Destarata Raja yang Buta 

Reporter : Ibrahim
Ilustrasi, istimewa

Semarang,JatimUPdate.id - Dalam epik Mahabharata, Raja Hastinapura Wichitrawirya mempunyai dua orang anak yaitu Destrarata dan adiknya Pandu.

Sebenarnya mereka bukanlah anak biologis. Wichitrawirya wafat sebelum mempunyai keturunan. Satyawati, mertua Ambika, meminta Bhisma untuk melanjutkan garis keturunan wangsa Kuru. Namun Bhisma terikat sumpah untuk tidak menikah dan memiliki anak. 

Baca juga: Meneropong Regulasi Umrah Mandiri, Siapa Diuntungkan?

Satyawati akhirnya meminta anak kandungnya yang jadi Resi, Byasa. 

Resi Byasa dikenal memiliki wajah yang sangat buruk akibat laku tapa yang sangat keras. Satyawati mengirim kedua istri Wichitrawirya Ambika dan Ambalika menemui Resi Byasa untuk upacara putratpadana agar memperoleh keturunan. 

Saat Ambika memasuki ruangan upacara dan melihat wajah Resi Byasa yang sangat dahsyat dan mata sang resi yang menyala-nyala, Ambika ketakutan dan menutup kedua matanya. Sedangkan Ambalika memalingkan wajahnya.

Akibat menutup mata selama upacara, kelak Ambika melahirkan anak yang buta, dan Ambalika melahirkan anak yang miring kepalanya.

Karena Destrarata buta sejak lahir, kerajaan Hastinapura diserahkan kepada adiknya Pandu. Pandu menjadi raja tidak begitu lama. Ia keburu wafat saat lima orang anaknya belum dewasa. Kerajaan akhirnya diserahkan pada Destrarata. 

Destrarata naik takhta sebagai penjabat raja (regent) dan membesarkan lima putra Pandu, yang dikenal sebagai Pandawa, bersama dengan 100 putranya sendiri, yang dikenal sebagai Korawa. 

Sebagai pejabat pengganti raja, Destrarata ditemani Bhisma, sesepuh yang sakti mandraguna dan patriot yang selalu membela negara, serta Sanjaya, seorang yang memiliki kesaktian melihat sesuatu dari jauh dengan detail dan jelas.

Walaupun buta, Destrarata sebenarnya sangatlah kuat dan punya kesaktian seperti umumnya para kesatria. Ia mampu mengalahkan 10 ekor gajah dengan mudah, ia mampu menembak sasaran dengan tepat, ia mampu mendengar langkah orang dan mengidentifikasinya. 

Saat penobatannya sebagai raja Hastina akan digagalkan oleh Widura, paman Pandawa, ia marah besar dan kemarahannya mampu membakar dan mengguncang dinding-dinding istana. 

Baca juga: Analisis Lirik “Tangguh” Kobe: Semangat Perlawanan dari Jiwa yang Tak Mau Tumbang

Jadi mengapa tidak dari awal ia dinobatkan jadi raja? Para sesepuh dan para bijak wangsa Kuru melihat Destrarata bukanlah orang yang bijaksana. Ia terlalu ambisius dan pemarah. Ia tidak seperti adiknya Pandu yang pintar dan santun.

Destrarata sangat mencintai putra sulungnya, Duryudana. Cinta buta ini menjadi sumber dari semua konflik besar dalam Mahabharata. 

Duryudana adalah sosok yang ambisius, penuh iri dengki, pendendam, dan tidak adil terhadap sepupu-sepupunya: para Pandawa. Meskipun Destrarata sering kali menyadari ketidakadilan putranya, ia selalu gagal bertindak tegas. Ia membiarkan Duryudana memanipulasi dan menindas Pandawa. 

Kegagalan Destrarata untuk menindak tegas putranya akhirnya berujung pada Perang Baratayudha di Kurukshetra, perang besar yang menghancurkan seluruh garis keturunan Kuru dan memporakporandakan negeri Hastinapura.

Kisah Destrarata memberi pelajaran kepada kita. Pertama: Kebutaan Destrarata adalah metafora yang kuat untuk kebutaan moralnya. Meskipun ia memiliki posisi dan kekuasaan untuk menegakkan kebenaran, ia "buta" terhadap keadilan dan kebenaran demi cinta buta pada putranya. Ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin yang tidak memiliki kejernihan moral tidak akan bisa memimpin dengan efektif dan adil.

Kedua: Cinta Destrarata pada Duryudana melambangkan bahaya nepotisme dalam kepemimpinan. Dengan memprioritaskan kepentingan keluarga di atas kepentingan rakyat dan keadilan, ia menciptakan kondisi yang tidak stabil dan penuh konflik. Seorang pemimpin sejati harus mampu bertindak tanpa pandang bulu, bahkan jika itu berarti mengorbankan kepentingan pribadi atau keluarga demi kebaikan yang lebih besar.

Baca juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian III

Ketiga: Kurangnya Kemauan untuk Bertindak: Meskipun sering kali Destrarata mengetahui mana yang benar dan salah, ia selalu ragu-ragu dan gagal mengambil tindakan tegas. Ia membiarkan ketidakadilan merajalela, yang pada akhirnya menyebabkan kehancuran total. Ini mengajarkan bahwa integritas tanpa keberanian untuk bertindak tidak cukup untuk menjadi pemimpin yang baik. 

Kepemimpinan bukan hanya tentang memiliki moral yang benar, tetapi juga keberanian untuk menegakkannya.

Dalam kitab suci kita diminta untuk menggunakan pendengaran, penglihatan dan hati secara maksimal dalam menghadapi setiap situasi dan kondisi, mata dan telinga adalah alat menangkap informasi dan mengolahnya dalam hati.

Sebab di hati ada aqal agar berfikir dengan benar, di hati ada nurani, sehingga tindakan yang keluar dari diri kita sesuai dengan kehiendak-Nya.

*) Catatan Hepti M. Hakim 

Editor : Miftahul Rachman

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru