atmosfer kehidupan, gravitasi moral, dan hukum kemanusiaan.

Di atasnya: ruang angkasa tanpa batas; suatu wilayah mutlak hukum kosmis yang tak tunduk pada nafsu manusia. Garis ini bukan sekadar batas fisika, melainkan ‘peringatan kosmik’ bahwa ada wilayah kuasa yang bukan hak kita untuk menguasai.


Manusia modern terobsesi melampaui batas. Pesawat ulang-alik menembus Karman Line dengan pongah, membawa ambisi kolonisasi planet lain. Tapi ada batas lain yang lebih halus dan berbahaya sedang kita langgar yaitu Karman Line Ambisi Duniawi.


Saat kekuasaan politik, ekonomi, atau militer melampaui garis batas kemanusiaan, kita memasuki ‘ruang hampa etika’ tempat oksigen nurani lenyap.

Di sanalah ‘metode Machiavelli’ berkuasa dengan tujuan menghalalkan segala cara, kebenaran direduksi jadi propaganda, manusia direndahkan jadi sekedar alat.

Machiavelli mengajarkan seni menguasai gravitasi politik, tapi lupa memperingatkan bahwa melampaui batas orbit moral akan membuat penguasa terlempar ke ruang hampa kekuasaan abadi: ‘dalam kesendirian’.

Sejarah membuktikan rezim-rezim yang melampaui ‘Karman Line moral’ ini seperti astronot tanpa pakaian antariksa, mereka hancur oleh tekanan kevakuman yang mereka ciptakan sendiri.

Juga seperti Ikarus yang terbang terlalu dekat matahari, sayap kekuasaan mereka leleh oleh panas keserakahan. Mitos Ikarus (Yunani Kuno) menceritakan kisah dimana Ikarus dan ayahnya, Daedalus (insinyur jenius), dipenjara di labirin Kreta. Daedalus membuat sayap dari bulu burung dan lilin untuk kabur.

Ia memperingatkan Ikarus: ‘Jangan terbang terlalu rendah (laut lembab melumerkan lilin), jangan terlalu tinggi (matahari melelehkan-nya)’.

Saat terbang, Ikarus terpesona oleh matahari, melambung tinggi, dan melanggar peringatan ayahnya. Lilin meleleh, sayap hancur, ia jatuh ke laut dan tewas.

Ikarus melampaui batas fisik dan kearifan ayahnya. Hukuman Kosmis menerpa dimana matahari (simbol dewa-dewa) menghukum kesombongan manusia Ikarus. Cerita ini juga memberi peringatan abadi bahwa teknologi (sayap) tak boleh mengabaikan hukum alam dan moral.

Ikarus adalah korban dari garis Karman Line-nya sendiri; titik dimana cahaya kekuasaan berubah jadi api kehancuran.
Karman Line adalah metafora finalitas. Di luar sana, tak ada udara untuk bernafas, tak ada jalan pulang.

Begitu pula ambisi kekuasaan yang melampaui batas kodrati yaitu saat kebohongan menjadi sistem, kekerasan jadi norma, dan empati dianggap kelemahan; titik tanpa putaran sudah terlampaui. Kehancuran bukan lagi ancaman, melainkan ‘keniscayaan fisika sosial’.

Baca juga: Titi Kala Mangsa


Ambisi Yang Menjadi Patologi


Ambisi yang tidak terkendali merupakan akar krisis peradaban modern. Awalnya ambisi bersifat netral dan merupakan dorongan alami manusia untuk berkembang, berinovasi, dan mencapai potensi tertinggi.

Lalu bisa berkembang menjadi ambisius (obsesif buta) yang patologis dimana ambisi menjadi ‘kanker’ ketika memutuskan-diri dari moral (batas baik-buruk), etika (tanggung jawab sosial), transendensi (kesadaran bahwa ada kuasa di luar manusia).


Ambisius dan obsesif buta kekuasaan dianalogikan sebagai patologi karena bisa menumbuhkan deifikasi diri (pendewaan diri), dimana manusia menempatkan diri sebagai "tuhan baru" yang berhak mengeksploitasi apa pun demi tujuan (konsep homo deus - Yuval Noah Harari).


Bisa pula menjadi patologi lingkungan, dimana mampu mengeksploitasi alam tanpa batas (polusi, kepunahan spesies) yang lahir dari ambisi buta akan pertumbuhan ekonomi.


Patologi kemanusiaan menempel pada kapitalisme ekstrem, perang teknologi, dan kesenjangan sosial, sebagai buah ambisi yang mengabaikan ‘human flourishing’.


Sungguh ambisius adalah sayap tanpa gravitasi moral, ia terbang tinggi, lalu jatuh dalam kehampaan. Obsesi buta menjadi ‘dosa besar’ karena terang-terangan memutuskan-diri dari Yang Maha Transenden.

Takut akan Tuhan yang dalam tradisi Yunani disebut ‘fear of the Divine’ menjadi hilang, tidak ada lagi rem ‘etik’ untuk kesombongan.


Dalam politik Machiavellinisme yaitu tujuan menghalalkan segala cara yang menjadi satu-satunya ‘ideologi kekuasaan’, ekonomi neo-liberal men-dalilkan profit-over-people (manusia jadi angka di laporan keuangan), dan teknologi AI tanpa batas etis berpotensi jadi ‘new existential risk’ (Nick Bostrom). Manusia kehilangan pijakan eksistensial kodratinya.


Berhenti Sebelum Karman Line


Bagi penguasa, politisi dan pejabat pemerintahan, perlu memahami dan menyadari Karman Line.


Beberapa catatan kontemplatif dibawah ini mungkin bisa dipergumulkan:

Baca juga: Seruan Ditengah Banjir Kebohongan


a. Kendalikan roket ambisi dengan rem kesadaran. Kuasa sejati bukan menaklukkan orang lain, tapi menguasai diri sendiri.


b. Gantikan the Prince Machiavelli dengan kitab kearifan timur. Orang bijak berkuasa seperti langit, memberi kehangatan tanpa membakar, mengatur tanpa menguasai.


c. Batas tertinggi peradaban bukanlah mengejar ketidakterbatasan, tetapi mengenali garis tak-terlihat tempat kemanusiaan harus berhenti dan merunduk.


d. Peradaban yang bertahan adalah yang paham bahwa ada wilayah di atas Karman Line yang hanya boleh disentuh dengan kerendahan hati, bukan ditaklukkan dengan kesombongan.

Sebab di seberang garis itu, bukan bintang-bintang yang menanti, melainkan kehampaan abadi.


e. Agama Islam memberi tuntunan hablun minallah hablun minannas (hubungan harmoni dengan Tuhan dan manusia).


f. Filsafat Timur-Barat: hidup selaras dengan alam-logos kosmik (Oikeiôsis)


g. Plato mengingatkan bahwa melampaui Karman Line kekuasaan sama saja dengan menjadi tirani yang terlempar dari 'dunia ide' ke jurang ketidaktahuan.


h. Konfusius menasihati: Sebelum menaklukkan langit, taklukkan dirimu sendiri. Gravitas moral lebih kuat dari gravitasi bintang.


i. Ambisius patologis adalah pemberontakan terhadap hukum kosmos: ia menghancurkan diri sendiri dengan topeng kemajuan. Peradaban yang bertahan adalah yang mengikat ambisi pada tali-tiga: moral, etika, dan kerendahan hati di hadapan Yang Maha Transenden.


j. Bumi masih biru bukan karena kita mampu menjarah langit, tapi karena kita cukup bijak menahan diri di batas Karman Line keIlahian.


Masihkah mau terus berkuasa dan nggak mau pensiun?
Selamat merenung dan berkontemplasi (roy/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru