Akhmad Munir : Prof Bustami Rahman Mewariskan Semangat Pantang Menyerah Menghadapi Perjuangan Hidup

Reporter : Yuris. T. Hidayat
Foto Prof. Dr. Bustami Rahman. M.Sc. Guru Besar Fisip Universitas Jember yang juga pendiri sekaligus Rektor Pertama Universitas Bangka Belitung itu, Senin Sore pukul 16.35 telah wafat saat dirawat di Yogyakarta.

Jakarta, JatimUPdate.id - Senin Sore (17/11/2025) itu menjadi duka bagi setidaknya tiga institusi Perguruan Tinggi Negeri Terkemuka yaitu Universitas Gajah Mada, Universitas Jember dan Universitas Bangka Belitung saat putera terbaiknya Prof. Dr Bustami Rahman, M. Sc., menghembuskan nafas pengabdian terakhirnya di dunia.

Sejumlah grup whattsaps sejak Senin Sore (17/11/2025) hingga Selasa dini hari (18/11/2025) kala kabar duka dari berbagai daerah mengabarkan Prof Bustami, Alumnus Jurusan Sosiatri Fisipol UGM sekaligus Gelar Doktoral diraih disana, dan di Kampus Tegalboto, Fisipol Universitas Jember, torehan jejak pengabdian panjang tiada terbantahkan, serta upaya keras inisiasi pendirian Universitas Bangka Belitung, sebagai bagian dari Panggilan tugas Pengabdian untuk Tanah Kelahiran tercinta telah tertunaikan dengan sempurna.

Baca juga: In Memoriam Profesor Bustami Rahman (3): Kegelisahan Akan Peradaban

Berbagai grup pun ucapan duka cita tercurahkan menunjukkan betapa figur dan sosok Prof Bustami Rahman sangat lekat dengan para koleganya.

Senin malam itu, redaksi JatimUPdate.id secara khusus mendapat telpon dari Akhmad Munir, alumnus Program Studi Kesejahteraan Sosial, Fisip Universitas Jember Angkatan 1985 itu yang kini menjabat Direktur Utama LKBN Antara itu mengungkapkan rasa duka cita serta pengalaman pribadi dengan Sang Dosen panutan, Prof Bustami Rahman tersebut.

Bahkan, Cak Munir, begitu kalangan jurnalis di Jawa Timur memanggilnya tidak akan lupa, karena Sang Guru Besar Fisip yang juga Rektor Pertama Universitas Bangka Belitung itu telah menyempatkan menyampaikan ucapan selamat seraya memuji dan mewanti-wanti agar menjaga amanah, kala dirinya baru terpilih menjadi Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, awal September 2025 lalu.

"Waalaikumsalam adinda Yuris..
Wah, saya hanya bisa mengucapkan Selamat saja kepada Mas Munir. Bisa terpilih menjadi Ketum PWI Pusat adalah tokoh yg luar biasa. Sahabat saya dari Babel Tarman Azzam juga pernah menjadi Ketum PWI. Beliau juga tokoh hebat. Belum lagi BM Diah, Harmoko dan banyak lagi tokoh hebat.
Salam sajalah untuk Mas Munir semoga amanah dalam bertugas.
Aamiiin," ungkap Akhmad Munir, kembali mengutip wawancara Redaksi JatimUPdate.id dengan Prof Bustami Rahman kala itu.

Ucapan pendek dari Prof Bustami Rahman itu, kata Munir, sangat membekas seolah menjadi pesan dan amanah yang mesti dijaganya.

"Beliau seolah tahu betapa beratnya menjaga amanah Ketua PWI Pusat itu, meski demikian Prof Bustami juga tetap memberikan semangat dan motivasi besar bahwa banyak tokoh besar lahir dari jalur wartawan tersebut bila mampu menjaga dignity-nya dan menorehkan prestasi," ungkap Cak Munir saat berkomunikasi dengan Redaksi JatimUPdate.id pada Selasa dini hari (18/11/2025) itu.

Prof Bustami : Jangan Pernah Menyerah Menghadapi Ujian Hidup

Secara khusus, Akhmad Munir menceritakan sebuah peristiwa luar biasa dalam perjalanan hidupnya yang telah mampu membuatnya untuk tidak pernah menyerah dalam meraih mimpi dan cita-cita.

"Kata-kata jangan pernah menyerah selalu terngiang-ngiang yang Pak Bustami tancapkan dalam hati dan pikiran saya pada akhir 1990-an, kala saya mencoba peruntungan mengikuti seleksi dosen jurusan KS [Kesejahteraan Sosia] Fisip Unej tersebut," kata Cak Munir memulai kisah nya.

Secara khusus, pria kelahiran Sumenep Madura itu mengungkapkan pada akhir 1990 an, seusai dirinya meraih gelar strata satu dari Fisip Unej itu, dirinya mengikuti seleksi penerimaan Dosen dimana ada formasi menjadi tenaga pengajar di jurusannya.

"Mengikuti seleksi dosen KS kala itu bahasanya bondho nekat, kalau menyitir bahasa arek-arek Suroboyo itu, meski demikian persiapan juga tetap dilakukan. Seleksi berjalan sangat ketat karena peminatnya cukup banyak," ujar Mantan Ketua PWI Jatim itu.

Baca juga: In Memoriam Profesor Bustami Rahman (2): Menjadi Benchmark Akademis

Seleksi tahap pertama yang berupa test kemampuan akademik dikuti sekitar 500 peserta untuk berebut empat formasi Dosen di empat jurusan (KS, HI, AN dan  Adni) yang ada di Fisip Universitas Jember itu.

"Alhamdulillah, seleksi tahap pertama, saya lolos bersama 60 peserta lainnya. Dan saat lolos tahap pertama itulah, saya berjumpa dengan rekan satu angkatan beda jurusan, Alm Agus Toha yang kemudian mengajak berkunjung ke rumah Pak Bustami Rahman di Arjasa," kenang Mantan Kabiro Antara Jawa Timur itu mengenang koleganya Agus Toha yang juga wartawan dan telah meninggal pada 2012 itu.

Bersama Agus Toha, akhirnya, Cak Munir bersilaturahmi dengan dosen favoritnya, saat masih mengenyam bangku kuliah di kampus Tegalboto tersebut.

"Prof Bustami merupakan dosen favorit kebanyakan mahasiswa KS, jangankan jurusan KS, jurusan lainnya sering ikut mengikuti mata kuliah yang diampu beliau. Prof Bustami kalau mengajar itu mampu membuat mahasiswanya itu menjadi terinspirasi dan menjadi semakin terbuka cakrawala keilmuannya. Tutur bahasanya sangat mengesankan, sering diselingi humor sehingga mata kuliah yang ditempuh bisa tak terasa waktunya, tidak menjemukan saat mengikutinya," tegasnya mengenang saat mengikuti Kuliah Prof Bustami.

Saat sesampai dirumah komplek dosen di Kecamatan Arjasa, Prof Bustami mempersilahkan Cak Munir dan Agus Toha untuk memasuki rumah.

"Mas Munir, jangan pernah menyerah, tetap berupaya maksimal ya, semua Takdir Allah SWT yang menentukan. Pokoknya jangan kendor semangat ya. Saya akan back up total agar Mas Munir bisa lolos seleksi jadi Dosen KS dengan cara yang elegan," kata Prof Bustami menyemangati kala itu.

Baca juga: In Memoriam Profesor Bustami Rahman (1): Api nan Tak Pernah Padam

Memasuki test tahap kedua yang berisi psikotest, dengan berbekal arahan dan latihan soal psikologi, semua bisa dijalani dengan lancar.

"Dukungan support moril dari Prof Bustami ternyata membuat saya semakin semangat, alhamdulillah test psikologi bisa diselesaikan dan saya lolos seleksi dan tersisa 8 orang, alias masing-masing jurusan tersisa 2 orang pelamar. Di KS saingan saya, alm Mas Paeran," ungkap Akhmad Munir dengan nada bangga.

Pasca lolos seleksi tahap kedua, Alm Agus Toha kembali mengantarkan ke rumah Prof Bustami lagi.

"Mas Munir, kini tersisa dua orang, mesti semakin semangat ya, tidak perlu berkecil hati, beberapa hal teknik mengajar dan materi ajar harus dikuasai, InsyaAllah itu akan membuat test tahap berikutnya bisa dilalui," kenang Cak Munir.

Meski, akhirnya proses seleksi dosen tidak menghantarkan Akhmad Munir jadi staf pengajar, namun pembelajaran untuk tidak pernah menyerah dari Prof Bustami menjadikan bekal dalam mengarungi persaingan dunia kerja.

"Akhirnya Dosen KS Fisip Unej memang bukan jodoh saya, Alm Mas Paeran yang akhir diterima, meski demikian Prof Bustami tetap memberikan motivasi dan catatan sisi kurang saya agar kedepan diperbaiki. Toh demikian dunia jurnalis khususnya di LKBN Antara menjadi medan pengabdian saya dan itu semua tidak lepas dari motivasi luar biasa dari Prof Bustami. Selamat Jalan Prof Bus, kami semua selalu merindukan dan mengenang semua nasehat Prof Bustami," tutup Akhmad Munir mengakhiri wawancara via phone dengan redaksi JatimUPdate.id. (yh/ya)

Editor : Yoyok Ajar

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru