Komedi Bukan Ancaman, Melainkan Ujian Kedewasaan Publik

Reporter : -
Komedi Bukan Ancaman, Melainkan Ujian Kedewasaan Publik
Viktor Imaduddin Ketum HMI Cabang Malang, Komisariat Perikanan Universitas Brawijaya Periode 2025-2026.

 

Oleh: Viktor Imaduddin

Baca Juga: Survei, Kekuasaan, dan Ilusi Legitimasi Formal

Ketum HMI Cabang (P) Kota Malang, Komisariat Perikanan Universitas Brawijaya Periode 2025-2026.

 

 

Malang, JatimUPdate.id - Komedi menjadi ujian kedewasaan publik, bukan ancaman surat untuk masa depan Indonesia, stand up komedi karya Pandji Pragiwaksono, tidak hanya lucu.

Ini menunjukkan bagaimana masyarakat kita menanggapi kritik, mereka cenderung cepat bereaksi, mudah terpengaruh oleh perasaan mereka, dan sering kali lebih berkonsentrasi pada pendapat daripada memahami pesan yang disampaikan.

Konsep ini sangat penting untuk memahami cara masyarakat menangani perubahan dan kesulitan. Seperti yang dicontohkan oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, kritik menunjukkan bahwa kita harus belajar matang dalam menyampaikan kritik dan terima kasih. Mereka sering memberikan kritik yang tajam pada pemerintah, tetapi dengan cara yang menghibur.

“Kalau orang tidak boleh mengkritik, itu namanya bukan negara, tapi perusahaan,” kata Gus Dur.

Gus Dur tidak menganggap kritik sebagai ancaman, melainkan energi korektif agar negara tidak menyimpang dari tujuan. Humor jadi sarana agar kritik tidak memicu konflik yang merusak.

Pandji melalui "Surat untuk Masa Depan Indonesia" menjalani tradisi yang sama. Judulnya yang bernuansa "surat" menunjukkan bahwa ini bukan alat menyerang, melainkan sarana menyampaikan kegelisahan terhadap sesuatu yang dicintai dan diharapkan masih bisa berubah.

Pandji tidak mengklaim dirinya benar dan tidak menawarkan solusi instan, melainkan menyerahkan ruang untuk interprestasi kepada publik.

Menurut filsuf politik Hannah Arendt, ruang publik sehat akan tercipta ketika warga negara berani menyampaikan pendapat tanpa takut dikaitkan sebagai musuh negara.

Sayangnya kritik seperti ini seringkali dibaca secara keliru. Pertanyaan dianggap sebagai pembangkangan, kegelisahan dianggap sebagai kebencian.

Padahal seperti yang menekankan Gus Dur, "Cinta kepada bangsa tidak berarti membenarkan semua kesalahannya."

Baca Juga: Demokrasi Elektoral: Antara Koreksi Struktural dan Langkah Mundur Kedaulatan

Sejalan dengan itu, ilmuwan politik Larry Diamond menegaskan bahwa demokrasi hanya akan bertahan jika kritik dianggap sebagai mekanisme perbaikan, bukan ancaman terhadap stabilitas.

Kritik yang dibungkam justru membawa masalah tumbuh tanpa pengawasan. Yang lebih mengkhawatirkan dalam kasus ini bukanlah isi materi Pandji, melainkan reaksi para individu.

Banyak yang belum menonton lengkap, namun sudah terburu-buru memformulasikan opini. Ada yang membela tanpa memahami substansi, ada pula yang mengecam hanya karena mengikuti trend media sosial.

Pola ini menunjukkan bahwa masyarakat sekarang lebih terbiasa bersikap reaktif ketimbang reflektif. Gus Dur pernah menyela, "Masalah terbesar bangsa ini adalah terlalu banyak orang yang malas berpikir."

Dalam kajian sosiologi, Jurgen Habermas menyebut kondisi ini sebagai melemahnya rasionalitas publik, ketika opini dibentuk oleh emosi dan popularitas, bukan oleh argumen.

Pandji seharusnya menjadi pengingat agar kita tidak berubah menjadi masyarakat yang hanya mengikuti arus. Mengikuti arus berarti menyerahkan akal sehat pada mayoritas, bukan menggunakan nalar sendiri.

Padahal menurut John Stuart Mill, kemajuan masyarakat justru lahir dari keberanian individu untuk berbeda dan berpikir kritis, meskipun tidak selalu nyaman. Individu yang hanya mengikuti arus akan mudah digerakkan, tetapi sulit diajak berubah.

Baca Juga: Akhmad Munir : Dilema Industri Pers Saat Ini Seperti Kiasan Di Benci Tapi Dirindukan

Konsep ini penting dalam memahami bagaimana perubahan memengaruhi aktivitas ekonomi. Sebagaimana diungkapkan Gus Dur, demokrasi bukanlah soal tidak ada konflik, melainkan bagaimana kita menyikapi perbedaan.

Ahli demokrasi sepakat bahwa konflik pendapat adalah hal yang wajar, yang membedakan negara dewasa dan rapuh adalah cara konflik itu dikelola melalui dialog atau pembungkaman.

Jika Gus Dur hidup hari ini, mungkin beliau akan tertawa melihat kegaduhan seputar "Surat untuk Masa Depan Indonesia".

Namun setelah tertawa, beliau kemungkinan besar akan mengingatkan kita untuk tidak malas berpikir, tidak mudah terseret arus, dan tidak alergi terhadap kritik. Pandji telah menjalankan perannya sebagai seniman dan warga negara.

Kini giliran kita sebagai individu untuk menjalankan peran yang tak kalah penting, menjadi publik yang kritis, dewasa, dan berpikir mandiri. Karena masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh siapa yang paling keras bersuara, melainkan oleh mereka yang berani berpikir jernih, mendengar dengan kepala dingin, dan membangun bangsa dengan nalar, bukan sekadar emosi.

Ironisnya, kita hidup di era yang menyediakan akses informasi tanpa batas, tetapi justru semakin jarang bersedia berpikir secara utuh. Kita cepat menilai, tetapi lambat merenung.

Padahal, seperti komedi yang membutuhkan jeda sebelum tawa, kritik pun membutuhkan ruang sebelum reaksi. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi penonton yang berisik, bukan publik yang dewasa. (red)

Editor : Redaksi