Forum Moeda Indonesia Soroti Tantangan Demokrasi Indonesia dan Masa Depan Partai Golkar

Reporter : Shofa
Diskusi Forum Moeda Indonesia

Jakarta, JatimUPdate.id – Forum Moeda Indonesia menggelar diskusi bertema “Kepemimpinan Bahlil, Masa Depan Golkar dan Arah Politik Indonesia” di Menteng, Jakarta, Kamis (25/9/2025). Dalam forum tersebut, Sekretaris Jenderal Forum Moeda Indonesia sekaligus Wakil Ketua Umum PP AMPG, Syaf Lessy, menekankan pentingnya menata kembali arah demokrasi Indonesia di tengah dinamika kepemimpinan Partai Golkar.

Syaf menjelaskan, sistem presidensial yang dianut Indonesia kerap menimbulkan ketegangan ketika dihadapkan pada realitas multipartai.

Baca juga: Bamsoet Dorong F- Partai Golkar Jadi Garda depan Penataan Sistem Partai Politik Perkuat Demokrasi dan Keadilan Sosial

“Dalam konteks komparasi politik, hampir semua ilmuwan sepakat sistem presidensial sebenarnya tidak ideal untuk negara dengan banyak partai. Fragmentasi politik sering menghambat proses check and balance,” ungkapnya. Ia menyoroti fenomena koalisi partai di Indonesia yang lebih fokus pada perebutan kursi kekuasaan ketimbang membangun oposisi yang sehat.

Ia menambahkan, bahkan negara yang dianggap matang secara demokrasi seperti Amerika Serikat pun mengalami kegagalan menjaga stabilitas politik. Syaf mencontohkan insiden penyerbuan Gedung Capitol pada Januari 2021 dan maraknya kekerasan politik sebagai bukti rapuhnya praktik demokrasi.

“Ini menjadi pelajaran bahwa demokrasi, sekuat apa pun, selalu menghadapi tantangan,” katanya.

Baca juga: Presiden Prabowo Tegaskan Kepastian Investasi, Akselerasi Hilirisasi, dan Jamin Stok Energi Nasional Aman

Dalam kesempatan yang sama, Syaf juga menyinggung dinamika internal Partai Golkar sebagai partai besar dengan sejarah panjang. Menurutnya, Golkar memiliki keunikan karena tidak ada pemegang saham tunggal, sehingga kompetisi internal menjadi bagian dari proses pendewasaan politik.

“Golkar adalah ibu dari semua partai. Banyak tokoh pendiri partai lain lahir dari rahim Golkar,” ujarnya.

Meski begitu, Syaf melihat munculnya sosok Bahlil Lahadalia sebagai sinyal perubahan dalam pola kepemimpinan Golkar. Kehadiran Bahlil dianggap mematahkan pandangan lama bahwa pucuk pimpinan hanya bisa diraih melalui kekuatan modal atau keturunan politik.

Baca juga: Rasisme Bukan Kritik: Membaca Prestasi Bahlil Lahadalia di Sektor Energi dan Tambang

“Bahlil mengajarkan bahwa siapa pun, tanpa latar belakang keluarga besar atau kapital besar, bisa menembus lingkaran kekuasaan,” tegasnya.

Forum diskusi tersebut menegaskan pentingnya generasi muda memahami dinamika politik nasional sekaligus menyiapkan kepemimpinan baru yang lebih inklusif. Syaf menilai, masa depan Golkar dan arah demokrasi Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan partai dan pemimpin muda untuk menyeimbangkan kekuasaan dan menjaga integritas demokrasi (*)

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru