Gelar Rembuk Stunting, Kades Pandanrejo Sebut Stunting Ancaman Bagi Generasi Desa

Reporter : Deki Umamun Rois
Suasana Rembug Stunting di Desa Pandanrejo Kecamatan Wagir Kabupaten Malang. (Foto TPP Wagir For JatimUPdate.id)

 

Wagir, Malang, JatimUPdate.id — Dalam upaya mendukung program konvergensi pencegahan stunting, Desa Pandanrejo menggelar Rembuk Stunting yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan desa, Rabu (23/7/2026).

Baca juga: H. Junaedi, Kepala Desa Ponggok Dilantik Sebagai Ketua DPP APDESI

Acara yang berlangsung di balai desa ini menjadi tonggak penting dalam menyusun rencana strategis untuk mengatasi masalah stunting yang menjadi ancaman serius bagi kualitas generasi masa depan.

Rembuk Stunting menghadirkan kelompok perempuan, tokoh masyarakat, perwakilan kecamatan, Babinsa, serta ahli gizi dari Puskesmas Kecamatan Wagir, serta Tim Pendamping Desa Kecamatan Wagir.

Fasilitator pendamping desa mengelola diskusi melalui Focus Group Discussion (FGD), sosialisasi, dan pemaparan data kondisi stunting yang bersumber dari Score Card desa.

Kepala Desa Pandanrejo, Muhammad Yusuf, menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai upaya menyusun rencana aksi terukur.

“Stunting adalah ancaman langsung terhadap kualitas generasi desa dan bangsa secara umum. Hasil rembuk ini akan menjadi dasar penyusunan rencana pembangunan desa dengan rekomendasi pencegahan stunting yang konkret,” ujar Kades Pandanrejo, Moh. Yusuf.

Plt. Camat Wagir, Nurul Huda, menyatakan bahwa konvergensi stunting merupakan bentuk lomba dalam kebaikan (fastabiqul khoirot) untuk menciptakan generasi desa yang sehat dan unggul.

“Keluarga adalah madrasah utama bagi anak-anak. Kualitas gizi keluarga, terutama pada anak-anak, harus diperhatikan agar risiko stunting dapat diminimalisir. Rembuk ini diharapkan menghasilkan gambaran intervensi desa untuk menghasilkan keluarga berkualitas,” kata Nurul Huda.

Kasipem Kecamatan Wagir, Raden Deny Darmawan, menyampaikan harapannya agar Kecamatan Wagir dapat mencapai zero stunting pada tahun 2026. “Beberapa desa sudah mulai menggelar rembuk stunting sebagai bagian dari upaya strategis pencegahan. Ini merupakan masalah bersama yang tidak bisa diatasi hanya dengan pendekatan top down,” ujarnya.

Pendamping Desa Kecamatan Wagir, Agus Supaat, menegaskan bahwa keterlibatan aktif masyarakat sangat menentukan keberhasilan program ini.

“Stunting adalah masalah bersama yang harus ditangani secara menyeluruh. Semua pihak harus dilibatkan, agar upaya pencegahan berjalan efektif,” ucap Agus mewakili tim pendamping desa.

Baca juga: Naikkan Kualitas Pembelajaran Matematika, Mahasiswa UNITRI Kenalkan Kincir Perkalian Papan Pecaha

Rembuk Stunting merupakan forum diskusi di tingkat desa atau kelurahan yang bertujuan membahas dan menyusun rencana aksi penanganan dan pencegahan stunting.

Forum ini menjadi wadah untuk menetapkan komitmen bersama, merumuskan prioritas penggunaan anggaran, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan stunting. Kegiatan ini melibatkan pemerintah desa, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum.

Rembuk Stunting di Desa Pandanrejo menggambarkan langkah nyata dan kolaboratif dalam menghadapi tantangan stunting. Melibatkan seluruh elemen masyarakat dan pemerintah, strategi ini menjadi fondasi penting untuk membangun generasi yang sehat dan berkualitas.

Kemendes PDT Menjadikan Program Prioritas Utama

Sementara itu Penasehat Menteri Desa PDT, Prof Zainuddin Maliki menyebutkan bahwa Survey Kesehatan Indonesia (SKI) 2024 menunjukkan angka 19,8% dan dengan pelibatan semua stakeholder khususnya yang ada di level desa, pemerintah dalam hal ini Kemendesa PDT menargetkan adanya penurunan angka itu pada tahun 2025 turun menjadi 18,8%.

"Angka itu terus diupayakan untuk diturunkan untuk menghindari risiko terhadap masa depan kualitas SDM Indonesia," ungkap penasihat Menteri Desa dan PDT, Prof. Zainuddin Maliki, di Kabupaten Garut, Selasa (22/07/2025) sebagaiman dikutip oleh JatimUPdate.id pada Rabu pagi (23/07/2025).

Baca juga: Wabup Malang Apresiasi Peran Strategis GP Ansor

Berbicara di depan 240 peserta Bimbingan Teknis Kader Pembangunan Manusia dengan Modul Khusus Kader Pembangunan Manusia (KPM), anggota DPR RI 2019-2024 itu menegaskan bahwa stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak yang kurang, tetapi mencerminkan kekurangan gizi kronis yang berdampak luas terhadap kecerdasan, produktivitas, dan kualitas hidup generasi masa depan bangsa.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya itu menegaskan bahwa Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto menjadikan percepatan penurunan stunting sebagai program prioritas utama dalam pembangunan nasional yang ditangani secara sistematis dan menyeluruh.

Lebih jauh Menteri Desa dan PDT mendorong agar Desa mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki.

"Semua potensi yang ada di desa seperti sumberdaya manusia, kelembagaan, modal sosial, serta berbagai sumberdaya anggaran termasuk di dalamnya Dana Desa, termasuk jejaring yang ada di seperti pegiat dan pemberdaya desa, KPM [Kader Pembangunan Masyarakat] serta tenaga pendamping desa," ungkap penerima MKD Awards bagi pejuang etika DPR RI 2022 itu. (dek/yh)

 

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru