Bunga yang Memahkotai Kekuasaan 

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy

Oleh: Nyi Deasy Arista Sari, Spiritualis - Sekretaris Yayasan Satria Merah Jambu

Surabaya,JatimUPdate.id -Pengambilan Bunga Wijayakusuma dari Nusakambangan bukan sekadar ritus lama keraton.

Ia adalah bahasa politik Jawa yang paling halus: kekuasaan tidak cukup diwariskan, diumumkan, atau diperebutkan; ia harus disahkan oleh kosmos, alam, leluhur, dan batin yang telah lulus dari ujian kesunyian.

Ada tradisi yang mudah disalahpahami oleh zaman modern. Ia kerap dilihat sebagai sisa feodalisme, eksotisme keraton, atau upacara yang indah tetapi tumpul dayanya.

Pengambilan Bunga Wijayakusuma dari Nusakambangan untuk melengkapi penobatan raja Jawa adalah salah satunya. Bagi mata yang terlampau administratif, ia hanyalah ritual.

Bagi nalar yang terlampau modernis, ia tinggal folklor. Bagi pasar wisata, ia bisa dipaketkan sebagai atraksi budaya.

Padahal, di dalam tradisi ini tersimpan satu pertanyaan tua yang tak pernah benar-benar mati: apa yang membuat seseorang layak menjadi raja?

Bukan sekadar raja dalam arti pemegang gelar. Bukan sekadar pewaris darah. Bukan pula sekadar penerima pusaka. Melainkan raja sebagai pusat keseimbangan: manusia yang diharapkan mampu menyambungkan rakyat, alam, leluhur, sejarah, dan yang gaib dalam satu tata hidup yang tak roboh oleh nafsu kekuasaan.

Di situlah Bunga Wijayakusuma memperoleh makna yang jauh lebih besar daripada wujud botanisnya. Dalam tradisi penobatan raja Jawa, bunga ini diyakini sebagai simbol legitimasi dan kelengkapan prosesi.

Tradisi metik Bunga Wijayakusuma di Pulau Majeti, Nusakambangan, terkait dengan rangkaian penobatan raja Keraton Surakarta.

Bunga itu dipercaya sebagai tanda legitimasi, dan prosesi semacam ini tidak dilakukan rutin, melainkan hanya pada momen sakral menjelang penobatan.

Kerabat Keraton Surakarta, KGPH Puger, pernah menjelaskan bahwa Bunga Wijayakusuma dalam tradisi ini "bersifat gaib", meskipun bentuknya menyerupai bunga

Wijayakusuma yang dikenal. Tata caranya, tutur beliau, telah dituliskan sejak masa raja-raja terdahulu, sempat terputus, lalu kembali dilakukan pada masa Mataram.

Di sini kita mulai menyelami kedalaman simboliknya. Yang diambil bukan sekadar bunga. Yang dicari adalah tanda. Yang ditempuh bukan sekadar perjalanan ke pulau karang. Yang dijalani adalah ritus menuju ambang: batas antara politik dan spiritualitas, antara manusia dan alam, antara mahkota dan mandat.

Nusakambangan sebagai Ruang Ambang

Nusakambangan hari ini dikenal luas sebagai pulau penjara. Namun, dalam imajinasi Jawa, ia menyimpan lapisan makna lain: pulau di selatan Jawa, dekat laut besar, terpisah dari daratan, dan dalam tradisi tertentu dikaitkan dengan tumbuhnya Bunga Wijayakusuma.

Sumber botani menyebut pohon Wijayakusuma Keraton dengan nama latin Pisonia grandis var. silvestris, masih satu keluarga dengan bougainville.

Di Cilacap, pohon ini konon hanya tumbuh di pulau karang di sebelah selatan Nusakambangan, bernama Pulau Majeti, yang kini menjadi Cagar Alam Wijayakusuma.

Dari sudut antropologi simbolik, lokasi seperti ini tidak pernah netral. Pulau, laut, karang, hutan, dan keterpisahan adalah perangkat makna.

Nusakambangan bukan alun-alun, bukan pendapa, bukan ruang kota. Ia adalah wilayah ambang liminal tempat manusia meninggalkan ruang sosial biasa untuk memasuki ruang yang lebih keras, sunyi, dan berbahaya.

Dalam teori antropologi ritus, terutama melalui gagasan liminalitas Victor Turner, setiap inisiasi besar menuntut pemisahan dari dunia lama.

Calon yang hendak naik derajat tak cukup diberi gelar; ia harus "keluar" dari ruang normal, memasuki wilayah ujian, dan kembali dengan tanda baru.

Pengambilan Wijayakusuma mengikuti pola itu. Keraton mengutus orang ke ruang yang bukan pusat kekuasaan, melainkan pinggir yang sakral.

Raja Jawa tidak disahkan hanya dari dalam istana; legitimasi justru dicari ke luar, ke batas, ke selatan, ke pulau yang menyimpan daya.

Ini penting secara filosofis. Kekuasaan yang hanya berputar di istana mudah membusuk menjadi klaim internal.

Ia harus diuji oleh luar. Harus disentuh oleh alam. Harus melewati pinggir. Nusakambangan, dengan demikian, menjadi antitesis dari keraton.

Keraton adalah pusat; Nusakambangan adalah ambang. Keraton adalah tata; Nusakambangan adalah keliaran yang disakralkan. Keraton adalah bahasa manusia; Nusakambangan adalah bahasa alam.

Dalam tradisi Jawa, raja yang sah bukan hanya diterima oleh keluarga, bangsawan, atau aparat adat. Ia harus seolah-olah diterima oleh tatanan yang lebih besar.

Itulah yang membuat ritual semacam ini bertahan dalam memori: ia memberi tahu bahwa kuasa tidak boleh merasa cukup dengan dirinya sendiri.

Wijayakusuma: Kemenangan yang Bukan Sekadar Menang

Nama "Wijayakusuma" sendiri telah memuat program simboliknya. "Wijaya" berarti kemenangan. "Kusuma" berarti bunga, keindahan, kemekaran, atau lambang keluhuran.

Namun, kemenangan yang dimaksud tak bisa disempitkan menjadi kemenangan politik. Jika begitu, ia akan terlalu rendah untuk dijadikan syarat penobatan.

Kemenangan yang dibawa Wijayakusuma adalah kemenangan yang lebih halus: kemenangan atas kekacauan, atas nafsu, atas ketidakselarasan, atas kuasa yang belum matang.

Bunga bukan pedang; ia tidak melukai, tetapi ia mengesahkan. Ia tidak berteriak, tetapi ia menandai bahwa sesuatu telah mekar.

Dalam pewayangan, Wijayakusuma sering dikaitkan dengan pusaka Kresna, raja Dwarawati.

Sebuah ulasan budaya menyebut bahwa dalam dunia pewayangan, Wijayakusuma berarti bunga kemenangan dan merupakan pusaka Kresna; sebelum mangkat ke Swargaloka, bunga itu dihanyutkan ke Laut Kidul dan konon berlabuh serta tumbuh di pulau batu karang di ujung timur Nusakambangan.

Kisah ini tak perlu dibaca sebagai sejarah faktual. Lebih tepat ia dibaca sebagai mitologi politik.

Kresna adalah figur raja-bijak, diplomat ulung, pengendali strategi, dan penjaga dharma.

Jika bunga kemenangan diasosiasikan dengannya, bunga itu tidak sekadar lambang sukses, melainkan lambang kemenangan yang disertai kebijaksanaan.

Di titik ini, ritual mengambil Wijayakusuma menyimpan kritik yang sangat tajam kepada semua kuasa: tidak semua yang menang layak memerintah.

Ada kemenangan yang lahir dari tipu daya, kekerasan, intrik, dan ambisi. Wijayakusuma adalah kemenangan yang telah melewati bunga melewati keindahan, kelembutan, dan legitimasi batin. Ia bukan hanya "menang", melainkan "pantas menang". Dalam bahasa Jawa: bukan sekadar bener, tetapi pener.

Raja Jawa dan Kosmologi Kekuasaan

Dalam tradisi politik Jawa, raja bukan hanya administrator. Ia adalah poros, titik tempat jagad cilik dan jagad gedhe berhubungan.

Ia bukan sekadar kepala pemerintahan, melainkan figur kosmologis yang diharapkan menjaga keseimbangan antara manusia, alam, leluhur, dan Yang Gaib.

Konsep ini sering membuat orang modern tidak nyaman karena terdengar feodal. Namun, jika dibaca secara simbolik, ada pelajaran yang tetap relevan: kekuasaan bukan hanya soal kapasitas mengatur, tetapi juga kemampuan menjaga harmoni.

Pemerintah modern bisa punya birokrasi, anggaran, survei, dan instrumen hukum, tetapi tetap gagal bila kehilangan legitimasi moral. Keraton Jawa mengekspresikan problem itu lewat ritus.

Negara modern mengekspresikannya lewat konstitusi, pemilu, dan hukum. Intinya sama: kekuasaan harus lebih besar daripada klaim diri.

Bunga Wijayakusuma menjadi tanda bahwa raja bukan hanya "ditetapkan", melainkan "diakui" oleh tatanan yang lebih luas.

Dalam dunia modern, kita menyebutnya legitimasi etis. Dalam dunia Jawa, legitimasi itu harus beresonansi dengan kosmos.

Maka, penobatan raja tak cukup dilakukan di dalam pagar istana. Ia membutuhkan perjalanan ke ruang yang menyimpan daya tua.

Inilah yang membedakan ritual dari protokol. Protokol memastikan acara berjalan. Ritual memastikan makna bergerak.

Tarot: Perjalanan Calon Raja sebagai Major Arcana

Jika dibaca melalui ilmu Tarot, ritual pengambilan Bunga Wijayakusuma dapat dipahami sebagai perjalanan arketipal.

Dalam pembacaan simbolik, 22 kartu Major Arcana sering dilihat sebagai perjalanan besar jiwa: dari The Fool menuju The World. Ritual Wijayakusuma dapat dipetakan dalam struktur ini.

Calon raja mula-mula berada dalam energi The Fool: bukan dalam arti bodoh, tetapi sebagai seseorang yang memasuki fase baru.

Ia belum selesai. Ia berdiri di tepi jurang simbolik. Gelar belum cukup. Darah belum cukup. Ia harus berjalan.

Perjalanan menuju Nusakambangan memanggil energi The Hermit. Ini bukan perjalanan ramai, melainkan perjalanan ke sunyi, ke ruang yang tak sepenuhnya dikuasai istana.

The Hermit membawa lentera kecil, mencari cahaya yang hanya muncul dalam kesendirian, bukan tepuk tangan.

Lalu ada Death. Setiap penobatan sejati menuntut kematian diri yang lama. Seorang raja tak boleh tetap menjadi pribadi biasa yang dikuasai hasrat pribadi.

Ia harus mati sebagai "aku" yang sempit agar lahir sebagai poros tanggung jawab. Dalam ritual Jawa, unsur ini hadir dalam wujud perjalanan, puasa, tirakat, dan pencarian tanda dari alam.

Bunga itu sendiri memanggil The Star, tanda harapan, restu, dan cahaya setelah kegelapan. Ia tidak datang dari pusat kota, melainkan dari wilayah pinggir yang sakral. Bunga adalah bintang yang tumbuh dari bumi.

Akhirnya, jika ritus selesai, raja memasuki energi The World: integrasi. Ia bukan lagi individu terpisah, melainkan simpul dari banyak lapisan: keluarga, keraton, rakyat, alam, leluhur, sejarah, dan Yang Gaib.

Dari Minor Arcana, Wijayakusuma paling dekat dengan Ace of Cups dan Ace of Pentacles. Ace of Cups adalah anugerah spiritual, air rahmat, pembukaan batin. Ace of Pentacles adalah legitimasi yang turun ke bumi: tanda bahwa berkah harus diwujudkan dalam tata sosial, ekonomi, dan perlindungan rakyat.

Raja tidak cukup mendapat bunga; ia harus menjadikan bunga itu kebijakan batin. Jika tidak, simbol hanya menjadi dekorasi.

Hermetisme: Yang di Atas dan Yang di Bawah

Tradisi hermetisme mengenal prinsip terkenal: as above, so below—yang di atas tercermin di bawah, yang di dalam tercermin di luar. Dalam bahasa Jawa, prinsip ini dekat dengan relasi jagad gedhe dan jagad cilik. Makrokosmos dan mikrokosmos saling memantul.

Ritual Wijayakusuma sangat hermetik. Raja yang hendak memerintah dunia luar harus terlebih dahulu memperoleh keselarasan batin.

Keraton sebagai pusat politik harus berhubungan dengan Nusakambangan sebagai pusat liminal. Bunga sebagai benda kecil mewakili tatanan besar. Satu kelopak dapat menjadi tanda semesta.

Dalam logika modern, ini mungkin tampak tidak rasional. Tetapi, simbol tidak bekerja seperti statistik.

Simbol bekerja dengan cara memadatkan kosmos ke dalam bentuk kecil. Bendera hanyalah kain, tetapi negara bisa berdiri untuknya.

Mahkota hanyalah benda, tetapi ia memuat sejarah. Bunga Wijayakusuma hanyalah bunga, tetapi dalam konteks ritus ia menjadi tanda bahwa kuasa manusia harus bercermin kepada tatanan yang lebih tinggi.

Hermetisme mengajarkan bahwa krisis luar sering mencerminkan ketidakseimbangan dalam. Jika raja tidak seimbang, negara ikut goyah.

Jika pusat batin rusak, pusat politik kehilangan arah. Dalam bahasa kontemporer: pemimpin yang tak selesai dengan egonya akan menjadikan negara sebagai panggung penyembuhan dirinya sendiri.

Ritual lama seperti Wijayakusuma berfungsi mencegahnya: sebelum memimpin, lihatlah apakah engkau telah disahkan oleh sesuatu yang lebih besar daripada ambisimu.

Neoplatonisme: Dari Yang Esa Menuju Mahkota

Dalam neoplatonisme, seluruh realitas dipahami sebagai emanasi dari Yang Esa. Segala sesuatu berasal dari sumber tunggal, lalu turun ke banyak bentuk.

Jalan spiritual adalah perjalanan kembali: dari keragaman, ambisi, dan bentuk-bentuk dunia menuju kesatuan.

Ritual Wijayakusuma dapat dibaca sebagai perjalanan kembali ke sumber legitimasi. Mahkota, gelar, dan istana adalah bentuk luar.

Semua itu bisa kosong bila tak terhubung dengan sumbernya. Bunga yang diambil dari tempat jauh menjadi tanda bahwa raja tidak cukup menerima kuasa dari manusia; ia harus mengembalikan kuasa itu kepada asal yang lebih tinggi.

Dalam pembacaan neoplatonik, raja ideal adalah manusia yang tidak tenggelam dalam multiplicity: intrik, pujian, konflik, harta, gengsi, darah, dan klaim.

Ia harus menjaga ingatan pada Yang Esa pada sumber kebenaran yang tak bisa dibeli oleh istana. Wijayakusuma menjadi simbol pulang. Bunga itu diambil dari pinggir agar pusat ingat bahwa pusat tidak menciptakan dirinya sendiri.

Ini menjadi sangat relevan untuk membaca kekuasaan modern. Banyak pemimpin hari ini jatuh bukan karena tak punya legitimasi formal, melainkan karena kehilangan orientasi pada sumber etik.

Mereka sah secara prosedural, tetapi kosong secara batin. Mereka menang secara elektoral, tetapi gagal memancarkan kamulyan. Dalam bahasa Jawa, mereka mungkin bener secara hukum, tetapi belum tentu pener secara laku.

Psikologi Analitik: Arketipe Raja dan Bayangan Nusakambangan

Carl Gustav Jung melihat mitos dan ritual sebagai ekspresi arketipe dalam ketidaksadaran kolektif. Dari kacamata Jungian, ritual Wijayakusuma mengaktifkan arketipe King, Great Mother, Hermit, Shadow, dan Self.

Arketipe King bukan sekadar laki-laki berkuasa, melainkan prinsip keteraturan. Dalam diri manusia, King adalah pusat yang mampu menata dorongan-dorongan liar.

Namun, arketipe ini punya bayangan: tiran, penguasa narsistik, pemilik kuasa yang tak matang. Karena itu, seorang raja harus melalui ritus yang menghadapkannya pada bayangan.

Nusakambangan adalah ruang bayangan itu. Ia jauh, keras, terpisah, dekat laut selatan, dan dalam imajinasi modern menjadi pulau penjara.

Secara psikologis, perjalanan ke sana adalah perjalanan ke bagian gelap kolektif: ketakutan, maut, keterasingan, dan alam yang tak bisa dikuasai.

Raja yang tak pernah turun ke bayangan akan mudah menjadi penguasa yang hanya hidup dari pujian pusat.

Bunga Wijayakusuma kemudian menjadi simbol Selfpusat integrasi. Self bukan ego. Ego berkata "aku berkuasa". Self berkata "aku bagian dari tatanan yang lebih besar".

Jika ritual berhasil, raja tidak makin besar egonya, melainkan makin luas kesadarannya.

Di sinilah sering terjadi kegagalan kekuasaan: orang mengira penobatan membesarkan diri.

Padahal secara spiritual, penobatan seharusnya mengecilkan ego. Mahkota bukan pembenaran untuk merasa lebih tinggi; mahkota adalah beban untuk menjadi lebih tertata.

Divinasi: Ritual sebagai Sistem Tanda

Tarot sebagai alat divinasi tak seharusnya dipahami dangkal sebagai mesin ramalan.

Ia adalah sistem semiotik kompleks: gambar, angka, unsur, arah, arketipe, dan narasi yang membantu manusia membaca keadaan batin serta struktur etis hidupnya.

Dalam pengertian yang lebih luas, ritual Wijayakusuma juga bekerja seperti alat divinasi budaya.

Ia membaca tanda alam. Ia menilai kesiapan batin. Ia menafsirkan hubungan antara keraton dan kosmos.

Ia menguji apakah proses penobatan telah lengkap secara simbolik.

Bunga menjadi "kartu" yang ditarik dari alam. Nusakambangan menjadi dek besar semesta. Keraton menjadi penanya. Raja menjadi subjek yang dibaca.

Dalam kerangka ini, tradisi Jawa tidak kalah kompleks dari sistem Tarot Barat. Jika Tarot memakai Major Arcana, Jawa memakai ruang sakral: keraton, laut selatan, gunung, makam, pusaka, bunga, gamelan, dan hari pasaran.

Keduanya adalah bahasa semiotik. Keduanya membaca relasi manusia dengan kosmos. Keduanya bisa jatuh menjadi takhayul bila dibaca dangkal, tetapi bisa menjadi jalan refleksi bila dibaca dengan adab.

Perbedaannya, Tarot lebih individual, sedangkan ritual Wijayakusuma bersifat kolektif-politik. Tarot membaca nasib jiwa. Wijayakusuma membaca nasib kekuasaan.

Kejawen: Raja, Suwung, dan Eling

Dalam spiritual Kejawen, kekuasaan sejati harus terkait dengan eling lan waspada. Eling berarti ingat: ingat asal, ingat tujuan, ingat batas diri.

Waspada berarti tidak lengah terhadap nafsu, tipu daya, dan bayangan.

Raja yang tidak eling akan mengira dirinya pusat. Raja yang tidak waspada akan dikuasai oleh pujian, intrik, dan ambisi.

Dalam horizon Kapitayan, yang tertinggi kerap dipahami sebagai Sang Hyang Taya: suwung, tak terbayangkan, tan kena kinaya ngapa.

Bila pusat tertinggi justru tidak dapat dipadatkan dalam bentuk, maka seluruh simbol kerajaan harus diperlakukan hati-hati.

Bunga, mahkota, pusaka, gelar emuanya hanyalah tanda. Tanda bisa menuntun, tetapi juga bisa menipu.

Ia menuntun bila membuat manusia makin rendah hati. Ia menipu bila membuat manusia merasa dirinya pemilik yang sakral.

Di sinilah ritual Wijayakusuma menjadi sangat halus. Ia menampilkan benda, tetapi tujuannya bukan menyembah benda.

Ia menghadirkan bunga, tetapi maknanya melampaui bunga. Ia memuliakan raja, tetapi seharusnya sekaligus mengingatkan raja bahwa legitimasi tertinggi tak pernah sepenuhnya berada di tangannya.

Dalam bahasa Kejawen, raja harus mampu menjadi wadah bukan penguasa yang menelan semua, tetapi wadah yang menata.

Bunga Wijayakusuma mengingatkan bahwa kekuasaan adalah wadah bagi kehidupan. Bila wadah itu bocor oleh angkara, rakyat yang tumpah.

Ideologi Kekuasaan: Dari Feodalisme Menuju Etika Publik

Di sinilah artikel ini perlu menjadi tajam. Apakah ritual Wijayakusuma harus diterima mentah-mentah sebagai legitimasi politik hari ini? Tentu tidak.

Indonesia modern bukan kerajaan absolut. Kedaulatan politik berada pada rakyat dan konstitusi, bukan pada bunga sakral.

Namun, membuang seluruh makna ritual sebagai feodalisme juga sama dangkalnya.

Yang perlu diambil dari tradisi ini bukan klaim politiknya, melainkan etikanya.

Ia mengajarkan bahwa kekuasaan perlu legitimasi yang lebih dalam daripada sekadar prosedur.

Dalam demokrasi, legitimasi formal datang dari pemilu, hukum, dan institusi.

Namun, legitimasi moral datang dari integritas, pengendalian diri, keberpihakan kepada rakyat, dan kemampuan menjaga keseimbangan sosial.

Bunga Wijayakusuma, bila diterjemahkan ke bahasa modern, adalah simbol bahwa seorang pemimpin harus memiliki mandat moral.

Di sinilah tradisi keraton bisa menjadi cermin bagi republik. Banyak pemimpin modern menang pemilu, tetapi tidak "memetik Wijayakusuma" dalam dirinya.

Mereka punya suara, tetapi tidak punya kedalaman. Mereka punya jabatan, tetapi tidak punya kamulyan. Mereka punya legitimasi angka, tetapi miskin legitimasi batin.

Maka, ritual lama ini tidak perlu dijadikan dasar politik praktis. Namun, ia sangat berguna sebagai kritik kebudayaan terhadap politik modern yang terlalu administratif dan miskin spiritualitas publik.

Penutup: Bunga yang Harus Dipetik dari Dalam

Pada akhirnya, pengambilan Bunga Wijayakusuma dari Nusakambangan adalah drama simbolik tentang perjalanan kekuasaan menuju legitimasi yang lebih tinggi.

Ia mengajarkan bahwa raja tidak cukup lahir dari darah, istana, atau keputusan keluarga.

Ia harus melewati ambang, menghadapi bayangan, dan membawa pulang tanda bahwa dirinya bukan sekadar penguasa, melainkan penjaga keseimbangan.

Dalam Tarot, itu adalah perjalanan dari The Fool ke The World. Dalam hermetisme, itu adalah cermin antara atas dan bawah.

Dalam neoplatonisme, itu adalah gerak pulang dari bentuk menuju sumber.

Dalam psikologi Jung, itu adalah integrasi arketipe King dengan Self. Dalam Kejawen, itu adalah laku eling, waspada, dan manunggal dengan tatanan yang lebih halus.

Bunga Wijayakusuma memang tumbuh di Nusakambangan.

Tetapi secara spiritual, bunga itu juga harus tumbuh di dalam batin pemimpin. Tanpa itu, mahkota hanya benda. Gelar hanya suara.

Penobatan hanya acara. Dan kekuasaan hanya panggung bagi ego yang belum selesai.

Tradisi Jawa, dengan segala kompleksitasnya, sedang berkata kepada kita: yang layak memimpin bukanlah orang yang paling kuat menggenggam kuasa, melainkan orang yang telah cukup lebur untuk tidak dikuasai oleh kuasanya sendiri.