HMI dan Ruh Perjuangan dari Akar Rumput

Reporter : Ponirin Mika
Ponirin Mika

 

Oleh: Ponirin Mika
Anggota Dewan Pakar Pengurus KAHMI Kabupaten Probolinggo, Jurnalis JatimUPdate.id

Baca juga: Runtuhnya Benteng Moral HMI : 79 Tahun Mengasah Diri dan Menjaga Arah

Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id : Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar organisasi mahasiswa biasa. Ia lahir dalam situasi penuh keprihatinan terhadap kondisi umat Islam dan bangsa Indonesia pasca-kemerdekaan.

Dalam konteks sejarahnya, HMI tampil sebagai wujud kegelisahan anak bangsa yang mendambakan kemerdekaan sejati—bukan hanya secara politik, tetapi juga secara kultural, spiritual, dan intelektual.

Kelahiran HMI pada 5 Februari 1947 bukan hanya tanggapan terhadap tantangan zaman, tetapi juga menjadi jawaban dari keresahan mahasiswa Islam terhadap arah perjuangan umat dan bangsa.

Saat itu, Indonesia masih dalam masa-masa transisi dari penjajahan menuju kedaulatan yang utuh. Dalam situasi seperti itulah, HMI hadir mengusung semangat keislaman dan keindonesiaan yang tak terpisahkan.

Dua spirit utama yang menjadi nafas HMI—yakni keislaman dan keindonesiaan—bukan hanya jargon kosong. Keduanya membentuk landasan ideologis dan praksis kaderisasi HMI yang membumi, merakyat, dan menyatu dengan denyut nadi kehidupan masyarakat.

Kaderisasi di HMI bukanlah proses yang instan. Ia tumbuh dari proses panjang, menyerap nilai-nilai perjuangan, dan membentuk karakter kader dari bawah. Kaderisasi di HMI tidak serta-merta menempatkan seseorang di posisi strategis tanpa pemahaman yang utuh akan nilai perjuangan. HMI membangun manusia seutuhnya, bukan hanya pejuang kursi.

Dalam konteks ini, akar rumput menjadi fondasi utama. HMI tidak mengenal lompatan karier berbasis pencitraan, melainkan mendidik kadernya untuk memahami realitas sosial secara langsung. Kader HMI harus merasakan denyut rakyat, kesulitan umat, dan getirnya perjuangan di bawah sebelum berbicara tentang kebijakan di atas.

Inilah mengapa pengkaderan di HMI disebut sebagai ruh organisasi. Tanpa kaderisasi yang berjenjang, terstruktur, dan bernilai, HMI akan kehilangan arah. Ruh perjuangan HMI terletak pada proses internalisasi nilai yang dilakukan secara berkesinambungan, bukan melalui jalan pintas.

Nilai Dasar Perjuangan (NDP) menjadi pilar ideologis yang mengikat seluruh aktivitas kaderisasi di HMI. NDP bukan sekadar materi pelatihan, tetapi panduan hidup dan pedoman bertindak bagi setiap kader. Di dalamnya terkandung spirit keberpihakan pada kaum lemah dan keharusan untuk menapaki tangga perjuangan dari bawah.

Dengan NDP, HMI mengajarkan bahwa perubahan sejati lahir dari bawah. Bahwa keberpihakan kepada rakyat bukan hanya teori, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Bahwa seorang kader HMI harus berpijak di bumi, menyelami derita rakyat, dan menyatu dengan kehidupan umat.

HMI tidak pernah mengajarkan kadernya untuk menjadi elitis. Ia mendidik kader agar menjadi pelayan umat, bukan penguasa yang menjauh dari rakyat. Nilai-nilai inilah yang menjadikan HMI berbeda dari organisasi-organisasi lain yang hanya mengejar kekuasaan tanpa pijakan moral.

Baca juga: HMI dan GMNI: Survival dalam Gerak Zaman, Melawan “Serakahnomics” sebagai Musuh Baru Republik 

Sebagai organisasi kader, HMI memberikan ruang kepada setiap anggotanya untuk berkembang sesuai dengan kapasitas dan pengabdiannya. Proses kaderisasi bukan untuk mencetak elite yang jauh dari rakyat, melainkan untuk menyiapkan pemimpin masa depan yang lahir dari rahim perjuangan.

Maka tidak heran jika banyak alumni HMI yang tampil sebagai pemimpin bangsa, karena mereka telah terbiasa berjuang di tengah keterbatasan dan mengabdi dalam diam. Mereka telah ditempa oleh nilai, bukan oleh ambisi kekuasaan.

Namun demikian, tantangan zaman terus berubah. Di era digital dan globalisasi ini, HMI menghadapi tantangan besar: bagaimana tetap menjaga nilai-nilai dasar sambil beradaptasi dengan zaman. Di sinilah pentingnya pembaruan strategi kaderisasi tanpa mengorbankan ruh perjuangan.

Kita tidak boleh membiarkan HMI kehilangan wataknya yang membumi. Kader HMI harus tetap menjadi penjaga moral, pemikir strategis, dan pejuang umat. Mereka harus mampu mengintegrasikan nilai Islam dengan kebutuhan bangsa yang terus berkembang.

HMI juga tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu. Kejayaan masa lampau adalah bekal, bukan tujuan. Tugas generasi sekarang adalah menjadikan nilai-nilai dasar HMI sebagai energi penggerak untuk menjawab tantangan masa kini dan masa depan.

Ruh kaderisasi harus terus diperkuat. Pengaderan tidak boleh menjadi sekadar formalitas. Proses pembinaan kader harus menyentuh aspek intelektual, spiritual, emosional, dan sosial secara menyeluruh. Di sinilah perlunya komitmen kolektif seluruh elemen HMI untuk terus menjaga marwah organisasi.

Kita perlu menyadari bahwa regenerasi yang tangguh tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari perjuangan. Kaderisasi yang berkualitas hanya lahir dari proses yang serius, penuh pengorbanan, dan disertai keikhlasan.

Baca juga: Dies Natalis ke-79, HMI Bondowoso Tegaskan Komitmen Perkuat Nilai Perjuangan dan Perkaderan

HMI harus menjadi tempat di mana mahasiswa menemukan jati diri, menyusun rencana hidup, dan memperkuat komitmen perjuangannya. Bukan tempat untuk mencari status sosial, melainkan ruang untuk melatih jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab sosial.

Organisasi ini adalah kawah candradimuka, tempat pembentukan manusia paripurna. Ia mengasah kecerdasan, membangun integritas, dan menumbuhkan kepekaan sosial. HMI tidak boleh kehilangan orientasi ini hanya karena tergoda arus pragmatisme.

HMI tidak pernah kekurangan kader potensial. Yang dibutuhkan adalah sistem kaderisasi yang konsisten, pembinaan yang intensif, serta pemimpin yang mampu menjadi teladan. Jangan biarkan kaderisasi mandek karena ego sektoral atau konflik internal.

HMI harus tetap berpijak pada nilai, berpihak kepada rakyat, dan bergerak untuk perubahan. Jika tidak, maka ia akan kehilangan relevansi dalam dinamika kebangsaan. Inilah momen untuk kembali meneguhkan nilai dasar perjuangan sebagai pondasi gerakan.

Sebagai kader, kita punya tanggung jawab untuk menjaga api perjuangan itu tetap menyala. Menjaga agar HMI tetap menjadi rumah bagi perjuangan Islam dan keindonesiaan. Menjaga agar HMI tetap menjadi tenda besar yang merangkul semua anak bangsa tanpa diskriminasi.

Akhirnya, HMI adalah medan tempur nilai. Ia bukan tempat nyaman, tapi tempat belajar, bertumbuh, dan mengabdi. Kita tidak diwarisi organisasi ini untuk sekadar diwarisi, tetapi untuk diperjuangkan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya dalam kondisi yang lebih baik. (pm/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru