Temuan Gas 5 TCF di Blok Ganal, Kaltim: Kabar Besar bagi Energi Indonesia

avatar Rio Rolis
  • URL berhasil dicopy
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia saat konferensi pers.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia saat konferensi pers.


Jakarta, JatimUPdate.id — Pemerintah mengumumkan penemuan cadangan gas besar di Blok Ganal, Kalimantan Timur, dengan potensi mencapai 5 triliun kaki kubik (Tcf).

Temuan ini dinilai menjadi kabar penting bagi penguatan pasokan energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi dalam negeri.

Penemuan tersebut berasal dari hasil pengeboran sumur Geliga-1 di Wilayah Kerja (WK) Ganal yang dioperasikan perusahaan energi ENI.

Selain gas, ditemukan juga potensi sekitar 300 juta barel kondensat.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menyebut temuan ini sebagai salah satu capaian penting sektor hulu migas Indonesia.

“Temuan ini menjadi sinyal positif bagi ketahanan energi nasional,” ujar Bahlil dalam konferensi pers, Senin (20/4).

Produksi Diproyeksikan Meningkat

Pemerintah memperkirakan produksi gas dari Blok Ganal akan meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Pada 2028, produksi ditargetkan mencapai sekitar 2.000 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dan dapat meningkat hingga 3.000 MMSCFD pada 2030.

Selain gas, produksi kondensat diproyeksikan mencapai 90 ribu barel per hari pada 2028 dan meningkat menjadi 150 ribu barel per hari pada 2029–2030.

Terhubung Infrastruktur Energi
Pengembangan Blok Ganal akan terintegrasi dengan proyek gas lain di Cekungan Kutai.

Produksi juga akan memanfaatkan fasilitas terapung (Floating Production Storage and Offloading/FPSO) serta infrastruktur yang sudah ada seperti Kilang LNG Bontang.

Sebelumnya, pemerintah juga mencatat temuan di sumur Gula dengan potensi sekitar 2 Tcf gas dan 75 juta barel kondensat.

Kedua temuan ini diperkirakan menambah kapasitas produksi gas nasional dalam jangka menengah.

Catatan Singkat Redaksi

Di tengah upaya transisi energi, gas bumi masih diposisikan sebagai energi peralihan. Namun, peningkatan eksplorasi migas tetap menimbulkan tantangan dalam menjaga keseimbangan antara ketahanan energi dan target penurunan emisi karbon. (berbagai sumber/rio/yh)